Coffee Break

Perpustakaan Dewan

SAYA yakin para yang mulia anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia itu para pembaca buku sejati. Mereka adalah manusia-manusia pilihan

Perpustakaan Dewan
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SAYA yakin para yang mulia anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia itu para pembaca buku sejati. Mereka adalah manusia-manusia pilihan, dengan gagasan dan pemikiran yang selalu mengagumkan, maka sangat masuk akal kalau mereka orang-orang yang lahap membaca buku, mempunyai selera membaca yang tinggi, mampu melumat buku tebal dalam dua atau tiga hari.

Kalaupun ada perkiraan bahwa minat baca orang Indonesia sangat rendah, yakni konon dengan perbandingan hanya satu dari seribu orang yang senang membaca buku, saya percaya para yang mulia anggota dewan tergolong pada yang satu orang itu.

Dengan demikian, rencana pembangunan perpustakaan DPR yang megah dan besar itu patutlah kita dukung seratus persen. Tanpa syarat. Apalagi mereka yang secara teguh pendiriannya untuk membangun perpustakaan itu adalah jajaran pimpinan dewan sendiri.

Simak saja pendapat Yang Mulia Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, misalnya, berikut ini: "Pembangunan perpustakaan DPR bukan hal yang mengada-ada. Proyek ini sudah disetujui dalam rapat paripurna. Rencana besar itu sudah disetujui di rapat paripurna dan masyarakat juga sudah tahu. Pembangunan perpustakaan baru yang dirancang megah dan terbesar di Asia Tenggara ini penting karena merupakan bagian dari sistem pendukung bagi anggota DPR. Gedung parlemen itu harus ada data kelengkapannya, harus ada perpustakaannya. Kondisi perpustakaan lama sudah tidak layak. Koleksi buku-bukunya terikat dan dibiarkan menumpuk di lantai. Walaupun berada di kompleks DPR, tempatnya terpencil sehingga susah diakses. Perpustakaan yang lama ada, tapi mirip perpustakaan ketua RT. Jadi, kami ingin perpustakaan parlemen itu konsepnya perpustakaan nasional."

Sangat cerdas dan logis, bukan?

Yang Mulia Wakil Ketua DPR Fadli Zon juga berpendapat senada: "Saat ini DPR memang sudah memiliki perpustakaan dan museum. Namun, kedua fasilitas tersebut tidak layak sehingga sepi pengunjung. Perpustakaan yang sekarang itu cuma level kecamatan. Perpustakaan yang ada saat ini sebenarnya sudah banyak memiliki buku-buku berkualitas, seperti yang didatangkan dari Volksraad. Sayangnya, tidak ada tempat yang cukup untuk menampung buku-buku tersebut. Buku-buku itu cuma ditaruh di ruangan, diikat pakai tali rafia. Setelah dibangun ulang, perpustakaan itu nantinya akan ramai pengunjung, tidak akan terbengkalai seperti saat ini. Kalau kita bikin nyaman, pasti banyak yang datang, mulai dari anggota DPR, tenaga ahli, masyarakat umum, sampai orang asing juga boleh menggunakan fasilitas yang ada di sana."

Sama cerdas dan logisnya, bukan?

Hanya berbeda sedikit. Kalau Fahri menyetarakan perpustakaan DPR dengan perpustakaan ketua RT, Fadli menyamakan levelnya dengan perpustakaan kecamatan. Namun, baik level ketua RT maupun level kecamatan, kalau benar seperti itu, tentu memalukan!

(Eh, omong-omong, berapa banyak ketua RT atau kecamatan yang punya perpustakaan sebesar perpustakaan DPR?)

Kedua pendapat itu didukung oleh Yang Mulia Ketua DPR Ade Komarudin: "Saya siap menghadapi pihak-pihak yang menolak pembangunan perpustakaan. Saya siap menghadapi baik dari luar maupun dari dalam DPR, bahkan jika pemerintah yang menolak. Kita harus membandingkannya dengan Library of Congress di Amerika Serikat. Perpustakaan ini bukan hanya untuk anggota DPR, tetapi juga untuk simbol intelektual bangsa. Saya tidak ambil pusing bila ada yang menilai rencana pembangunan perpustakaan ini hanya akal-akalan. Silakan. Mau ngomong apa saja, emang gue pikirin. Kegemaran membaca belum merata di masyarakat, termasuk anggota DPR. Ada yang hobi membaca buku, ada pula yang tidak. Negara susah maju karena enggak doyan buku."

Nah, sangat heroik, bukan? Apa lagi yang perlu diragukan dari pendapat mereka? Saya yakin pemikiran cerdas mereka keluar karena kebiasaan mereka membaca buku. Secara pribadi, setiap anggota DPR sudah pasti punya perpustakaan sendiri di rumah masing-masing, dengan ruangan dan rak-rak buku yang khusus, berisi deretan buku tebal di balik pintu kaca yang terkunci. Bukan tidak mungkin pula ada yang membangun gedung perpustakaan tersendiri berisi ribuan buku koleksi mereka.

Jadi, sekali lagi, kita harus mendukung pembangunan perpustakaan DPR. Bahkan kalau memungkinkan, bangunlah perpustakaan yang tidak hanya terbesar dan termegah di Asia Tenggara, tapi juga di Asia. Lebih yahud lagi kalau terbesar di dunia. Kenapa tidak?

Perkara apakah nantinya para yang mulia anggota dewan itu jadi rajin membaca di perpustakaan, hmm, emang gue pikirin. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved