Cerpen Astuti Parengkuh

Mawar Putih di Batu Candi

TUBUHMU menyimpan jutaan buluh rindu kepada seseorang dari masa lalu. Kau berjalan ke arah deretan kursi berwarna hijau daun.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Mawar Putih di Batu Candi 

Kini setelah waktu berjalan dan masa berlalu, tiba-tiba pesan yang datang ke ponsel telah membawa langkahmu meninggalkan Kota Jakarta yang membesarkan kariermu. "Serius kau mau ambil cuti seminggu di desa itu?" tanya sejawatmu. "Yakin dia akan berubah dan menyesali keputusannya, memintamu untuk menemuinya?" ujarnya lagi.

Tak kaugubris omongannya. Bukankah semua telah berubah. Termasuk perubahan prinsip hidupmu yang lebih memilih meninggalkan kata sendiri. Tiga tahun lalu, kauputuskan menerima pinangan laki-laki lain yang telah menunggumu. "Aku masih merindukannya. Bahkan sampai hari ini. Brengsek, bukan?" Pertanyaan bernada retoris kepada temanmu diabaikannya.

Tibalah saat itu. Waktu yang mengantarkan kau datang dan mengetuk pintu. Kau berharap laki-laki itu, mungkin bersama istrinya, akan membukakan pintu dan menyambutmu. Tengah kaubayangkan teriakan ceria anak-anak mereka. Atau, sepasang orang tua yang telah pensiun dari profesi diplomat dan mengenalmu sangat dekat.

Dua batang cokelat yang kaubawa serta sebuah kado boneka tengah kaujinjing untuk anak-anak Abi. Manisan buah buatan Ibu juga tengah kausiapkan sebagai bingkisan. Beserta selarik ucapan rasa rindu dari sebuah keluarga yang pernah bertetangga. "Pastikan kau katakan kepada ibunda Abi, Ibu kangen kepada mereka," pesan ibumu terus-menerus terngiang di telinga, seperti suara lebah madu yang hidup di pohon-pohon tinggi hutan tropis.

Kepada Abi, laki-laki teduh dengan kedung di dua kelopak mata dan pandangan pucat seperti awan. Aih, engkau telah memimpikan wajahnya semalam. Engkau bayangkan Abi yang sekarang adalah Abi berpipi gembil dengan bulu-bulu cambang yang liar, khas kebapakan. Dan rambut yang dia biarkan sedikit gondrong, karena dari mulutnya pernah terlontar jika dia sebenarnya ingin memanjangkan rambut jika ritual pengobatan kemoterapi selesai dilakukan. Tapi entah, hingga hitungan belasan kali malah, kemoterapi-kemoterapi itu telah melenyapkan nyaris semua rambut di kepala. Dan waktu itu kau melihat Abi lebih nyaman memakai kopiah dari bahan rajutan buah karya ibumu.

"Kau terlambat, Runa. Abi telah dimakamkan sore kemarin. Maafkan kami," pelukan ibunda Abi nyaris membuatmu jatuh pingsan. "Maafkan kami pula, karena telah menjodohkan Abi dengan Katrin, sama-sama pasien kanker di rumah sakit, di mana mereka dulu tengah dirawat. Katrin lebih mendahuluinya pergi. Setahun lalu," perempuan sepuh itu masih dengan kata-kata. "Abi ingin dimakamkan di sini, di desa ini. Karena di hari-hari terakhir yang diingatnya adalah engkau. Namamu selalu terucap."

Hari itu pula, telah kauputuskan untuk mengunjungi makam Abi, dengan membawa setangkai mawar putih yang kaupetik dari taman batu candi. Kau bersimpuh sambil berdoa di tanah yang masih memerah. Beberapa jenak. Hingga usai dan melangkah gontai sampai kaubaca sebuah pesan pendek yang muncul di layar ponselmu. "Mommy kapan pulang? Aku kangen."

Di layar tertulis nama suamimu.

***

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved