Breaking News:

Cerpen Astuti Parengkuh

Mawar Putih di Batu Candi

TUBUHMU menyimpan jutaan buluh rindu kepada seseorang dari masa lalu. Kau berjalan ke arah deretan kursi berwarna hijau daun.

Ilustrasi Cerpen Mawar Putih di Batu Candi 

Tibalah di hari itu. Hari yang sama sekali tak diharapkan olehmu. Perpisahan dengan Abi, laki-laki yang telah meninggalkan bekas sembilu pada sayat-sayat luka karena rasa yang terpendam, tak terungkapkan. "Kau tahu, ayahku akan melakukan apa saja demi kesembuhanku. Pun ketika apa yang menjadi harapannya pupus, tatkala aku harus menjalani rangkaian pengobatan lagi. Runa, aku harus pergi. Papaku akan membawa kami ke luar negeri," tutur Abi di tengah isak tangis yang kautahan.

"Kau, berjanjilah untuk pulang kemari. Kita berdua akan menikmati matahari tenggelam di sela-sela batu candi. Atau menunggu kemunculannya di tengah gigil dinginnya udara. Kau, berjanjilah pulang untukku. Kita akan menanam mawar-mawar putih yang tumbuh di candi, untuk rumah kita kelak," katamu tak tertahan. Isak tangis itu pecah di tengah anggota dua keluarga yang telah siap mengucapkan salam perpisahan.

Rintik hujan yang datang tak mengenal musim di desamu menjadi saksi saat mobil keluarga itu membawa pergi Abi. Ada rasa kehilangan yang tercerabut di dalam jiwa. Hari-harimu di kemudian penuh dengan pesan-pesan pendek, sebagai ungkapan kerinduan. Hingga tiba pada suatu masa, kau sama sekali tak mendengar kabarnya. Abi, laki-laki yang telah menjadi pengharapan hidupmu tak lagi bisa terhubung.

Kau sempat memendam rasa tak percaya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan bayang Abi. Musim berganti musim. Bahkan ketika kau dan keluargamu tak lagi tinggal di desa, lalu memilih belantara Jakarta untuk mencari penghidupan baru, dari sekadar anak seorang pedagang cengkih. Apalagi ketika tak ada lagi nenek dan kakekmu yang butuh perawatan usia lanjut hingga akhirnya meninggal dan rumah tinggal dilego.

Banyak kenangan tersimpan dalam ingatan. Mawar-mawar putih di taman batu candi menjadi saksi bagaimana engkau dulu menghabiskan masa kecil dengan penuh kegembiraan.

Kini setelah waktu berjalan dan masa berlalu, tiba-tiba pesan yang datang ke ponsel telah membawa langkahmu meninggalkan Kota Jakarta yang membesarkan kariermu. "Serius kau mau ambil cuti seminggu di desa itu?" tanya sejawatmu. "Yakin dia akan berubah dan menyesali keputusannya, memintamu untuk menemuinya?" ujarnya lagi.

Tak kaugubris omongannya. Bukankah semua telah berubah. Termasuk perubahan prinsip hidupmu yang lebih memilih meninggalkan kata sendiri. Tiga tahun lalu, kauputuskan menerima pinangan laki-laki lain yang telah menunggumu. "Aku masih merindukannya. Bahkan sampai hari ini. Brengsek, bukan?" Pertanyaan bernada retoris kepada temanmu diabaikannya.

Tibalah saat itu. Waktu yang mengantarkan kau datang dan mengetuk pintu. Kau berharap laki-laki itu, mungkin bersama istrinya, akan membukakan pintu dan menyambutmu. Tengah kaubayangkan teriakan ceria anak-anak mereka. Atau, sepasang orang tua yang telah pensiun dari profesi diplomat dan mengenalmu sangat dekat.

Dua batang cokelat yang kaubawa serta sebuah kado boneka tengah kaujinjing untuk anak-anak Abi. Manisan buah buatan Ibu juga tengah kausiapkan sebagai bingkisan. Beserta selarik ucapan rasa rindu dari sebuah keluarga yang pernah bertetangga. "Pastikan kau katakan kepada ibunda Abi, Ibu kangen kepada mereka," pesan ibumu terus-menerus terngiang di telinga, seperti suara lebah madu yang hidup di pohon-pohon tinggi hutan tropis.

Kepada Abi, laki-laki teduh dengan kedung di dua kelopak mata dan pandangan pucat seperti awan. Aih, engkau telah memimpikan wajahnya semalam. Engkau bayangkan Abi yang sekarang adalah Abi berpipi gembil dengan bulu-bulu cambang yang liar, khas kebapakan. Dan rambut yang dia biarkan sedikit gondrong, karena dari mulutnya pernah terlontar jika dia sebenarnya ingin memanjangkan rambut jika ritual pengobatan kemoterapi selesai dilakukan. Tapi entah, hingga hitungan belasan kali malah, kemoterapi-kemoterapi itu telah melenyapkan nyaris semua rambut di kepala. Dan waktu itu kau melihat Abi lebih nyaman memakai kopiah dari bahan rajutan buah karya ibumu.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved