Sorot

Teknologi Dianggap Ancaman

Kudu bisa ngigelan jaman, begitu kalimat arif dari Tanah Sunda.

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Machmud Mubarok, Wartawan Tribun. 

Oleh: Machmud Mubarok, Wartawan Tribun

DULU, warung telepon atau wartel merupakan sarana penghubung silaturahmi yang mengasyikkan. Setiap saat, wartel selalu penuh dikunjungi para pelanggan.

Apalagi di malam minggu, orang rela mengantre hanya untuk menelepon, entah keluarganya, entah kekasihnya. Tak heran, usaha wartel ini menjadi bisnis yang menggiurkan dan menjanjikan.

Tapi itu dulu. Ketika teknologi kian berkembang dan muncul telepon genggam yang kian hari kian pintar, warung telepon pun karam.

Kemudahan teknologi membuat siapa pun tak perlu lagi mengantre di wartel untuk menelepon. Pengusaha-pengusaha wartel kelimpungan karena bangkrut. Adakah saat itu demo besar-besaran yang dilakukan para pengusaha wartel? Tidak.

Hal yang sama juga menimpa telepon umum, kamera jadul dengan rol film, mesin tik, dan sebagainya. Alat-alat itu semua tergantikan oleh yang baru, yang lebih maju dalam hal teknologi. Apakah para pemilik dan pengguna alat-alat itu protes? Tidak.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Hari berganti hari, bulan, tahun, windu, abad. Tidak ada yang tidak berubah atau abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Karena itu, kita akan sulit membendung perubahan itu.

Yang harus dilakukan adalah inovasi, mengikuti perkembangan zaman. Bukan mengutuki kegelapan, tapi yang dilakukan adalah menyalakan lilin. Bukan menghindari hujan, tapi menari bersama turunnya hujan. Kudu bisa ngigelan jaman, begitu kalimat arif dari Tanah Sunda.

Itu sesungguhnya yang harus dilakukan operator taksi konvensional ataupun angkutan umum lainnya menghadapi perubahan zaman ini.

Harga murah dan pelayanan prima saja tidak cukup, harus ada terobosan lain yang ditempuh, agar bisa tetap bertahan, tak aus digerus teknologi.

Ketika teknologi baru sudah dianggap menjadi ancaman bagi pemain lama, tentu saja akan ada riak-riak kegelisahan, galau, protes, bahkan demonstrasi, karena urusan periuk nasi terganggu.

Sama halnya ketika taksi biru Blue Bird pertama kali muncul di beberapa kota, protes bermunculan dari pemain-pemain lama.

Blue Bird tak boleh mencari penumpang di sejumlah titik, tempat taksi lama mangkal. Tapi setelah beradaptasi dengan aturan dan lingkungan pertaksian, dan terlebih kepercayaan pelanggan terhadap layanan taksi biru itu, pada akhirnya protes reda dan kehadirannya menambah pilihan bagi konsumen.

Begitu pula saat ini, kehadiran Grab dan Uber tak harus menjadikan taksi konvensional galau. Justru inilah tantangan terbesar yang harus dilakoni, menjawab tantangan zaman, agar bisa bertahan bermain di jasa transportasi.

Namun di sisi lain, memang peran pemerintah juga sangat sentral untuk mengontrol munculnya pemain- pemain baru. Persoalannya, aturan di negeri ini memang lambat dibuat sekaligus lambat diterapkan. Sejauh ini, belum ada aturan yang menata taksi online atau moda transportasi sejenis.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved