Breaking News:

Coffee Break

Ani Yudhoyono

BEBERAPA hari pekan lalu media sosial sempat ramai oleh munculnya gambar Kristiani Herrawati mengenakan blazer biru sedang melambaikan tangan ...

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ani Yudhoyono
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

BEBERAPA hari pekan lalu media sosial sempat ramai oleh munculnya gambar Kristiani Herrawati mengenakan blazer biru sedang melambaikan tangan sambil tersenyum, dengan latar belakang bendera merah putih tengah berkibar dan tulisan putih menonjol "Ani Yudhoyono" diikuti di bawahnya tulisan putih dengan huruf-huruf berukuran lebih kecil "Calon Presiden Partai Demokrat 2019".

Oh, ya, bagi yang lupa atau mungkin belum tahu, Kristiani Herrawati memang nama asli Ani Yudhoyono.

Benarkah Ani sudah resmi diusung Partai Demokrat untuk menjadi bakal calon presiden mendatang? Ruhut Sitompul, yang punya hobi bicara blakblakan dan masih menunjukkan loyalitas kepada keluarga Cikeas, menegaskan bahwa foto yang beredar di media sosial itu memang dibuat oleh tim DPP Partai Demokrat.

Menurut Ruhut, masyarakat yang ditemui dalam kunjungan "Tour de Java" SBY sebenarnya meminta sang mantan presiden untuk maju kembali sebagai capres. Namun, SBY, yang sudah 10 tahun memimpin pemerintahan republik ini, menyadari aturan tidak memungkinkan untuk maju kembali hingga periode ketiga. "Rakyat kita yang sudah sangat cerdas ini, ya mereka mengatakan, 'Kalau memang Bapak enggak, ya apa salahnya Ibu Ani?' Itu rakyat yang meminta," ucap Ruhut, tanpa menjelaskan "rakyat" yang mana.

Pernyataan berbeda justru diungkapkan juru bicara Partai Demokrat Rahlan Nashidik. Ia membantah bahwa "Tour de Java" yang dilakukan Ketua Umum Demokrat dan sejumlah kadernya bertujuan mempromosikan Ani sebagai kandidat calon presiden RI pada Pilpres 2019. "Tour de Java untuk mempromosikan Ibu Ani? Tidak," kata Rahlan.

Perbedaan antara Ruhut dan Rahlan tentu bukan soal besar. Perbedaan seperti itu biasa dalam hiruk-pikuk politik di negeri ini. Malah menjadi semacam bumbu penyedap. Yang jelas, (orang- orang) Partai Demokrat tampaknya sudah mulai banyak bersuara lagi, setelah sekian lama puasa bicara.

Tokoh lain partai biru itu yang beberapa tahun lalu sering muncul di media, Nurhayati Assegaf, bahkan berani bilang Ani lebih hebat daripada Hillary Clinton. Yup, ketika nama Ani mulai digadang-gadang Partai Demokrat sebagai calon presiden 2019, tampaknya orang mulai membanding-bandingkan Ani dengan Hillary. Wajar, sih. Keduanya memang mirip, yakni sama- sama mantan ibu negara dari suami yang sama-sama menjabat presiden dua periode. Bedanya, peran Hillary jauh lebih menonjol dibanding Ani. Pada masa pertama pemerintahan Barack Obama, Hillary menjadi menteri luar negeri, sedangkan Ani tetap menjadi ibu rumah tangga.

Di media sosial malahan sempat dimunculkan kemiripan lain: baik SBY maupun Bill Clinton sama-sama pernah bermasalah dengan wanita idaman lain. Clinton pernah terlibat asmara terlarang dengan Monica Lewinski, sedangkan SBY diisukan sempat beristrikan wanita lain sebelum menikah dengan Ani. Bedanya, Clinton mengakui perselingkuhannya dan Hillary, meski pastilah dengan hati tersayat-sayat, membela sang presiden dari upaya pemakzulan oleh parlemen, sedangkan baik SBY maupun Ani sama-sama membantah isu tersebut.

Lepas dari benar tidaknya SBY pernah menikah sebelum dengan Ani, sejumlah kalangan menilai Ani memiliki peluang besar untuk menjadi kandidat orang nomor satu negeri ini. Seorang peneliti senior dan spesialis monitoring media, Dian Permata, mengatakan, dalam konteks pemilihan presiden, sosok Ani patut diperhitungkan. Menurut Dian, secara darah untuk perpolitikan Ani memilki modal: ia anak Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo. Kekuatan lainnya, kata Dian, karena Ani 10 tahun mendampingi SBY, wajahnya dipastikan dikenal publik.

Gede Pasek Suardika, orang Demokrat yang juga salah seorang loyalis Anas Urbaningrum, pun menilai Ani memiliki kapasitas sebagai presiden. Menurut dia, SBY adalah seorang ahli strategi yang pasti sudah memikirkan hal ini. Pasek meramalkan Ani akan menjadi pesaing berat Jokowi karena berpengalaman mendampingi SBY dua periode.

Pada periode SBY menjadi presiden, kata Pasek, Ani memiliki pengaruh dalam keputusannya. "Dulu, kan, boleh dikatakan secara politis Bu Ani is the real president. Nanti akan bisa jadi presiden real. Maknailah secara politik. Kalau dulu, kan, beda tipis sama Ibu Tien," katanya.

Entahlah, apakah Pasek secara tidak langsung sedang menyanjung atau sebaliknya. Kata-kata "Bu Ani is the real president" bisa saja kita maknai lain, misalnya "SBY is the unreal president".

Atau jangan-jangan benar bahwa selama 10 tahun negeri ini pernah dipimpin oleh seorang presiden yang tidak nyata? (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved