Sorot

Parah, Makin Parah, Terparah

BANJIR yang melumpuhkan Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang serta belasan kecamatan lainnya.

Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Ferri Amiril Mukminin, Wartawan Tribun. 

BANJIR yang melumpuhkan Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang serta belasan kecamatan lainnya di Kabupaten Bandung, Minggu (13/3/2016), disebut sebagai banjir terparah dalam sepuluh tahun terakhir.

Banjir yang mengakibatkan korban jiwa ini juga mengakibatkan banyak warga harus mengungsi.

Setahun yang lalu pernyataan banjir terparah juga sempat muncul di kawasan langganan banjir ini.

(lihat juga: VIDEO: Psikolog Beri Trauma Healing Anak-anak Korban Pelecehan Seksual di Garut)

Demikian pula dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain setiap tahunnya banjir makin parah dengan intensitas keparahan yang dibuktikan dengan adanya kawasan baru yang ikut terendam.

Parah, makin parah, terparah. Tiga urutan kata yang mewarnai bencana yang hampir terjadi setiap tahunnya.

Tahun ini dari tiga kecamatan meningkat menjadi lima belas kecamatan. Demikian yang dikemukakan Badan Penanggulangan Bencana.

(lihat juga: VIDEO: Detik-detik Penandatanganan Kontrak Pemain Persib Bandung)

Secara angka dari tiga kecamatan menjadi lima belas kecamatan berarti banjir ini meningkat lima kali lipat dari tahun sebelumnya.

Lonjakan yang membuat kaget semua pihak. Minggu kemarin jalur distribusi bantuan sempat terhambat karena suasana sedang libur.

Meningkatnya luas wilayah baru yang ikut terendam, disebut karena tingginya laju sedimentasi yang terjadi di Sungai Citarum.

Warga yang tinggal di kawasan bantaran sungai ini setiap tahunnya selalu terimbas air akibat meluapnya Citarum.

(lihat juga: VIDEO: Pemain Pengganti yang Beri Dampak Positif bagi Timnya, Ubah Situasi Permainan)

Apakah selama musim kemarau pemerintah diam? Ternyata tidak juga. Selalu ada anggaran setiap tahunnya untuk pengerukan dan pencegahan banjir di Sungai Citarum ini.

Hal tersebut bisa kita lihat dari alat berat yang selalu mengapung, mengeruk, dan beroperasi di titik-titik yang dianggap mengalami sedimentasi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved