Coffee Break

Dhani

NAMA Dhani, dengan berbagai variasinya, mungkin tidak akan langsung membawa pikiran kita kepada seseorang.

Dhani
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

NAMA Dhani, dengan berbagai variasinya, mungkin tidak akan langsung membawa pikiran kita kepada seseorang. Ada Dani Alves, pesepak bola asal Brasil yang berkostum klub Barcelona. Ada Danny Setiawan, mantan gubernur Jawa Barat. Di SMA saya punya teman SMA yang akrab dipanggil Dhani, lengkapnya Siti Fardhani. Lalu saat kuliah ada teman bernama Dhani Herdiwijaya, yang sekarang doktor dan staf pengajar di ITB.

Tapi kalau ditambah dengan Ahmad, menjadi Dhani Ahmad, pastilah namanya dikenal oleh sebagian besar rakyat republik ini. Ahmad Dhani memang pesohor yang sangat terkenal. Dia—sebetulnya tak perlu dijelaskan lagi—seorang pemusik, pencipta lagu, pengaransemen, dan produser. Kalau dideretkan, daftar prestasinya pasti sepanjang kereta api. Dia pendiri dan pemimpin grup musik Dewa 19, salah satu band paling sukses di Indonesia sepanjang dekade 1990-an dan 2000-an. Ia juga mencetak beragam karya yang berhasil mengorbitkan banyak penyanyi dan grup musik, termasuk Maia, Agnes Monica, Alexa Key, dan Mulan Jameela. Dhani Ahmad juga pendiri dan pemimpin Republik Cinta Management. Majalah MTV Trax edisi perdana tahun 2002 menobatkan Dhani sebagai salah satu "25 Musisi/Grup Paling Berpengaruh dalam Musik Indonesia". Majalah Rolling Stone juga menempatkannya ke daftar "The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa". Dan Wikipedia menulis Dhani sebagai "salah satu pemusik paling berpengaruh di Asia Tenggara".

Eh, nama sebenarnya Dhani Ahmad atau Ahmad Dhani? Mungkin tidak penting. Dibolak-balik, tetap saja dekok, eh, maksud saya... tetap orang yang sama. Berbeda, misalnya, dengan Sandra Dewi dan Dewi Sandra, yang jelas dua wanita yang berbeda.

Bagi yang belum banyak tahu, Ahmad Dhani lahir di Surabaya, 26 Mei 1972, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Eddy Abdul Manaf bin Rusta Sastra Atmadja (seorang diplomat berdarah Sunda, asal Garut, Jawa Barat) dan Joyce Theresia Pamela Kohler, seorang Indonesia keturunan Jerman. Leluhurnya, Jan Pieter Friederich Kohler, adalah keturunan Jerman yang lahir di Hindia Belanda pada tahun 1883.

Selain prestasinya, deretan kontroversinya tak kalah panjang dengan kereta api. Hubungannya dengan Maia dan kemudian dengan Mulan selalu menjadi santapan para pencinta tayangan entertainment. Dia pernah "membiarkan" salah satu anaknya yang baru berumur 13 tahun mengemudikan mobil dan menewaskan tujuh orang—tapi si bocah, dan kakak-kakaknya, tampaknya memiliki jalan nasib yang semulus sang bapak di dunia pentas.

Deretan panjang kontroversinya kerap muncul karena celotehannya di Twitter. Menjelang pilpres 2014, ia pernah berpakaian mirip seragam tentara SS Nazi dalam kampanye Prabowo-Hatta. Dia juga sesumbar bahwa jika Jokowi menang dalam pilpres, ia akan memotong kemaluannya sendiri. (Tapi setelah ramai jadi bahan pergunjingan media sosial, dia membantah cuitannya itu.) Tak lama setelah Jokowi-JK mengumumkan Kabinet Kerja, Dhani Ahmad berulah dengan membentuk kabinet tandingan. Ia mendirikan Kementerian Seni dan Industri Kreatif yang juga ia sebut sebagai kementerian "bayangan".

Dia memang aktif bercuit. Tak ketinggalan soal agama, misalnya seperti ini: "Manusia sebelum ADAM adalah manusia setengah purba. Banyak yang percaya ADAM lahir dari rahim seorang wanita, bukan proses bimsalabim." Atau seperti ini: "Imam Khomeini jelas shohih keturunan Nabi Muhammad SAW, yang lain gak jelas, dan gak shohih."

Tentang politik, agama, atau apa saja, cuitan Ahmad Dhani selalu mendapat respons yang riuh. Banyak yang mencercanya. Tapi mungkin juga banyak yang membelanya, entahlah. Menanggapi cuitan dia, kok, rasanya seperti ikut-ikutan gila. Oh, ya, kontroversinya makin seru ketika ia terlibat perang kata-kata dengan Farhat Abbas. Hmmm, dua orang ini kelasnya memang sebelas- dua belas.

Kontroversi terbaru tentang Dhani Ahmad adalah niatnya untuk maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Dia bahkan sudah menyiapkan sejumlah program, antara lain membuat jalur bus Transjakarta di bawah tanah, menertibkan para pengemudi metromini dan angkot yang selama ini dikenal ugal-ugalan, membuat jalan layang di seluruh Jakarta, menyejahterakan semua pemusik, dan menjanjikan gaji Rp 5 juta hingga Rp 10 juta bagi ketua RT dan ketua RW.

Luar biasa, bukan? Dengan seabrek prestasinya selama ini, Ahmad Dhani memang sangat layak menjadi gubernur.

Jangankan jadi gubernur. Dia sudah layak menjadi presiden, kok. Presiden Republik Cinta. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved