Coffee Break
Gerhana
BANYAK dongeng dan mitos tentang gerhana matahari. Salah satunya kisah berikut ini.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
BANYAK dongeng dan mitos tentang gerhana matahari. Salah satunya kisah berikut ini. Suatu hari Batara Guru pemimpin para dewa untuk meminum air suci di surga. Air itu dinamakan Tirta Amertasari, yang berarti "air abadi". Siapa pun yang meminumnya akan hidup selamanya.
Batara Kala, raksasa jahat yang sangat kuat, tidak diundang pada acara itu. Namun, diam-diam dia terbang ke surga dan mencuri beberapa tetes air. Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan) memergokinya dan segera melaporkan kepada Batara Guru. Batara Guru memerintah Batara Wisnu (Dewa Pemelihara/Pelindung Alam) untuk merebut kembali Tirta Amertasari. Kemudian Batara Wisnu mengambil senjata ampuhnya yaitu Chakra.
Ketika Batara Kala meminum Tirta Amertasari dan baru sampai di kerongkongannya, Batara Wisnu lebih dulu menebas batang leher Batara Kala dengan senjata Chakra. Tubuh Batara Kala jatuh ke bumi, menjelma menjadi lesung kayu. Namun kepalanya melayang di angkasa, hidup abadi karena telah telanjur meminum Tirta Amertasari.
Batara Kala mendendam kepada Batara Surya dan Batara Candra yang telah memergokinya mencuri Tirta Amertasari. Batara Kala terus berusaha untuk menelan mereka, tetapi kedua dewa itu selalu berhasil melarikan diri. Begitulah, selama berabad-abad Batara Kala tidak pernah berhenti mengejar mereka.
Untuk menolong Batara Surya dan Batara Candra, Batara Wisnu memerintahkan kepada para penduduk bumi agar memukul lesung kayu untuk membuat banyak suara saat terjadi gerhana, yang menjadi pertanda munculnya Batara Kala. Suara itu akan membantu Batara Surya dan Batara Candra untuk melarikan diri dari Batara Kala.
Di Cina, kisah mitologi menyebutkan bahwa naga raksasalah yang menelan matahari sehingga terjadi gerhana. Untuk memaksa sang naga memuntahkan lagi matahari, penduduk bumi menabuh genderang dan menyulut petasan.
Di Mesir Kuno ada satu dewa yang paling penting, yaitu Ra (Dewa Matahari), yang memimpin perahu yang ditumpangi banyak dewa guna melintasi langit. Bila terjadi gerhana matahari, diyakini Apep (Dewa Ular Laut yang jahat) berhasil menghentikan Ra walaupun pada akhirnya Ra berhasil meloloskan diri dan matahari kembali bersinar seperti sedia kala.
Mitologi muncul karena level pengetahuan yang masih sangat terbatas. Anggap saja fenomena itu muncul karena manusia masih berada di "masa kegelapan". Kalaupun di masa sekarang orang masih memukul lesung, menabuh genderang, atau menyulut petasan saat terjadi gerhana, biarkanlah itu menjadi tradisi yang layak lestari.
Namun kalau pada abad kedua puluh masih terjadi ketakutan berlebihan terhadap gerhana matahari total, mungkin hanya terjadi di negeri ini. Ya, Juni 1983 tampaknya boleh disebut salah satu "masa kegelapan" bangsa Indonesia. Gerhana matahari total saat itu tidak hanya menggelapkan sejumlah daerah di Indonesia seperti malam, tapi juga menggelapkan pikiran sebagian rakyat. Rakyat ketakutan untuk sekadar ke luar rumah. Sebagian memilih mengurung diri di dalam rumah, bahkan ada yang mendekam di bawah meja. Lebih baik tidak menyaksikan gerhana daripada mata menjadi buta.
Masih menjadi misteri mengapa anjuran supaya berhati-hati melihat fenomena gerhana matahari berubah menjadi semacam "ancaman" bagi rakyat Indonesia agar tidak keluar dari rumah sepanjang gerhana berlangsung. Tapi, barangkali, itulah hebatnya kekuasaan Orde Baru.
Jika saat itu sudah ada internet dan media sosial, atau katakanlah sekarang ada larangan keluar dari rumah pada saat gerhana seperti saat itu, pastilah akan terjadi "perlawanan" gencar di media sosial. Jadi, di satu sisi, generasi sekarang lebih beruntung karena dapat menyaksikan gerhana tanpa ketakutan berlebihan.
Pada Juni 1983 itu, sebagai remaja yang masih serbaingin tahu, saya tentu tidak ingin melewatkan peristiwa langka tersebut, yang baru terulang dalam 350 tahun di satu titik. Karena saat itu Bandung tidak dilewati gerhana matahari total, saya sengaja pergi ke Yogyakarta, salah satu kota yang mengalami gerhana matahari total. Bukan untuk melakukan riset atau yang seperti itu, melainkan sekadar menyaksikan gerhana.
Alat yang saya persiapkan hanya film kamera yang sengaja "dibakar" (dibuka di udara terbuka). Gulungan film itu saya potong-potong dan saya bagikan ke teman-teman di Yogya. Murah dan aman. Kami pun bisa menyaksikan gerhana tanpa mengalami kerusakan mata. (*)