Sorot

Darurat Pendidikan Seks Usia Dini

Terbaru, kasus kekerasan seksual di Kabupaten Garut yang melibatkan korban sedikitnya 15 anak di bawah umur

Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Dedy Herdiana
dok pribadi
Dicky Fadiar DJuhud, Wartawan Tribun. 

Oleh: Dicky Fadiar Djuhud, Wartawan Tribun Jabar

TULISAN ini merupakan yang kesekian dari sejumlah tulisan dengan bahasan yang sama, pendidikan seks.

Setahu penulis, perihal pendidikan seks khusus anak usia dini baru sebatas wacana atau konsep belaka. Tidak ada propaganda atau kampanye apalagi hingga gerakan massal betapa pentingnya perihal pendidikan seks sejak usia dini ini menghiasi layar kaca, billboard, serta reklame lainnya.

Meski berbeda, tidak seperti propaganda kantong plastik berbayar. Tidak hanya di kota-kota besar, di pelosok negeri peristiwa pencabulan terhadap anak di bawah umur, kekerasan seks terhadap anak, pedofilia, belum lagi yang terbaru menggejalanya, LGBT.

Masih ingatkah beragam reaksi bermunculan atas kejadian di Jakarta International School (JIS) beberapa waktu lalu. Kejadian ini memang cukup fenomenal?

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat nyaman kedua setelah rumah justru menjadi area yang mengancam masa depan anak. Atas dasar itulah, pendidikan seks menjadi penting dan harus ditindaklanjuti agar tidak sekadar wacana dan menjadi konsep belaka.

Mengingat korban pelecehan seksual di JIS adalah murid TK, pendidikan seks hendaknya diberikan sejak dini di pendidikan dasar dan tidak lagi menjadi barang tabu. Kondisi yang berkembang di masyarakat mengajak dunia pendidikan menyesuaikan diri, termasuk dalam pendidikan seks.

Terbaru, kasus kekerasan seksual di Kabupaten Garut yang melibatkan korban sedikitnya 15 anak di bawah umur dengan pelaku juga masih di bawah umur.

Penulis jadi teringat, waktu itu saat Muhammad Nuh menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), menolak pendidikan seks di sekolah.

Alasannya, dia mengaku risi mendengar kata-kata 'pelajaran seks' diajarkan kepada para siswa. Untuk itu, dia berpendapat pendidikan seks di sekolah dimasukan ke dalam pelajaran anatomi.

Penulis jadi terpikir pula, ada benarnya apa yang dilakukan oleh Kak Seto (praktisi pendidikan) yang menarik seluruh anaknya yang bersekolah. Ia menyekolahkan anaknya dengan sistem home schooling.

Alasan dia saat itu sederhana, apabila sekolah tidak lagi peduli pada berbagai perilaku dan akhlak muridnya, maka sekolah justru hanya akan menjadi pusat penyebaran penyakit sosial. Ya, bisa jadi, menurut saya, salah satunya dia berpikir Indonesia sudah darurat pendidikan seks.

Dalam agama yang diyakini penulis, Islam menyodorkan pendidikan seks sebagai upaya mendidik nafsu syahwat agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Sehingga ia berubah menjadi nafsu yang dirahmati Allah, dengan tujuan terbentuknya keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Pengalaman membuktikan bahwa pengetahuan manusia saja tidak mampu membendung dan mendidik seks tanpa petunjuk Allah.

Etika apa pun, kalau tak didasari iman kepada Allah, tidak akan banyak memberi manfaat. Nafsu syahwat hanya dapat dipimpin oleh iman, yang dengannya Allah akan merahmati pelakunya dengan melimpahinya keluarga yang tenteram.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved