Coffee Break
Rio Haryanto
KETIKA beberapa hari terakhir ini ramai pemberitaan tentang keberhasilan Rio Haryanto menjadi orang pertama Indonesia yang menembus Formula 1 ...
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
KETIKA beberapa hari terakhir ini ramai pemberitaan tentang keberhasilan Rio Haryanto menjadi orang pertama Indonesia yang menembus Formula 1, ajang balap mobil paling bergengsi di planet ini, saya menyimaknya biasa-biasa saja, tanpa rasa bangga, terharu, atau semacamnya. Entah, apakah respons seperti yang saya rasakan merupakan respons minoritas warga negara Indonesia atau justru mayoritas.
Meski sudah 30-an tahun berlalu, saya seakan-akan masih merasakan kebanggaan yang meletup- letup di dada tatkala Icuk Sugiarto, dalam usia 21 tahun, berhasil menjadi juara dunia bulu tangkis 1983. Saya masih ingat, keberhasilan Icuk itu ditulis harian Kompas sebagai berita utama di halaman satu dan saya membacanya berulang-ulang.
Sembilan tahun kemudian, saya turut meneteskan air mata bangga menyaksikan di layar kaca Susy Susanti dan Alan Budikusuma meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1982. Susy waktu itu baru berusia 21 tahun dan Alan 24 tahun.
Ah, bukankah kita sudah terbiasa menyaksikan atlet-atlet bulu tangkis meraih prestasi tingkat dunia? Sebelumnya, Rudy Hartono mencatatkan diri sebagai peraih gelar terbanyak All England, ajang yang tidak kalah bergengsi dibandingkan dengan kejuaraan dunia. Rudy bahkan juga sudah meraih gelar yang sama dengan Icuk enam tahun sebelumnya.
Kebanggaan yang membuncah saya rasakan pula ketika Ellyas Pical menganvaskan Judo Chun pada 1985. Ellyas menjadi orang pertama Indonesia yang menjadi juara dunia tinju.
Icuk, Ellyas, dan pasangan Susy-Alan hanyalah tiga contoh kehebatan anak-anak muda yang sudah mengharumkan bangsa dan saya merasa bangga atas mereka.
Perasaan seperti apa pun memang kerap muncul tanpa diduga, kadang sulit dijelaskan secara logika. Saat Icuk menjadi juara dunia itu saya terbawa oleh kisah Icuk sebagai pemuda dengan latar belakang orang kebanyakan. Ayahnya pensiunan pegawai Radio Republik Indonesia di Solo. Berkat bakatnya di bulu tangkis, Icuk hijrah ke Jakarta dan pelan tapi pasti meraih prestasi demi prestasi, hingga puncaknya di kejuaraan dunia yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark, itu.
Ellyas berasal dari sudut yang lebih jauh, sebuah kampung bernama Ullath di Saparua, Maluku Tengah. Seperti rekan-rekan sebayanya di kampung, pada masa kecilnya Ellyas seorang pencari mutiara alami, yang menyelam sampai ke dasar laut untuk mencari mutiara alam. Karena seringnya menyelam saat kecil itu, pendengarannya kurang peka. Bakat tinju kemudian membawanya menapak tahap demi tahap hingga akhirnya meraih sabuk juara dunia. Seperti Icuk, Ellyas menunjukkan perjuangan tanpa henti dari titik terendah hingga mencapai puncak.
Karena Susy keturunan Tionghoa, mungkin banyak orang yang menganggap wajar dia menjadi maestro bulu tangkis. Namun, bagi saya, Susy menapaki jalan hidup yang serupa dengan Icuk dan Ellyas. Susy berasal dari Tasikmalaya, memiliki bakat bulu tangkis sejak belia, yang membawanya ke Ibu Kota, memperdalam ilmunya, untuk akhirnya menjadi ratu paling cemerlang dalam sejarah bulu tangkis Indonesia.
Apakah dunia balap umumnya, F1 khususnya, sangat berbeda dengan bulu tangkis dan tinju? Boleh jadi. Bakat saja tampaknya tidak cukup untuk mengantarkan seseorang menjadi pebalap mobil, apalagi sekelas F1. Ia harus didukung kekuatan lain: uang. Dalam jumlah yang besar pula. Siapa pun tahu, balap mobil memang olahraga mahal. Hanya anak-anak keluarga kaya yang memiliki peluang besar menjadi pebalap mobil.
Tentu saja Rio menapaki jalan yang panjang dan berat untuk meraih posisi seperti sekarang. Ia membalap sejak usia enam tahun, menjadi juara nasional gokar kelas kadet pada usia sembilan tahun, dan seterusnya beranjak ke Formula Asia 2.0, Formula BMW Pacific, GP3, dan GP2, sampai akhirnya menembus F1.
Pertanyaannya, mengapa ia harus menjadi pay driver, pebalap yang harus membayarkan sejumlah uang besar kepada tim yang dituju? Tidak bisakah ia menembus F1 berdasarkan prestasi di ajang balap sebelumnya?
Konon Niki Lauda, Michael Schumacher, dan Fernando Alonso melalui tahap menjadi pay driver lebih dahulu. Namun, dengan bakat besar mereka, ketiga pebalap itu kemudian berhasil menunjukkan diri lebih pantas dibayar, tidak lagi membayar.
Pertanyaan berikutnya, mengapa harus 15 juta pounds (hampir Rp 300 miliar) dan hanya masuk tim kelas medioker? Bukankah itu uang yang sangat besar?
Seorang teman mengatakan, daripada uang negara habis dikorupsi, lebih baik dipakai buat mendukung anak-anak muda berprestasi seperti Rio. Pemikiran yang bagus. Cuma, bagi para koruptor, sumber uang yang masih dapat dikorupsi pastilah masih sangat melimpah.
Okelah, kini kita menunggu apakah Rio akan mampu mengubah predikat pay driver menjadi pebalap yang pantas dibayar. Saya pasti bangga. (*)