Coffee Break
Gandul
DI desa saya, gandul berarti pepaya. Itu pasti pengaruh bahasa Jawa, khususnya Jawa Tegalan atau Banyumasan.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
DI desa saya, gandul berarti pepaya. Itu pasti pengaruh bahasa Jawa, khususnya Jawa Tegalan atau Banyumasan. Sebab, di Yogya, Solo, dan sekitarnya, pepaya disebut kates. Jadi, meskipun desa kami Sunda, kami menyebut pepaya dengan kosakata Jawa. Adapun orang Sunda Priangan menyebut pepaya gedang. Karena itu, orang Sunda pasti kaget ketika di daerah Jawa minta gedang (pepaya) tapi yang diberikan pisang (gedang dalam bahasa Jawa).
Selain berarti pepaya, khusus di desa kami, lebih khusus lagi di kalangan anak mudanya, gandul berarti pula banci. Saya tidak mengikuti perkembangan terakhir, apakah kata gandul yang berarti banci sudah menyebar ke desa lain. Tapi setidaknya saya menangkap ada rasa bahasa yang lebih halus dan sopan daripada sebutan banci atau bencong.
Alkisah, seorang teman di desa kami bercakap-cakap dengan teman lain yang dikenal berpenampilan gemulai. Di desa kami memang cukup banyak kelompok ini. Entahlah, apakah kecenderungan gemulai, baik dalam cara berjalan maupun berbicara, pada orang-orang kelompok itu disebabkan faktor genetis atau lingkungan.
"Aku habis makan gandul," ujar teman yang berpenampilan gemulai.
"Makan apa?"
"Makan gandul," ucap si gemulai dengan tangan melambai dan gerak bibir yang kemayu.
Jawaban gandul itu tampaknya sangat mengesankan teman saya. Ia pun menceritakan percakapan pendek itu dan memperagakannya kepada teman-teman lain. Dari situlah munculnya kosakata gandul yang bermakna banci.
Para gandul di desa kami memang mudah dibedakan dengan warga lainnya. Selain dari cara berbicara dan cara berjalan, mereka sering berkumpul sesama mereka. Tampaknya mereka memiliki ikatan yang kuat. Beberapa di antara mereka pernah merantau ke kota, terutama Jakarta. Ketika pulang, sebagian besar membuka usaha salon kecantikan. Tapi tidak semua. Beberapa di antaranya menjadi pegawai negeri sipil. Ada yang tetap membujang hingga usia paruh baya, ada juga yang menikah dengan perempuan. Di antara yang menikah itu, ada yang bercerai sebelum mempunyai anak, ada pula yang mempunyai anak dan bertahan hingga masa tua.
Warga lain, terutama anak-anak, memang ada yang senang mengata-ngatai kelompok itu dengan banci atau gandul. Setahu saya, mereka tidak suka membalas pelecehan itu. Tapi bagaimana perasaan dalam hati mereka, siapa yang tahu. Saya sendiri, seingat saya, tidak pernah ikut mengata-ngatai. Mungkin karena beberapa di antara mereka adalah saudara dan tetangga sendiri. Dan mungkin karena itulah saya pernah mengalami kejadian yang rada traumatis juga dengan seorang saudara yang gemulai.
Waktu itu saya masih kelas enam SD. Karena memang tetangga, saya sering main ke rumahnya. Saya merasa tidak ada yang menghalangi kami berinteraksi meskipun usia kami berbeda lumayan jauh. Termasuk ketika rumah itu sepi dan kami tiduran di kamarnya. Saat itulah saya kaget karena tangannya mulai meraba-raba. Adegan selanjutnya tidak perlu saya uraikan. Singkatnya, saya kemudian sadar bahwa kejadian itu membuat saya tidak nyaman dan saya kemudian enggan lagi bertandang ke rumahnya.
Apakah pengalaman masa kecil itu memengaruhi sikap dan kepribadian saya di masa dewasa? Sedikit banyak, tampaknya, iya. Saya tidak membenci mereka, tapi juga tidak menyukai. Kadang malah cenderung kasihan. Kata orang, perilaku menyimpang dalam orientasi seksual sebagian dipengaruhi lingkungan. Saya beruntung tidak sampai tertulari perilaku seperti itu.
Berbeda dengan kelompok gandul, kita tidak mudah mengenali kelompok lain yang termasuk komunitas LGBT. Saya tidak tahu apakah di desa saya ada lesbian. Menurut pemahaman sederhana saya, lesbian adalah perempuan yang berpenampilan maskulin. Namun seiring dengan bertambahnya usia, saya memahami bahwa wanita yang penampilannya biasa-biasa sebagaimana umumnya wanita pun bisa saja seorang lesbian. Begitu juga dengan gay. Seorang gay tidak harus berpenampilan gemulai dan kemayu. Seseorang yang tubuhnya kekar berotot dan macho ternyata dapat pula menjadi gay.
Istilah LGBT—lesbian, gay, biseksual, dan transgender—digunakan semenjak 1990-an untuk menggantikan frasa "komunitas gay" karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan. Pada beberapa tahun terakhir tampaknya kaum LGBT mendapat pengakuan yang makin luas. "Semakin banyak orang sudah memahami bahwa orientasi seksual ataupun identitas seksual seseorang tidak membuat seseorang lebih baik ataupun lebih buruk dari orang lain. Tidak ada alasan lagi buat kita untuk merasa malu atau takut karena kita berbeda orientasi seksual dengan orang kebanyakan," tulis laman lgbtindonesia.org.
"Kamu mendukung gerakan LGBT?" tanya seorang teman.
Saya tidak menjawab langsung, tapi menggambarkan apa yang pernah saya lakukan. Ketika seorang teman merekomendasikan film Brokeback Mountain, beberapa tahun lalu, saya bilang tak akan menonton. "Kenapa?" tanyanya. "Karena tentang gay," jawab saya. "Tapi ini film bagus," katanya pula. "Nggak apa-apa. Saya bisa nonton film lain yang juga bagus." Sebagai redaktur cerpen, saya juga tidak pernah memuat cerpen yang bertema LGBT. (*)