Sorot

Menjaga Keseimbangan

INI pengakuan pejabat Kota Cimahi. Ternyata lahan pertanian di sana tinggal 132 hektare dari 273 hektare pada 2013.

Penulis: Januar Pribadi Hamel | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Januar P Hamel, Wartawan Tribun. 

INI pengakuan pejabat Kota Cimahi. Ternyata lahan pertanian di sana tinggal 132 hektare dari 273 hektare pada 2013.

Angka 273 hektare muncul dari Badan Pusat Statistik (BPS). Berarti sejak itu lahan pertanian di kota tersebut hilang 50 persen hanya dalam jangka waktu dua tahun.

Banyak lahan pertanian beralih fungsi menjadi kawasan permukiman dan industri. Pemkot mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan lahan tersebut.

Padahal, menurut Kepala Bidang Pertanian, Dinas Koperasi UMKM Perindustrian Perdagangan dan Pertanian (Diskopindagtan) Kota Cimahi, Asep Herman, lahan itu merupakan lahan pertanian produktif.

Asep mengatakan pihaknya belum memikirkan untuk mengajukan rancangan peraturan daerah (perda) tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B), sebagai upaya untuk melindungi lahan pertanian di Kota Cimahi.

Sebab, kata Asep, pertanian di Kota Cimahi tidak masuk dalam prioritas pemerintah.

Lambat laun lingkungan di perkotaan memang telah berubah. Orang kini semakin sulit menemukan hamparan sawah yang dekat permukiman. Kalau pun ada hanya beberapa petak yang dikepung oleh tembok-tembok perumahan maupun pabrik.

Begitu juga yang terjadi di Kabupaten Bandung. Tiga atau empat tahun lalu di kawasan Baleendah masih banyak sawah. Namun sekarang, ketika melewati Jalan Siliwangi misalnya, hanya ada beberapa petak sawah saja.

Tak terasa genangan air (cileuncang) ketika hujan turun mulai banyak terjadi di kawasan itu. Jika diperhatikan, genangan itu mulai ada setelah berdiri beberapa bangunan.

Di sana resapan airnya telah berkurang. Lebih sayangnya, drainase yang dibutuhkan agar cileuncang tidak menggenang juga tak mampu menampung air tersebut.

Jika itu dibiarkan, mungkin banjir yang tadinya hanya menggenang kawasan Cieunteung, Jalan Raya Dayeuhkolot akan merembet ke kawasan lain. Itu bukan “doa” atau ingin menakut-nakuti tapi mengingatkan agar kewaspadaan tetap terpelihara supaya yang ditakutkan tak pernah terjadi.

Lihat juga di Jalan Laswi, Ciparay-Majalaya. Jalan di sini sempat tergenang karena derasnya hujan dan drainase tak mampu menampung debit air yang turun. Sepeda motor dan mobil, Senin (8/2) sempat tergenang.

Seorang warga mengatakan banjir ini terjadi karena resapan air di sana, seperti sawah sudah berkurang. Sebenarnya, bisa saja lahan resapan air seperti sawah dikurangi.

Asal tentu saja memenuhi syarat dengan tetap memperhatikan lingkungan sekitarnya. Dan, itu semua bisa diatur asal semua pihak menyadari betapa penting menjaga lingkungan ini.

Kerusakan lingkungan tidak bisa terlihat saat itu juga. Dampaknya akan terasa jika ekosistem di lingkungannya mulai dirusak. Banjir, longsor atau bahkan penyakit bisa mengintai setiap saat. Tengok apa yang terjadi di Rancaekek.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved