Coffee Break
Monster Nian
MAKHLUK mengerikan itu bernama nian. Di kepalanya mencuat lima tanduk setajam tombak, sepasang matanya membara seperti kemangmang
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
MAKHLUK mengerikan itu bernama nian. Di kepalanya mencuat lima tanduk setajam tombak, sepasang matanya membara seperti kemangmang, gigi dan kukunya bagaikan cakar elang raksasa. Tenaganya sangat kuat. Kalau dia berjalan, rumah-rumah rata dengan tanah.
Nian tinggal di dasar lautan yang sangat dalam dan dingin. Namun, setahun sekali ia muncul mendatangi desa pada malam tahun baru (akhir musim dingin) dan menghilang tepat pada tengah malam. Meski ia muncul hanya beberapa jam dalam setahun, orang-orang selalu ketakutan. Saat datang, ia akan menerkam dan menelan hasil panen dan segala makhluk hidup yang ia temukan, termasuk manusia.
Tiap tahun nian selalu muncul dan orang-orang ketakutan. Penduduk desa ingin mengusir nian dari desa mereka selama-lamanya. Tapi, bagaimana caranya? Monster itu sangat kuat dan mengerikan. Siapa yang berani menghadapinya?
Syahdan, menjelang malam tahun baru, seorang pengemis datang di desa itu. Tapi orang-orang enggan mengacuhkannya karena pakaiannya kotor, lusuh, dan bau. Hanya ada pasangan suami- istri tua yang bersedia menerima dan memberi pengemis itu makan.
Malamnya adalah malam tahun baru dan semua penduduk bersiap-siap hendak mengungsi ke hutan atau puncak gunung atau bersembunyi di rumah supaya selamat dari nian. Pasangan suami- istri tua itu pun menasihati si pengemis untuk segera meninggalkan kampung dan berlari ke puncak gunung.
Namun pengemis itu menolak. "Bolehkah Nenek mengizinkan saya tinggal di rumah Nenek malam ini? Saya berjanji akan mengusir monster yang mengerikan itu," kata si pengemis.
Meski ragu-ragu, kakek dan nenek itu akhirnya menyetujui permintaan sang pengemis.
Malam pun tiba. Nian muncul ke daratan dan mencari mangsa untuk disantap. Tapi, pada saat memasuki sebuah rumah, dia merasa sangat terkejut karena rumah itu sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Rumah itu diterangi cahaya lilin dari lampion. Dan saat melangkah masuk ke halaman rumah, alangkah terkejut dan ketakutan sang monster mendengar suara petasan yang begitu besar.
Belum habis rasa terkejutnya, dari dalam rumah muncul seorang pengemis dengan pakaian merah. Sejumlah pemuda juga muncul menarikan barongsai seraya memukul gong dan tambur keras-keras. Nian merasa sangat ketakutan dan segera lintang pukang meninggalkan kampung itu.
Keesokan harinya, saat kembali, para pengungsi terkejut dan bingung karena kondisi rumah mereka tetap rapi, sama seperti saat ditinggalkan, tidak porak poranda seperti tahun-tahun sebelumnya setiap muncul sang monster.
"Sekarang kita tahu apa saja yang ditakuti nian," kata Guru Zhao, cendekiawan di desa itu. "Nian takut pada benda-benda berwarna merah, petasan, dan bunyi gong serta tambur. Jadi, mulai sekarang, menjelang tahun baru setiap rumah harus memasang lampion dan kain merah. Juga menyediakan petasan. Para pemuda juga bersiap-siap mengusir nian dengan tarian barongsai."
Sejak itu, tiap malam tahun baru tiba, orang-orang memakai ikat kepala atau ikat pinggang merah. Para pria membawa senjata seperti pedang, tombak, busur, dan anak panah. Petasan dinyalakan dengan bunyi yang memekakkan. Gong dan tambur dipukul keras-keras.
Nian tak berani lagi datang di desa itu, selamanya.
Secara historis, sebelum Dinasti Qin di Cina, permulaan tahun belum jelas. Ada kemungkinan awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama Cina, Qin Shi Huang, menukar dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.
Khusus di daratan Cina, Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara yang memiliki penduduk beretnis Tionghoa, Imlek atau tahun baru Cina dirayakan dan sebagian telah berakulturasi dengan budaya setempat. Di Indonesia, warga etnis Tionghoa pantas berterima kasih kepada Gus Dur, yang menghapus larangan perayaan Imlek secara terbuka sejak era Orde Baru.
Dari mitos dan sejarah jelas bahwa Imlek lebih berkaitan dengan musim dan pertanian daripada dengan agama. Jadi, tampaknya tak perlu ada halangan apa pun bagi umat lain untuk mengucapkan selamat: Gong xi fa cai. (*)