Coffee Break
Sang Puan
SAYA punya teman yang cerdas tapi lebih senang bercanda, terutama jika berurusan dengan politik. "Pusing, ah. Mending ngomong soal NM."
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
SAYA punya teman yang cerdas tapi lebih senang bercanda, terutama jika berurusan dengan politik. "Pusing, ah. Mending ngomong soal NM," seperti itulah contoh reaksinya jika saya mencoba membuka obrolan tentang kabar terakhir yang berkaitan dengan, yaaa, yang seperti itu, lah.
Begitu juga ketika saya ingin tahu pendapatnya mengenai Puan Maharani dalam urusan beras miskin di Bali, Selasa lalu. "Puan lumayan manis, kok. Cuma suaranya cempreng," ujarnya seraya menirukan suara Puan. Asem. Saya tidak tahu apakah ia sedang mengagumi atau, sebaliknya, sedang mencemooh Puan. Mungkin juga dua-duanya: mengangkat, kemudian menjatuhkannya. Yang pasti, ia hanya menilainya secara fisik.
Sudah sejak pembentukan kabinet, saya heran Jokowi memilih Puan menjadi salah satu menterinya. Puan lulusan Komunikasi Massa Universitas Indonesia. Ia pernah berkesempatan magang di majalah Forum Keadilan dan merasakan tantangan dunia jurnalistik seperti mencari narasumber dan kesibukan di kantor menjelang naik cetak. Apa istimewanya? Tak ada. Ribuan orang memiliki pendidikan dan pengalaman kerja seperti itu. Apakah prestasinya? Entahlah.
Tapi saya maklum. Puan tak lain anak Megawati Soekarnoputri. Meskipun ribuan orang lebih tinggi pendidikan dan prestasinya, hanya tiga orang yang ditakdirkan menjadi anak Megawati. Salah satunya, ya, Puan. Megawati adalah mantan presiden sekaligus anak mantan presiden. Jadi, Puan anak mantan presiden sekaligus cucu mantan presiden dan hanya beberapa orang yang ditakdirkan menjadi cucu Soekarno. Sebagai keturunan Soekarno, Puan memiliki posisi yang istimewa. Lebih dari itu, Megawati orang paling kuat di partainya: orang yang menentukan hitam-putihnya partai.
Sudah lama pula saya ingin menulis tentang Puan. Tapi saya belum juga menemukan sisi menarik yang memicu datangnya ilham di kepala saya. Prestasinya, ya itu tadi, biasa-biasa saja. Sebaliknya, Puan juga belum melakukan blunder fatal. Ilham menulis tentang seorang tokoh biasanya muncul jika tokoh itu berada pada titik ekstrem: ekstrem hebat atau ekstrem payah. Puan tidak berada pada dua titik itu. Setidaknya, hingga sebelum saya menulis kolom ini.
Saya juga sulit menganalogikan Puan dengan tokoh pewayangan, seperti yang saya lakukan dalam beberapa tulisan saya. Puan bukan Srikandi, sosok wanita sakti yang terkenal keberaniannya dalam Perang Baratayuda. Menteri Susi Pudjiastuti jauh lebih layak diibaratkan sebagai Srikandi ketimbang Puan. Namun, Puan juga bukan Gendari, wanita yang berusaha dengan segala cara untuk meraih takhta Hastina bagi suaminya. Puan bukan Subadra, wanita yang kecantikannya disetarakan dengan Dewi Kamaratih. Tapi Puan juga bukan Durga, wanita dengan penampilan seburuk-buruknya wanita.
Kita tahu, tokoh cerita wayang selalu berada pada titik ekstrem: ekstrem baik atau ekstrem jahat; ekstrem cantik atau ekstrem buruk rupa. Puan berada di tengah-tengah kedua titik itu. Dalam cerita wayang, tokoh yang berada di tengah-tengah kedua titik itu hanyalah rakyat atau prajurit biasa dan mereka diceritakan bukan secara individual, melainkan hanya sebagai sekumpulan banyak orang.
Kemudian saya berusaha menelusuri rekam jejak Puan yang akan layak menjadi pemicu datangnya ilham. Dan saya menemukan beberapa. Pertama, ketika menjadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan, saat menjelang pemilihan presiden, Puan sempat salah mengucapkan kalimat ajakan kepada ribuan warga yang memadati lokasi kampanye di Palembang. "Aku ni wong kito galo. Aku ini anak Pak Taufiq Kemas. Jadi aku ngajak, jangan pilih yang bukan wong Sumsel asli," kata Puan. Alamak. Dari semua calon presiden dan calon wakil presiden pada pilpres 2014, hanya Hatta Rajasa yang berasal dari Sumsel.
Kedua, tak lama setelah menjadi menteri, Puan salah menyebutkan asal provinsi untuk Kabupaten Banjarnegara. Dalam akun Twitter-nya, Puan menyebut kabupaten yang waktu itu terkena bencana longsor ini ada di Jawa Barat. Kontan kicauannya mendapat reaksi yang riuh. Salah satunya, "Turut berduka atas tidak lulusnya Geografi menteri yang satu ini."
Ketiga, pada acara peluncuran penyaluran program beras miskin tahun 2016 di Bali, Selasa lalu, Gubernur Made Mangku Pastika minta agar alokasi beras untuk rumah tangga miskin di Bali dinaikkan. Menanggapi permintaan spontan itu Puan menerangkan bahwa pemerintah belum memikirkan kemungkinan menaikkan alokasi raskin. "Jangan banyak-banyak makan, lah, diet sedikit tidak apa-apa," kata Puan. Kabarnya, Puan hanya bercanda. Sayang, candaannya alih-alih bikin tertawa, malah membuat banyak pihak berang.
Apakah saya menemukan keistimewaan Puan dalam rekam jejaknya? Belum, sampai sejauh ini. Keistimewaannya masih sama: dia anak Megawati dan cucu Soekarno.
Hanya itu. (*)