Cerpen Mashdar Zainal
Rumah Pulang
SEMENJAK Kakek dan Nenek meninggal, rumah itu menjadi semakin sunyi. Dan kesunyian itu seakan memiliki wujud seperti asap yang terus menyebar...
Sewaktu Nenek hamil, Kakek pernah merasa cemas dengan calon bayinya, dengan aroma ganjil yang selalu tercium setiap kali ada orang dikuburkan, hingga Kakek mengusulkan untuk pindah rumah. Namun Nenek tak pernah sudi pindah rumah. Ia telanjur jatuh cinta pada rumah itu, beserta kesunyian yang meliputinya. Nenek berkaul, setiap orang dilahirkan dari kesunyian dan akan kembali pada kesunyian, bermula dari rahim ibu yang sunyi dan kembali pada rahim tanah yang juga sunyi.
Kakek mengaku, butuh waktu sedikit lama untuk bisa mencecap manisnya kesunyian di rumah pulang itu—kesunyian yang telah lama diagung-agungkan Nenek—sampai ia menjadi seorang bapak dan kemudian sedikit beruban dan menjadi seorang kakek, "Semakin seseorang berbau tanah, kesunyian akan semakin berarti. Seperti bayi yang begitu karib dengan aroma keringat ibunya."
Kakek mengibaratkan hari-harinya bersama Nenek di rumah itu seperti mimpi indah dalam sebuah tidur pendek, mimpi yang cepat sekali pergi dan membuat seseorang menjadi pikun. Ketika Ayah lahir, aroma ganjil selepas pemakaman pun masih kerap tercium, hanya saja sedikit pudar, mungkin karena mereka sudah terlalu biasa. Dan gumaman menjelang tidur mereka pun menjadi sedikit berbeda, "Kelak, salah satu dari kita bertiga akan berpulang terlebih dahulu...."
Nyatanya, dari mereka bertiga, Nenek adalah orang pertama yang meninggalkan rumah pulang untuk pulang ke rumah pulang yang paling pulang. Disusul kemudian Kakek, beberapa tahun setelahnya. Dan rumah itu pun sempurna menjadi milik sepi. Ayah sendiri merasa enggan tinggal di rumah yang berimpitan dengan makam itu. Lagi pula, waktu itu, Ayah sudah mendapatkan pekerjaan tetap di kota tempatnya melanjutkan sekolah. Hingga akhirnya ia menikah dan membangun rumah sendiri di kota itu, jauh dari kesunyian rumah pulang, rumah masa kecilnya.
Aku tak ingat kapan pertama kali Ayah mengajakku ke rumah itu. Yang kuingat dari rumah itu hanyalah hawa sunyi serta dua buah kursi anyam yang terdiam di belakang rumah dan menantang makam. Aku sendiri menganggap rumah Kakek jauh lebih nyaman ketimbang rumah Ayah di kota. Selepas Kakek dan Nenek meninggal, lama sekali kami tidak mengunjungi rumah itu. Hingga Ayah, yang usianya kian uzur dan sering sakit-sakitan, mendadak berinisiatif mengajak kami berziarah ke makam Kakek dan Nenek, katanya sekalian menjenguk rumah itu.
"Saat tubuhku terasa begini rapuh, tiba-tiba aku sangat merindukan rumah itu, aku ingin duduk di kursi anyam di belakang rumah sambil memandang lepas ke gunduk makam dan nisan-nisan. Memang, tak ada rumah yang lebih baik dari rumah yang selalu mengingatkanmu akan pulang," ujar ayah sambil menuang lamunannya.
Entah mengapa, aku merinding mendengar kata-kata ayah yang terakhir.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/rumah-pulang_20160123_224814.jpg)