Sorot

Mari Mengurai Benang Kusut Sepak Bola Indonesia

TIM ini bertujuan untuk mereformasi sepak bola Indonesia.

Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
dok. pribadi / facebook
Oktora Veriawan, Wartawan Tribun. 

BENANG kusut jika diperbaiki secara tidak benar maka akan semakin kusut, apalagi jika orang yang memperbaiki benang kusut itu orang-orang kusut yang tidak mengerti cara memperbaiki benang yang kusut.

Itulah perumpamaan dari sepak bola nasional di awal tahun 2016 ini yang makin kusut saja.

Pada 2 November 2015 asa akan perbaikan sepak bola nasional datang.

Seiring diutusnya perwakilan FIFA untuk mendengar keluh kesah para stakeholder yang terlibat dalam benang kusut sepak bola Indonesia.

Dua hari lamanya, perwakilan FIFA “mondok” di Indonesia mendengarkan masukkan dari sana-sini, termasuk dari pemerintah, PSSI, dan juga pemain.

Sepulangnya dari Indonesia, utusan FIFA tersebut menggelar rapat secara maraton dan pada 17 November 2015 menelurkan keputusan yaitu membentuk tim Ad-hoc yang diketuai oleh Agum Gumelar, berisikan perwakilan dari PSSI, pemerintah, dan pemain.

Tim ini bertujuan untuk mereformasi sepak bola Indonesia.

Tim Ad-hoc sampai saat ini masih jalan di tempat, belum bisa melakukan action apapun.

Pasalnya, pemerintah dalam hal ini Kemenpora ogah bergabung dengan tim Ad-hoc karena berprasangka buruk bahwa tim tersebut tak independen karena kebanyakan dihuni oleh orang- orang PSSI.

Pada 2 Januari 2016, PT Liga Indonesia mewacanakan menggelar Indonesia Super League 2016 atau Turnamen Super League yang independen.

Tapi tanggal 6 Januari kemarin, rencana tersebut langsung ditolak Bopi dengan alasan bahwa PT Liga Indonesia berada di bawah naungan PSSI yang statusnya masih dibekukan.

Sebenarnya ada kelonggaran yang diberikan Bopi kepada PT Liga Indonesia agar rekomendasi kompetisi dapat keluar yaitu harus berkoordinasi dengan Tim Transisi bentukan Kemenpora.

Tapi PT Liga Indonesia menganggap bahwa Tim Transisi sudah bubar dengan sendirinya seiring dengan terbentuknya Tim Ad-hoc FIFA sehingga tidak perlu berkoordinasi lagi dengan tim tersebut.

Pemain pun angkat bicara. Presiden Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), Ponaryo Astaman, mengajak seluruh pemain di Indonesia untuk memboikot seluruh aktivitas persepakbolaan di Indonesia, baik itu turnamen yang digelar pemerintah atau pun PSSI.

16 Januari nanti, seluruh klub ISL dan Divisi Utama akan berkumpul di Jakarta untuk membahas situasi ini.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved