Coffee Break
Tokoh Tahun Ini
SEBAGAI catatan awal tahun, saya ingin memilih "tokoh tahun ini". Saya merencanakan memilih satu "tokoh terbaik" dan satu "tokoh terburuk".
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
SEBAGAI catatan awal tahun, saya ingin memilih "tokoh tahun ini". Saya merencanakan memilih satu "tokoh terbaik" dan satu "tokoh terburuk". Namun, belum apa-apa saya menghadapi sejumlah kesulitan. Pertama, negeri ini memiliki begitu banyak tokoh baik dan mereka layak dipilih menjadi tokoh terbaik. Kedua, sebaliknya, saya benar-benar mengalami kesulitan menemukan satu pun tokoh buruk, apalagi tokoh terburuk. Ketiga, da aku mah apa atuh, sok-sokan memilih "tokoh tahun ini" segala.
Di level dunia, satu tokoh yang selalu terpilih menjadi "100 manusia paling berpengaruh tahun ini" atau yang semacam itu, ya, tak salah lagi, adalah Presiden Amerika Serikat. Siapa pun dia, Barack Obama, George W. Bush, Bill Clinton, dan seterusnya menurut hitungan mundur, pasti terpilih menjadi "10 atau 50 atau 100 tokoh tahun ini" ketika mereka menjabat.
Jika dipakai analogi ini, siapa pun presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, dan seterusnya, ketika mereka menjabat, layak masuk daftar "10 atau 50 atau 100 tokoh tahun ini" di negeri ini. Tapi karena saya hendak memilih satu saja tokoh tahun ini, saya coret nama Jokowi dari daftar calon. Alasannya jelas: Jokowi adalah presiden paling kontroversial dalam sejarah republik ini. Jokowilah presiden yang paling sering dikritik, dimaki, bahkan dihina di media sosial. Padahal baru menjalani satu tahun dua bulan masa pemerintahan. SBY mungkin kerap mengeluh selalu dihina, bahkan diancam keselamatannya, tapi saya yakin jumlahnya tidaklah semasif yang dialami Jokowi.
Kritikan, makian, dan hinaan itu menunjukkan bahwa masih banyak warga negara ini yang tidak menyukai, lebih tepatnya membenci, Jokowi. Jadi, saya menyimpulkan bahwa Jokowi tidak pantas menjadi "tokoh terbaik tahun ini".
Apakah Wakil Presiden Jusuf Kalla layak menjadi tokoh terbaik tahun ini? JK memang tokoh yang baik, politikus senior yang tidak perlu dipertanyakan lagi kapabilitas dan catatan prestasinya. Tapi saya termasuk orang yang percaya bahwa, pada umumnya, seorang wakil presiden tidak lebih baik daripada presiden, seperti halnya wakil ketua kelas selalu di bawah ketua kelas, wakil wali kota di bawah wali kota, dan seterusnya. Jadi, saya tidak memilih JK sebagai "tokoh terbaik tahun ini".
Beberapa menteri kabinet Jokowi memiliki kapasitas yang memadai dan menunjukkan kinerja yang baik. Sebut saja Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Dalam setahun dia sudah menenggelamkan entah berapa puluh kapal asing pencuri ikan. Menteri ESDM Sudirman Said juga sudah mencatatkan diri sebagai orang yang berani mencoba membuka kasus Freeport. Apalagi Sudirman berasal dari Brebes... ups, tak ada hubungannya. Namun karena Susi dan Sudirman sama-sama menteri Jokowi, saya tidak akan memilih mereka. Pokoknya, siapa pun menteri kabinet Jokowi tak akan saya pilih. Mengapa? Ya, karena Jokowi.
Sejumlah kepala daerah dikabarkan mencatat prestasi yang membanggakan. Sebut saja Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo. Bagi warga Bandung, Ridwan Kamil tak perlu diuraikan lagi deretan prestasinya: membuat banyak taman kota, memuluskan infrastruktur jalan, membersihkan sampah-sampah, dan meraih Adipura. Risma juga berhasil menata Kota Surabaya menjadi lebih asri dan tertata dengan baik dibandingkan sebelumnya, lebih hijau dan lebih segar.
Bagi yang belum mengenal Kabupaten Batang, baiklah saya ceritakan bahwa Batang adalah salah satu kabupaten di (bekas) Karesidenan Pekalongan. Karesidenan ini mencakup secara berturut- turut dari barat ke timur Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan, dan Kabupaten Batang. Nama Yoyok Riyo Sudibyo mencuat setelah mendapat Bung Hatta Award, penghargaan bagi insan Indonesia yang dikenal oleh lingkungan terdekatnya sebagai pribadi-pribadi yang bersih dari praktik korupsi, tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan atau jabatannya, menyuap atau menerima suap, dan berperan aktif memberikan inspirasi atau memengaruhi masyarakat atau lingkungannya dalam pemberantasan korupsi.
Bagaimana dengan Ahok? Saya mengagumi gayanya menjadi gubernur DKI. Ia berupaya keras membersihkan DKI dari gurita korupsi dan persoalan kota. Tapi saya tidak akan memilihnya. Sama seperti Jokowi, Ahok penuh kontroversi.
Bagaimana dengan anggota DPR? Oh, ya. DPR sudah terbukti beranggotakan orang-orang baik dengan prestasi sangat mengagumkan. Sebut saja (mantan) ketuanya, Setia Novanto, yang menyumbangkan tenaganya tidak hanya sebagai legislator, tapi juga sebagai penyambung lidah eksekutif ketika menemui Donald Trump dan Maroef Sjamsuddin. Nama-nama lain juga patut dikedepankan: Fadli Zon, Fahri Hamzah, dan baaanyak lagi.
Lalu, siapa calon tokoh terburuk tahun ini? Tidak ada. Di negeri ini hanya ada orang baik. Tak ada orang buruk. Percayalah. (*)