Coffee Break

Pesta

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung sempat merencanakan pesta rakyat tiga hari tiga malam untuk menyambut tahun baru.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan

ENTAH mendapat gagasan dari dongeng, entah dari perayaan negeri lain, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung sempat merencanakan pesta rakyat tiga hari tiga malam untuk menyambut tahun baru. Meskipun belum ada rencana yang lebih detail mengenai apa saja acara dalam pesta tiga hari tiga malam itu, rencananya pesta dipusatkan di seputaran Jalan Asia Afrika, Jalan Sukarno, Jalan Braga pendek, dan Alun-alun Kota Bandung.

Ketika seorang pangeran menikah dengan seorang putri pilihan, yang biasanya dilanjutkan dengan upacara pengangkatan sang pangeran menjadi raja baru, berlangsunglah pesta meriah tujuh hari tujuh malam. Seperti itulah ketika Cinderella menikah dengan sang pangeran. Dongeng lain menyebutkan pesta pernikahan raja baru digelar 40 hari 40 malam. Yang pasti, pesta itu akan melibatkan rakyat seluruh negeri, dengan bermacam hiburan dan aneka makanan.

Di dunia nyata, pesta "tujuh hari tujuh malam", meskipun tidak terus-menerus melibatkan seluruh rakyat, berlangsung mengiringi pernikahan para pangeran kerajaan, misalnya Pangeran William dan Kate Middleton di Inggris pada April 2011 dan orang tua William, Pangeran Charles-Putri Diana, 30 tahun sebelumnya.

Julia Perez pernah punya impian pesta pernikahannya dengan Gaston Castano digelar tujuh hari tujuh malam. "Saya enggak mau kalah, dong, sama Prince William. Saya mau masuk Guiness Book of World Records. Orang Indonesia juga bisa," katanya. Sayang, impian Jupe, baik menikah dengan Castano maupun menggelar pesta tujuh hari tujuh malam sekaligus mencatatkan namanya di buku rekor dunia, kandas.

Akan halnya rencana Disbudpar Kota Bandung itu, untunglah, batal digelar. Kepolisian tak memberikan izin keramaian. Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Angesta Romano Yoyol, menegaskan, polisi tidak memberikan izin kegiatan pesta rakyat tiga hari tiga malam dengan beberapa pertimbangan. Salah satu alasannya terkait dengan masalah keamanan dan ketertiban. Selain itu, jika Jalan Asia-Afrika, yang dijadikan titik pesta, ditutup, aktivitas lalu lintas di Kota Bandung akan terganggu. Kepala Disbudpar sendiri kemudian mengatakan perayaan tahun baru harus sederhana sesuai dengan instruksi Presiden Jokowi.

Rabu lalu Presiden menyampaikan kepada warga yang akan menyambut tahun baru untuk merayakannya secara sederhana. Alasannya, agar memberikan contoh yang baik dan tidak menimbulkan kecemburuan. Perayaan bisa berjalan dengan baik tanpa harus berlebihan, terutama yang diselenggarakan oleh hotel-hotel.

Bukan berarti setuju dengan instruksi Presiden kalau saya lebih menyukai perayaan yang sederhana. Saya sudah lebih dari dua puluh tahun menjadi minoritas: memilih di rumah saja di malam tahun baru. Kalau waktunya bertepatan dengan kerja kantor, saya akan menghabiskan malam di tempat kerja, lalu pulang setelah pekerjaan selesai. Mungkin saya masih sempat menyaksikan langit yang berhias kembang api dan mendengar terompet yang merepet-repet. Tapi saya akan langsung pulang ke rumah, tidak mampir dulu di mana pun.

Tidak berarti pula saya lebih suka mengucilkan diri atau bersikap asketis layaknya sufi. Bukan. Saya bukan penikmat pesta, itu saja. Saya ingat pada pesta perpisahan dengan teman-teman sekelas di SMA, sayalah satu-satunya yang tidak turun menari diiringi musik disko. Saya menikmati makan-makan dan minumnya, tapi ketika teman-teman saya berjingkrak-jingkrak, saya hanya duduk di sudut sendirian. Pusing kepala saya mendengar keriuhan teman-teman. Saya merasa kesepian di tengah keramaian. Mendengar musik yang berdentam-dentam itu, seperti di sebuah nyanyian Ebiet G. Ade, "Aku jadi teringat waktu ibuku di kampung menumbuk padi. Sebab, musik berdetak seperti lesung ditalu."

Tunggu, bukan berarti saya antipesta, ya. Dalam kadar tertentu, saya suka menonton pertunjukan. Waktu kecil saya penonton setia sandiwara Sunda dan wayang golek. Waktu remaja beberapa kali saya menyaksikan pergelaran musik dangdut di lapangan kecamatan, dengan penyanyi yang selalu berpakaian dan bergoyang seksi, tanpa pernah ikut berjoget.

Silakan berpesta, tentu saja. Namun ingat ada pepatah yang berbunyi: jangan bergembira jika kau sedang berada di jalan yang menurun sebab sebentar lagi kau akan menemui jalan yang menanjak. Jangan terlalu bergembira jika kau sedang berada di sebuah pesta sebab tak lama lagi pesta akan usai dan kau akan merasakan duka.

Menyambut hari pertama tahun baru, saya suka kata-kata penulis Brad Paisley: "Besok adalah halaman pertama buku kosong setebal 365 halaman. Tulislah yang terbaik." (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved