Coffee Break

Ongen

KABAR itu saya baca pertama kali di status Facebook Andi Arief, mantan aktivis itu, Kamis pagi lalu.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan

KABAR itu saya baca pertama kali di status Facebook Andi Arief, mantan aktivis itu, Kamis pagi lalu: "Gara-gara cuitan di Twitter, subuh buta ini Jokowi merintahkan Mabes Polri menangkap Dr. Y. Paonganan." Saya terkejut karena baik Andi Arief maupun Y. Paonganan bukan nama yang asing bagi saya.

Saya mengenal keduanya ketika tahun lalu sedang menyusun buku Gunung Padang. Andi adalah inisiator Tim Terpadu Riset Mandiri, kelompok ilmuwan Indonesia yang sedang meneliti situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Paonganan adalah salah satu anggota tim peneliti. Dengan Andi, saya beberapa kali berkomunikasi, baik langsung maupun lewat pesan inboks FB. Namun, dengan Paonganan, saya baru bertemu sekali. Itu pun dalam sebuah obrolan ringan bersama dengan para peneliti lainnya.

Nama panggilannya Ongen. Tubuhnya gemuk dan wajahnya yang bulat memancarkan aura cerdas dan jenaka. Ketika bicara, ia banyak tertawa.

Di buku Gunung Padang, saya menulis tentang Ongen sebagai berikut: "Dr. Y. Paonganan adalah ahli bioekologi dari Institut Pertanian Bogor yang meneliti flora dan fauna di Gunung Padang. Ia Executive Director Indonesia Maritime Institute, salah satu orang yang konsisten menyuarakan pentingnya Indonesia mengubah pola pikir menjadi negara maritim. Pria kelahiran 10 Juli 1970 di Batusitanduk, Sulawesi Selatan, ini sudah menunjukkan kecintaan kepada laut sejak kecil. Ia kemudian mengenyam kuliah Marine Biology di Universitas Hasanuddin, Makassar, lalu S2 dan S3 Marine Biology di IPB Bogor. Setelah mengemban tugas sebagai staf Menteri Perhubungan 2009-2010, pria yang akrab dipanggil Ongen ini mendirikan Indonesia Maritime Institute dan sekaligus menjadi pemimpin redaksi majalah Indonesia Maritime, Blue Lifestyle, dan TV streaming Indonesia Maritime TV. Salah satu bukunya berjudul 9 Perspektif Menuju Masa Depan Maritim Indonesia."

Pendek kata, Ongen itu ilmuwan hebat. Kapasitasnya sebagai ilmuwan itulah yang pasti membawanya bergabung dengan tim peneliti Gunung Padang, situs yang sampai sekarang tetap misterius.

Setelah penulisan buku Gunung Padang selesai, saya hanya beberapa kali berkomunikasi dengan sejumlah peneliti, terutama Dr. Danny Hilman Natawidjaja, Ir. Erick Ridzky, dan Dr. Ali Akbar, karena kami berteman di FB. Dengan Andi Arief, mantan staf khusus (mantan) presiden SBY itu, saya juga masih terhubung karena setidaknya saya sering membaca postingannya di FB. Tapi dengan Ongen tidak, karena kami tidak berteman di FB dan saya tidak punya akun Twitter.

Membaca status Andi itu spontan muncul sejumlah pertanyaan: benarkah Ongen ditangkap polisi? Apa sebabnya? Benarkah Jokowi yang memerintahkan agar Ongen ditangkap? Sebagai orang yang pernah mengenalnya, saya berharap berita itu hoax belaka.

Namun, segera kasus Ongen menjadi trending topic di media sosial. Ia dikabarkan ditangkap karena memosting foto Jokowi yang berdampingan dengan Nikita Mirzani disertai tulisan "Papa Doyan Lonte".

Duh. Benarkah Ongen melakukan hal itu? Saya sempat berpikir, karena berasal Sulawesi Selatan, ia tidak terlalu memahami apa makna kata lonte. Namun KBBI saja mengartikan lonte sebagai "perempuan jalang; wanita tunasusila; pelacur; sundal" disertai keterangan kas yang berarti kasar. Kata lonte dalam khazanah bahasa Jawa memang menunjukkan derajat bahasa sangat rendah dan merupakan penghinaan atas manusia.

Seperti kasus-kasus ujaran kebencian sebelumnya, kasus ini mendapat respons yang secara transparan terbelah dua: mengecam dan mendukung. Sebagian mengecam Polri, apalagi jika benar penangkapan itu dilakukan atas perintah Jokowi. Mereka menganggap pemerintahan Jokowi represif. Namun sebagian lain mendukung langkah Polri karena postingan itu sudah melampaui batas. Terhadap Ongen pun, tanggapan terbelah dua: satu pihak mengecam perbuatan Ongen, pihak lain mendukung, antara lain melalui tagar "bebaskan Ongen". Ketika dikabarkan Ongen menyesal atas perbuatannya, tanggapan lagi-lagi terbelah: ada yang mendukung, tapi ada pula yang mengecam karena menganggap Ongen tidak punya nyali.

Kasus ini, mestinya, membuat kita kembali menilai diri. Pertama, media sosial memang memberikan ruang ekspresi yang sangat luas. Namun, keluasan itu bukan tanpa batas. Tidak ada kebebasan yang sebebas-bebasnya. Kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Kedua, kritik dan penghinaan itu berbeda. Di dunia akademis dan ilmu pengetahuan, kritik itu lumrah. Kita boleh saja mengkritik Stephen Hawking, misalnya "theory of everything itu tidak masuk akal", tapi tentu kita tidak patut menghina Hawking sebagai "si ateis yang cacat".

Perkara begini mestinya dapat dipahami oleh siapa pun, apalagi seorang lulusan strata tiga. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved