Breaking News:

Coffee Break

Yang Mulia

Pada pertengahan 1970-an, sebuah kelompok sandiwara Sunda asal Jawa Barat manggung setiap malam selama lebih dari sebulan di desa kami.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Yang Mulia
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

SAYA penggemar sandiwara Sunda dan wayang golek. Pada pertengahan 1970-an, sebuah kelompok sandiwara Sunda asal Jawa Barat, namanya Miss Popon, manggung setiap malam selama lebih dari sebulan di desa kami, sebuah desa di Kabupaten Brebes. Saya menonton hampir tiap malam. Setelah di desa kami, kelompok itu manggung entah di mana. Mereka memang "mengamen" berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

Saya tidak tahu apakah masih ada kelompok sandiwara Sunda yang masih manggung berkeliling. Lebih tepatnya: saya tidak tahu apakah sekarang masih ada kelompok sandiwara Sunda. Seperti banyak macam seni tradisional lainnya, sandiwara Sunda sudah lama tergilas zaman.

Nasib kelompok wayang golek masih lebih baik. Kita masih dapat menikmati pergelaran wayang golek di banyak tempat, juga di radio dan televisi, meskipun tidak semeriah 30-40 tahun lalu.

Saya lebih akrab dengan seni wayang golek karena di desa saya pun, saat itu, ada dua kelompok seni wayang golek, lengkap dengan nayaga, sinden, dan gamelannya, yang kerap ditanggap di berbagai desa. Sampai sekarang, desa kami masih memiliki kelompok wayang golek meskipun sudah jarang berpentas.

Ada adegan yang selalu muncul baik dalam pementasan sandiwara Sunda maupun wayang golek, yaitu ketika rakyat atau bawahan menghadap raja atau orang terhormat lainnya. Mungkin terlihat basa-basi, tapi adegan itu menunjukkan betapa hormatnya rakyat kepada raja. Sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan wajah yang menunduk, rakyat atau bawahan akan mengucapkan kata-kata pengormatan kepada Yang Mulia Paduka Raja, "... ngahaturkeun sembah baktos ka hunjuk panjenengan Paduka Gusti...."

Raja, sebagai penguasa tertinggi di sebuah kerajaan, memang layak mendapat sebutan atau gelar Yang Mulia, Sri Paduka, dan sebagainya. Setidaknya sejak abad ke-14, penghormatan terhadap raja sudah tercatat pada Prasasti Kawali: nihan tapa kawali nu sang hyang mulia tapa bhagya parebu raja wastu mangadeg di kuta kawali.... [Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali...].

Di kerajaan-kerajaan Jawa Tengah dan Jawa Timur, gelar raja memakai kata-kata yang lebih panjang. Sebagai contoh, Hamengkubuwono X memiliki gelar lengkap Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senopati Ing Ngalogo Langgeng ing Bawono Langgeng, Langgeng ing Tata Panatagama.

Di era republik, pada 1960-an, Presiden Soekarno pernah mendapat sebutan "Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi". Namun sejak era Soeharto hingga sekarang, sebutan untuk presiden semacam itu sudah tidak ada lagi.

Di negara-negara kerajaan dunia, hingga saat ini pemimpinnya masih mendapat gelar yang terhormat. Sekadar contoh, Ratu Inggris mendapat gelar Her Majesty, Raja Malaysia bergelar Sri Paduka Yang Dipertuan Agong, dan Sultan Brunei memiliki gelar Ke Bawah Duli Yang Maha Mulia paduka Sri Baginda Sultan dan Yang Dipertuan Negara Brunei Darussalam.

Hubungan antarnegara juga diwarnai dengan sebutan kehormatan bagi para duta besar. Seorang duta besar dari Inggris disebut His Excellency atau Her Excellency (Yang Mulia). Duta besar Amerika Serikat bagi Inggris secara resmi disebut The Honorable (Yang Terhormat). Negara asal duta besar itu selalu disebutkan, misalnya "Yang Mulia Duta Besar Prancis".

Bagaimana dengan kebiasaan memanggil hakim dengan sebutan "Yang Mulia"? Apakah ada peraturan tertulisnya? Dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 19 Tahun 2009 tentang Tata Tertib Persidangan diatur soal kewajiban para pihak, saksi, ahli, dan pengunjung sidang untuk menghormati hakim. Tidak ada peraturan tertulis yang mengharuskan seseorang yang menghadiri persidangan untuk menyebut hakim dengan sebutan "Yang Mulia". Penyebutan itu hanyalah suatu cara untuk menunjukkan sikap hormat tersebut.

Lucunya, keharusan menyebut "Yang Mulia" justru muncul pada sidang Mahkamah Kehormatan Dewan pada kasus etik Setya Novanto. Di ruang sidang itu ada tulisan yang berbunyi: Perhatian!!! Bapak/Saudara Peserta Sidang yang Kami Hormati. Jangan Lupa untuk Penyebutan Anggota MKD dengan Sebutan "Yang Mulia Pimpinan/Anggota MKD".

Lebih lucu lagi karena para anggota MKD sendiri saling menyapa dengan didahului sebutan "Yang Mulia". Ditambah dengan kebiasaan sebagai anggota DPR yang senang saling menginterupsi, efeknya sangat terasa: alih-alih terhormat, mereka jadi terkesan konyol.

Mereka sedang mementaskan sandiwara, dengan sutradara entah siapa. Sayang nilai seninya sama sekali tak ada.

Ah, saya merindukan menonton wayang golek dan sandiwara Sunda. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved