Coffee Break
Sampurasun
SAAT saya di sekolah dasar, baik oleh guru-guru maupun orang-orang tua, kami dibiasakan mengucapkan punten jika hendak bertamu ke rumah orang.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
SAAT saya di sekolah dasar, empat puluhan tahun lalu, baik oleh guru-guru maupun orang-orang tua, kami dibiasakan mengucapkan punten jika hendak bertamu ke rumah orang. Kami belum terbiasa mengucapkan assalamualaikum. Entah karena penduduk desa kami tergolong "abangan" dibandingkan dengan penduduk desa tetangga yang "santri", entah semacam keinginan bawah sadar masyarakat untuk melestarikan tradisi Sunda.
Oh, ya, kami merasa sebagai orang Sunda meskipun secara administratif tinggal di Jawa Tengah. Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa bernama Jipang, Kecamatan Bantarkawung, satu dari tiga kecamatan di Kabupaten Brebes yang (sebagian besar) penduduknya berbahasa dan berbudaya Sunda. (Selain di Kabupaten Brebes, di Kabupaten Cilacap juga ada beberapa kecamatan yang penduduknya berbahasa Sunda.)
Punten berarti permisi. Tapi ada juga yang berpendapat kata punten merupakan kependekan dari abdi nyuhunkeun dihapunten (saya mohon dimaafkan). Selain ketika mengunjungi rumah orang lain, kata punten biasanya diucapkan pada saat kita lewat di hadapan (sekumpulan) orang lain, terutama jika jalan yang kita lewati sempit, dan ketika meminta seseorang untuk melakukan sesuatu. Sebagai balasan, dipakai kata mangga, yang berarti silakan atau ya. Ketika pulang dari rumah orang lain, diucapkan kata permios.
Pada satu atau dua dekade terakhir kata assalamualaikum-lah yang lebih sering diucapkan ketika kami mengunjungi rumah orang lain. Terjadi perubahan kebiasaan yang barangkali disebabkan masyarakat sudah lebih islami. Meski demikian, kata punten masih tetap dipakai. Artinya, kata punten dan assalamualaikum sama-sama dapat dipakai dalam situasi ketika orang berkunjung ke rumah orang. Namun pada dua situasi lainnya, kata assalamualaikum tidak cocok dipakai. Ketika kita lewat di depan orang lain dan ketika meminta seseorang melakukan sesuatu, kata punten-lah yang cocok. Namun, tentu saja kata assalamualaikum dipakai dalam situasi yang lebih luas, termasuk ketika bertemu dengan orang lain, baik satu maupun banyak orang, ketika berpisah, pada sebuah pertemuan banyak orang, ketika pulang dari rumah orang, dan sebagainya.
Ucapan sampurasun tidak banyak dikenal masyarakat desa kami. Saya tidak tahu apa sebabnya. Padahal, saya berpendapat bahwa bahasa yang dipakai masyarakat Sunda di Jawa Tengah, seperti bahasa Sunda masyarakat Banten, lebih tua dibandingkan dengan bahasa Sunda Bandung misalnya. Saya baru mengenal ucapan sampurasun ketika tinggal di Bandung. Itu pun hanya pada forum tertentu yang dihadiri banyak orang. Kata sampurasun mungkin saja dipakai ketika mengunjungi rumah orang lain dan ketika mengawali tulisan dalam surat, tapi tidak pernah diucapkan ketika kita lewat di depan orang lain, ketika meminta seseorang melakukan sesuatu, ketika bertemu dengan orang lain, dan ketika pulang dari rumah orang.
Kata sampurasun konon berasal dari sampurna ning ingsuh, yang bermakna "sempurnakan diri Anda". Tapi ada pendapat lain yang menyebutkan sampurasun terdiri atas kata-kata sam (sami/sama), pura (keindahan/kesucian/kedamaian), sun (sebutan bagi putra-putri bangsa Matahari) sehingga makna lengkapnya "(semoga) segala keindahan/kesucian/kedamaian (dilimpahkan) kepada segenap putra-putri bangsa Matahari." Boleh jadi ada tafsiran lain, tapi selama maknanya baik, bukan masalah.
Timbul masalah ketika ada kalangan yang curiga bahwa masyarakat Sunda hendak menggantikan assalamualaikum dengan sampurasun atau tetap mempertahankan sampurasun tanpa mau mengucapkan assalamualakum. Kalau ucapan sampurasun benar-benar milik orang Sunda sejak zaman sejarah awal, tentu tidak masuk akal kecurigaan bahwa mereka hendak menggantikan assalamualaikum dengan sampurasun.
Dulu saya tidak percaya orang sekaliber Gus Dur sungguh-sungguh ingin mengganti ucapan assalamualaikum dengan selamat pagi, kulo nuwun, atau apa pun. Saya belum pernah melihat langsung ataupun rekaman Gus Dur menyampaikan usulannya itu atau mendengar pengakuan orang tepercaya yang yakin bahwa Gus Dur memang menyampaikan usulan seperti itu. Saya juga belum pernah membaca tulisan Gus Dur yang berisi usulan itu.
Sekarang, saya tidak percaya orang Sunda, khususnya yang beragama Islam, ingin mengganti ucapan assalamualaikum dengan sampurasun atau tetap mempertahankan ucapan sampurasun tanpa mau mengucapkan assalamualaikum. Saya percaya orang Sunda yang beragama Islam mengucapkan assalamualaikum dan sampurasun secara bersamaan atau bergantian. Assalamualaikum dan sampurasun bukanlah dua pilihan yang bertentangan dan orang Sunda-Islam tidak harus memilih salah satunya. Kedua ucapan itu sering dipakai dalam konteks yang berbeda dan tidak selalu dapat saling menggantikan.
Masalah lain timbul jika terjadi pemelesetan terhadap salah satu ucapan itu dengan maksud melecehkan, misalnya sampurasun menjadi campur racun.... (*)