Coffee Break
Tukang Catut
KASUS Setya Novanto mengangkat lagi istilah "tukang catut" menjadi pembicaraan yang hangat.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Dedy Herdiana
KASUS Setya Novanto mengangkat lagi istilah "tukang catut" menjadi pembicaraan yang hangat. Padahal, tukang catut sudah lama tenggelam dari peredaran, seiring dengan bertumbangannya bioskop, terutama bioskop kelas bawah.
Di kampung saya, catut adalah nama alat pemotong kuku. Saya lebih suka memotong kuku dengan catut daripada memakai gunting, apalagi silet. Tapi di KBBI, catut memiliki dua arti: (1) angkup atau penjepit (untuk mencabut janggut dan sebagainya); (2) alat untuk mencabut (memotong) paku dan sebagainya, bentuknya seperti paruh burung kakaktua.
Di kamus yang sama, kata kerja mencatut mempunya empat arti: (1) mencabut dengan catut; (2) memperdagangkan (sesuatu) dengan cara yang tidak sewajarnya dan mengambil untung sebanyak-banyaknya (seperti memperdagangkan karcis bioskop dengan harga lebih daripada harga resmi); (3) mencari keuntungan dengan jalan tidak sah (misalnya dengan cara menipu atau mengakali); (4) menyalahgunakan (kekuasaan, nama orang, jabatan, dan sebagainya) untuk mencari untung.
Tukang catut yang populer di era keemasan bioskop berkaitan dengan arti kedua kata mencatut: memperdagangkan (sesuatu) dengan cara yang tidak sewajarnya dan mengambil untung sebanyak-banyaknya. Kapan munculnya "profesi" tukang catut bioskop?
Sebuah literatur menyebutkan tukang catut muncul di era pendudukan Jepang. "Orang yang jadi catut memang bukan sengaja. Karena itu tempo memang banyak yang tidak kerja," tulis Piso Tjoekoer (mungkin nama samaran) dalam Warisan Djepang terbitan 1946. Mingguan Djaja, 4 Mei 1963, bahkan menyebut inilah awal masa merajalelanya tukang catut di negeri ini.
Liberty, 1 April 1946, mendeskripsikan mencatut sebagai "gampangnya mendapat untung besar, lantas orang jadi tidak suka berusaha putar otak lebih keras atau gunakan tenaga urat lebih banyak buat mencipta apa-apa yang kekal."
Tukang catut bioskop berseliweran ketika sebuah film yang bagus, apalagi jika bintangnya terkenal, diputar. Sebab, penonton pasti akan ramai dan antrean untuk membeli tiket di loket akan panjang. Nah, tukang catut ini sudah mengantre duluan di depan, bahkan sering menyerobot antrean.
Mereka biasanya berkelompok sehingga orang tidak berani menegur. Lagi pula, kata Firman Lubis, seorang dokter dan penulis, untuk menjadi tukang catut, orang harus punya keahlian bela diri dan keberanian. Setelah membeli tiket, tukang catut menawarkan kepada calon penonton dengan harga dua atau tiga kali lipat.
Kehadiran tukang catut dibenci sekaligus disukai. Penonton kalangan menengah ke bawah membenci mereka karena harga yang berlipat itu. Namun, calon penonton kalangan atas justru mencari mereka. Berapapun harga tiket, calon penonton ini pasti membeli.
Meski tak ada lagi yang beraksi di bioskop, tukang catut sebetulnya masih berseliweran. Mereka muncul misalnya di sekitar stadion sepak bola, apalagi jika yang akan bertanding tim sekelas Persib Bandung, yang memiliki banyak pendukung. Pola kerja mereka sama: membeli tiket lebih dulu (mungkin ada kongkalikong dengan petugas loket), kemudian menjual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi. Hanya saja, entah kenapa sekarang mereka lebih populer disebut calo. Sebab, calo (makelar, perantara) adalah orang yang menjadi perantara dan memberikan jasanya untuk menguruskan sesuatu berdasarkan upah. Berbeda, bukan? Kalau ada tukang catut bioskop, mereka pun pantas kalau disebut tukang catut stadion.
Mencatut dalam arti ketiga, yakni mencari keuntungan dengan jalan tidak sah (misalnya dengan cara menipu atau mengakali), tampaknya kurang populer. Entah di daerah tertentu. Kita lebih kerap mendengar istilah lain, misalnya penipu.
Orang juga bisa mencatut umur, yakni mengatakan (mencantumkan) umur yang tidak sebenarnya. Dulu sering terjadi pencatutan umur di arena olahraga. Demi meraih prestasi tinggi, banyak atlet atau tim yang mencantumkan umurnya satu atau dua tahun lebih muda. Dengan ijazah aspal, seorang atlet yang sudah berumur 19 tahun bisa bertanding di kelompok umur 17 tahun.
Bagaimana dengan arti keempat kata mencatut, yakni menyalahgunakan (kekuasaan, nama orang, jabatan, dan sebagainya) untuk mencari untung? Sebetulnya, orang yang menyalahgunakan kekuasaan dan jabatan bukan hal yang aneh. Negeri ini bahkan dipenuhi dengan orang-orang demikian. Namun, mereka tidak pernah disebut tukang catut. Mereka lebih keren disebut koruptor.
Setya Novanto, jika benar sudah menyalahgunakan nama Presiden dan Wakil Presiden demi keuntungannya sendiri, memang pantas disebut tukang catut.
Tukang catut tingkat dewa. (*)
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Minggu (22/11/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twiiter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/hermawan-aksan-hijau-kotak-kotak_20150927_100220.jpg)