Sorot
Menunggu Adipura
TUGU Adipura di sebuah taman kecil di pertigaan Jalan Pajajaran-Jalan dr Tjipto itu sudah lama tak teperhatikan.
Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dedy Herdiana
TUGU Adipura di sebuah taman kecil di pertigaan Jalan Pajajaran-Jalan dr Tjipto itu sudah lama tak teperhatikan.
Bahkan ketika logam-logam bulat dari metal dan perunggu yang menghiasi tugu simbol penghargaan di bidang kebersihan itu hilang pun banyak yang tak peduli.
Mungkin hari-hari ini akan ada orang yang ingat kembali dengan keberadaan tugu Piala Adipura itu. Ya, ini berkaitan dengan diraihnya kembali piala itu ke Kota Bandung untuk kategori kota metro.
Bayangkan, tujuh belas tahun lamanya Kota Bandung tak pernah mendapat Piala Adipura. Artinya, Kota Bandung tak dilirik sebagai kota bersih.
Malahan pada 2005, pernah menyandang predikat kota terkotor se-Indonesia, ketika gunungan sampah di TPA Leuwigajah meledak dan menjadi bencana longsor yang menimpa seratus lebih warga Batujajar Timur.
Ketika itu, tak ada lagi tempat untuk membuang sampah Kota Bandung. Akibatnya, di pinggir jalan kecil dan jalan protokol, gunungan sampah menghiasi wajah Bandung.
Kabar penghargaan itu dilayangkan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Fanpage Facebook.
Dilengkapi dengan surat undangan untuk menerima penghargaan itu pada Senin 23 November 2015 di Jakarta.
Tentu ini kabar baik. Artinya upaya dan kerja keras Pemerintah Kota Bandung menjadikan Bandung sebagai kota bersih, bisa terwujud.
Program-program yang dihelat Kang Emil ternyata bisa menembus kebuntuan selama 17 tahun.
Pertanyaan sederhana yang muncul, apakah piala yang diraih Kota Bandung ini sudah sesuai dengan kenyataannya?
Dalam artian, apakah masyarakat sudah sepenuhnya sadar akan pentingnya kebersihan dan menjadikan kebersihan benar-benar sebagai bagian dari iman dan gaya hidup?
Apakah kebersihan itu hanya berada di titik-titik penilaian Adipura saja ataukah sudah menyeluruh ke penjuru kota?
Ini yang berat. Karena butuh waktu untuk benar-benar menciptakan masyarakat bersih yang ideal seperti itu.
Kegiatan yang sudah berlangsung selama ini, seperti Gerakan Pungut Sampah (GPS), harus menjadi lokomotif gerakan massal agar menjadikan bersih itu sebagai budaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/machmud-mubarok-_-triple_20151121_084412.jpg)