Coffee Break

Buaya

ANDA pernah melihat buaya tersenyum? Iya, buaya dalam arti sebenarnya, bukan dalam arti kiasan. Kalau Anda menjawab belum, saya pikir wajar.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan

ANDA pernah melihat buaya tersenyum? Iya, buaya dalam arti sebenarnya, bukan dalam arti kiasan. Kalau Anda menjawab belum, saya pikir wajar. Saya juga tidak bisa membayangkan seekor buaya menggerakkan bibir atau mulutnya sedemikian rupa sehingga membentuk sesungging senyum. Setidaknya senyum dalam makna yang dipahami manusia. Apakah binatang memang bisa tersenyum?

Tapi pernahkah Anda mendengar ungkapan senyum buaya? Ini jenis kata-kata kiasan yang bermakna "senyum palsu" atau "senyum yang bermaksud jahat".

Entah mengapa, di mata manusia, buaya adalah binatang jahat. Mungkin karena penampilannya yang mengerikan, dengan mulutnya yang lebar dan gigi-giginya yang tajam (hanya sedikit berubah karena evolusi semenjak zaman dinosaurus), dan makanan utamanya yang terdiri atas hewan-hewan bertulang belakang. Hewan pemakan daging memang kerap digolongkan sebagai binatang buas dan kata buas bermakna galak, liar, ganas, bengis, dan kejam. Saking buasnya, hewan pemakan daging dapat pula memangsa manusia.

Selain senyum buaya, ada lagi ungkapan yang memakai kata buaya, misalnya akal buaya, yang berarti "akal (pen)jahat". Juga ada mulut buaya, yang memiliki dua makna: (1) ucapan yang belum tentu kebenarannya (karena diucapkan oleh penipu atau penjahat) dan (2) bahaya besar; kesulitan yang amat sangat.

Ungkapan mulut buaya ini bisa kita temukan pada sebuah peribahasa yang pasti kita kenal: terlepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau, yang bermakna "terhindar dari suatu bahaya atau kesulitan yang besar, terjebak ke dalam bahaya atau kesulitan yang lebih besar." Jelas bahwa buaya memiliki makna situasi yang berbahaya.

Contoh peribahasa lain yang mengandung kata buaya adalah adakah buaya menolak bangkai. Mungkin peribahasa ini tidak tersohor seperti peribahasa sebelumnya, tapi artinya masih dalam tataran karakter negatif, yakni "orang yang jahat tidak akan meninggalkan kesempatan untuk berbuat kejahatan."

Ada lagi ungkapan yang mengandung kata buaya yang bermakna negatif. Sebut saja buaya darat, yang menurut KBBI berarti (1) penjahat (pencuri, pencopet, dan sebagainya); (2) penggemar perempuan (lebih tepatnya lelaki yang suka memperdayakan perempuan). Tidak sekadar di darat, ada pula buaya yang masuk ke pasar, buaya pasar, yang menurut KBBI berarti tukang copet.

Bahkan ketika kata buaya mendapat imbuhan sehingga menjadi kata kerja, maknanya tetap saja jahat. Kata membuaya berarti (1) menyerupai buaya; merangkak; (2) menjadi penjahat; mengganggu perempuan; sedangkan kata membuayai berarti (1) menipu; memperdayakan; (2) menggertak; menakut-nakuti.

Ungkapan yang mengandung kata buaya yang tidak bermakna jahat boleh jadi hanya lidah buaya dan jari-jari buaya. Lidah buaya adalah nama tumbuhan yang termasuk famili Liliaceae, dengan bentuk daun panjang seperti pedang, tebal, berdaging lembek dan berlendir, yang biasa digunakan untuk obat pencuci rambut; nama Latinnya Aloevera. Jari-jari buaya juga nama tanaman, dengan nama Latin Trichosanthes wallichiana.

Terlepas dari makna jahat atau tidak, warga Surabaya tampaknya bangga dengan julukan "Kota Buaya", sesuai dengan lambang kota itu. Malahan ada orang kepolisian RI yang pernah menganggap lembaganya buaya. Ingat, kan, ketika Susno Duadji menilai KPK sebagai "cicak" dan menyebut kepolisian sebagai "buaya"?

Nah, yang berikut ini soal buaya betulan. Kepala Badan Narkotika Nasional, Komjen Budi Waseso, mencetuskan ide yang mengejutkan: ia merencanakan membuat sebuah rumah tahanan khusus bagi para bandar narkoba yang dikelilingi kolam berisi buaya. Jenderal bintang tiga yang akrab disapa Buwas itu mengaku serius dengan wacana itu, sebagai bentuk tindakan tegas dalam pemberantasan narkoba.

Buwas memilih buaya karena hewan ini memiliki masa hidup yang panjang serta dapat hidup di darat dan di air. "Jadi, nantinya para pemakai dan bandar narkoba akan dalam pengawasan buaya yang mengililingi mereka," ujarnya. Buwas pun mengaku tak khawatir jika para bandar narkoba itu tewas dimakan buaya. Menurut dia, hukuman terberat dirasa paling tepat bagi para pengedar dan bandar narkoba. "Kalau (bandar narkoba) mati, kan yang bunuh buaya. Nanti yang dituntut biar buayanya. Buaya darat bisa dituntut, tapi buaya rawa enggak bisa," katanya.

Buwas dikabarkan berencana berkeliling Indonesia untuk mencari buaya yang paling buas. Ia sudah mengunjungi sebuah penangkaran buaya di Medan dan akan segera mengunjungi Sulawesi dan Papua.

Sungguh ide yang brilian, Jenderal.

Bagaimana kalau para koruptor juga ditempatkan di penjara yang serupa? (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved