Sorot
Mewaspadai Bencana
SEPEKAN sudah langit di hampir seluruh Jawa Barat digelayuti awan hitam.
Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
SEPEKAN sudah langit di hampir seluruh Jawa Barat digelayuti awan hitam.
Awan yang dirindukan menitikan air hujan tersebut hadir di pagi, siang, sore, bahkan malam hari.
Pergantian suhu yang menyebabkan tepukan udara setelah kilat, menimbulkan petir yang terdengar menggelegar seakan pertanda bahwa musim hujan telah tiba.
Lalu, air yang dirindukan pun membasahi rumput dan tanah kering.
Terkadang hadir dengan volume yang sangat tinggi.
Menjadi berbahaya saat tanah kering terbelah yang berada di lereng tergerus lalu bergerak dinamis menyebabkan rekahan hingga membuat longsoran.
Bencana pun menghantui di awal musim penghujan ini. Wilayah yang rawan terkena bencana pergerakan tanah langsung waspada.
Laporan demi laporan diterima pemerintah daerah setempat setelah sapuan badai menghampiri beberapa wilayah pada pekan ini.
Tercatat beberapa wilayah sudah menjadi kawasan berbahaya pergerakan tanah dan banjir.
Sejumlah persiapan pun dilakukan.
Mulai dari memberitahu masyarakat yang tinggal di lereng bukit untuk pindah, serta menyiapkan beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan jika bencana datang.
Pemberitahuan untuk meningkatkan kewaspadaan terlihat disampaikan langsung oleh pemerintah setempat bahkan ada yang melalui ustaz-ustaz di pengajian.
Melihat banyaknya titik rawan bencana di Jabar, tidak menutup kemungkinan bahwa kewaspadaan juga harus dilaksanakan kepada warga yang daerahnya tidak masuk ke dalam titik rawan.
Mengingat prediksi cuaca terkadang berubah-ubah setiap harinya.
Langkah awal yang bisa kita lakukan dengan menyimak informasi terkini mengenai curah hujan dari media online, koran, radio, maupun televisi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ferri-amiril-mukminin-sorot-kamis-12-november-2015_20151112_074807.jpg)