Breaking News:

Coffee Break

Ujaran Kebencian

BENCI itu masalah hati dan masalah hati sulit diprediksi. Peribahasa bilang "dalam laut bisa diduga, dalam hati siapa tahu".

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ujaran Kebencian
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

BENCI itu masalah hati dan masalah hati sulit diprediksi. Peribahasa bilang "dalam laut bisa diduga, dalam hati siapa tahu".

Saya punya teman yang memiliki cinta yang seakan tanpa batas kepada seorang wanita. Teman saya terus-menerus mengejar wanita itu dan tak henti menyatakan cinta baik melalui pesan singkat, telepon, maupun dalam pertemuan yang ia rancang sendiri di depan kantor si wanita—dengan cara mencegatnya di pintu keluar. Setahun lebih teman saya pantang mundur meskipun si wanita sudah jelas menolaknya dan bahkan beberapa kali merespons cinta teman saya itu dengan ucapan kasar menyebut nama binatang.

Level cinta teman saya itu mungkin nyaris setara dengan cinta Sabari kepada Marlena dalam novel Ayah karya Andrea Hirata. Sabari jatuh cinta sejak SMP kepada Marlena. Gadis itu tak pernah memedulikannya, bahkan kerap menghinanya, tapi Sabari tak pernah menyerah. Ia tetap mencintai Marlena, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian setelah wanita itu memiliki anak dari lelaki lain dan berganti-ganti suami.

Bagaimana kalau Anda berada di posisi teman saya atau Sabari? Wanita yang dicintai teman saya setengah mati itu tidak membalas cinta teman saya, bahkan mengujarkan kebenciannya dengan menyebut nama binatang. Begitu pula Marlena terhadap Sabari. Karena itu, mungkin saja Anda akan merasa terhina dan tidak punya cadangan kesabaran seperti mereka. Dan itu respons yang sangat masuk akal.

Ujaran kebencian (hate speech) wanita yang dicintai teman saya itu memang hanya contoh kecil dan individual. Secara lebih luas, seperti dikutip dari sebuah literatur, ujaran kebencian dapat didefinisikan sebagai "tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, atau hinaan terhadap individu atau kelompok lain terkait dengan ras, warna kulit, etnis, gender, orientasi seksual, agama, dan lain-lain."

Beberapa pekan belakangan istilah ujaran kebencian menjadi pembicaraan hangat di berbagai media, termasuk media sosial, setelah Kapolri Badrodin Haiti membuat surat edaran tentang penanganan ujaran kebencian, yang ditujukan secara intern kepada jajaran kepolisian. Muncul pro-kontra terhadap surat edaran ini. Banyak yang menganggap surat edaran itu akan mengekang kebebasan berpendapat sehingga negeri ini bakal mundur ke era Orde Baru. Sebaliknya, banyak yang mendukung surat edaran itu dengan alasan kebebasan berpendapat di negeri ini sudah makin kebablasan.

Dengan ilustrasi awal tadi, saya hanya ingin mengatakan bahwa menangani ujaran kebencian memang menjadi salah satu tantangan terbesar negara-negara demokratis di seluruh dunia. Sebab, di negara-negara demokratis, termasuk Indonesia di era reformasi, warga negara memiliki hak untuk bebas berbicara dan hak untuk menyatakan pendapat, yang harus dihormati dan dibela pemenuhannya oleh pemerintah. Di sinilah muncul dilema antara menyatakan pendapat dan kebencian.

Apakah ucapan dengan nama binatang itu merupakan ujaran kebencian atau ekspresi pendapat, Anda dan teman saya yang mencintai wanita itu boleh jadi memiliki penilaian yang berbeda.

Di media sosial, belakangan marak postingan baik berupa teks maupun gambar yang oleh banyak pihak dikelompokkan sebagai ujaran kebencian. Seorang pemilik akun Facebook pernah mengunggah tulisan yang sangat provokatif berupa ajakan untuk membasmi etnis tertentu. Sebuah akun lain menulis "Demi bangsa dan negara, secara terbuka saya mengajak semua komponen bangsa untuk bersama-sama membuang Islam dari Indonesia." Akun yang lain lagi menulis "Jika ada yang mengatakan Islam itu ajaran benar dari Allah, maka orang tersebut sudah musuh dari Allah. Sebab, Islam lahir karena setan benci kepada kebenaran.... Islam agama binatang tanpa terkecuali."

Menurut Anda, apakah contoh-contoh postingan itu dapat dikategorikan ekspresi kebebasan menyatakan pendapat?

Salah satu sosok yang paling sering dibuat meme-nya adalah Jokowi. Sejak era pemilihan gubernur DKI hingga sekarang, bertebaran gambar-gambar modifikasi dengan tokoh Jokowi. Satu di antaranya memperlihatkan Megawati sedang menggendong Jokowi, dengan balon kata- kata "mohon dukungannya buat anakku, Bang."

Menurut Anda, meme seperti itu merupakan ekspresi kebebasan berpendapat atau sekadar ungkapan kebencian?

Gampang-gampang susah, memang, menjawabnya.

Selamat bekerja, Pak Polisi. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved