Coffee Break
Pelawak Sejati
Setidaknya media massa dan media sosial terbukti menjadi ruang bagi khalayak yang menilai bahwa mereka sekali lagi sedang menunjukkan kebodohannya.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
APA reaksi Anda ketika menyaksikan berita di televisi atau membaca berita di media cetak dan media online yang memperlihatkan lima pimpinan dan sebagian anggota DPR mengenakan masker pada sidang paripurna, bahkan ketika menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya?" Kalau Anda merasa muak, mual, marah, atau yang sejenis itu, Anda pasti tidak sendiri.
Setidaknya media massa dan media sosial terbukti menjadi ruang bagi khalayak yang menilai bahwa mereka sekali lagi sedang menunjukkan kebodohannya. Di Facebook, misalnya, ada yang berkomentar dengan memasang ikon muntah, ada yang menulis "Asapnya di sana, pakai maskernya di sini", "pakai jas dan dasi tapi otaknya basi", "bukannya mencari solusi atau membikin UU yang melarang keras pembakaran hutan oleh perusahaan-perusahaan pengembang kelapa sawit, tapi malah ndagel", ada juga yang menulis singkat dan padat: "sakit jiwa".
Barangkali ada yang mengira bahwa saya hanya memilih komentar yang mencela para pimpinan parlemen itu. Ya, saya memang kesulitan menemukan komentar yang memuji atau mendukung. Di FB, hingga kemarin siang, saya tidak menemukannya. Di kompas.com dan detik.com, dua situs berita yang sempat saya lihat, misalnya, ratusan komentar hanya berisi cemoohan.
Tak kurang dari mantan menristek Muhammad A.S. Hikam menulis status panjang di akun FB- nya. Ini cuplikannya (setelah saya sunting seperlunya): "Ada kata pepatah, sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya. Pepatah ini agaknya pas untuk menggambarkan kekonyolan yang dipamerkan oleh pimpinan DPR ketika memimpin sidang paripurna hari ini (30 Oktober 2015). Maunya mungkin mereka cari simpati dengan memakai masker, supaya rakyat yang wilayahnya kena bahaya asap percaya bahwa DPR prihatin. Syukur-syukur kalau mereka bisa diajak mengkritik dan mempermalukan Presiden Jokowi karena dianggap gagal menyelesaikan masalah tsb.... SN dkk sudah kehilangan pikiran waras dengan pameran kekonyolan itu. Mungkin ia ingin menebus fiasco dalam Trump-gate beberapa waktu lalu dengan cara ini supaya rakyat lupa dan bersimpati. Tetapi yang terjadi adalah tampilan yang super norak: SN dan pimpinan DPR justru mirip makhluk-makhluk planet dalam film Star Wars yang nyasar di bumi. Dan memang sejatinya tak jauh-jauh amat penggambaran itu karena mereka memang kian asing di mata rakyat Indonesia. SHAME ON YOU ALL!"
Saya tidak tahu apakah orang-orang yang mencemooh, termasuk Pak Hikam, adalah mereka yang selama ini dikelompokkan sebagai Jokower. (Bukankah negeri ini masih terbelah menjadi dua: Jokower dan Prabower?) Sebab, para pimpinan DPR itu berasal dari KMP. Ah, barangkali pemisahan seperti itu terlalu sederhana untuk urusan pemakaian masker ini. Sayangnya, sampai saya menulis kolom ini, saya belum melihat satu pun postingan para kritikus Jokowi yang memiliki ribuan pengikut, seperti Jonru dan Nanik S. Deyang, mengenai dagelan masker itu.
Saya hanya menemukan satu pendapat yang mendukung, dari mulut anggota DPR asal Partai Demokrat Nurhayati Assegaf. Katanya, "Mengenakan masker di ruang sidang tidak menyalahi aturan." (Ingin rasanya saya menimpali kata-kata dia dengan kalimat ini: "Ngentut di ruang sidang juga tidak menyalahi aturan.")
Eh, ngomong-ngomong, ternyata ada juga, kok, komentar di media sosial yang berisi dukungan. Ini misalnya: "Seharusnya kita dukung retorika para pimpinan DPR ini. Ini adalah bukti konkret yang sangat bagus dan mendidik. Lebih bagus lagi sewaktu rapat tersebut gedung DPR-nya dibakar, agar lebih terlihat 'real' ada kepulan asap dan api!"
Kang Adi Raksanagara, seorang sahabat di FB, pun memuji: "Ide cemerlang mereka dalam menyikapi fenomena kabut asap di Indonesia saya acungi jempol. Mereka berhasil membuat saya hayang seuri deui.... Semakin yakin, ternyata rakyat tidak lebih bodoh daripada mereka."
Akhirnya, seperti Kang Adi, saya juga mau tak mau harus mengagumi para pimpinan DPR itu. Saya kagum karena mereka benar-benar konsisten: terus-menerus mementaskan dagelan. Mereka sukses mempertahankan reputasi yang sudah diraih sejak era 80-an, ketika kelompok lawak Srimulat, yang waktu itu rutin manggung di Taman Ria Remaja Senayan, makin surut penontonnya karena kalah lucu ketimbang para pelawak di gedung parlemen Senayan.
Menurut Bolot, pelawak sejati tidak pernah tertawa. "Kalau pelawaknya tertawa, penonton ngapain?" katanya.
Para pimpinan DPR itu tak ada yang tertawa ketika memakai masker di ruang sidang. Mereka benar-benar pelawak sejati. (*)