Sorot
Pelajaran dari Bus Bandros
Kita turut berduka cita atas meninggalnya Andy.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Dedy Herdiana
PENUMPANG bus pariwisata Kota Bandung, Bandung Tour on Bus (Bandros), Andy Setiawan Haryanto (19), mahasiswa Universitas Katholik Parahyangan, mengembuskan nafas terakhir, setelah mendapat perawatan sehari di Rumah Sakit Borromeus, Kamis (29/10).
Ia masuk ruang ICU setelah terjatuh dari lantai dua bus Bandros. Kabel yang melintang di jalanan kota menyeretnya hingga keseimbangannya hilang, lalu terjatuh ke aspal.
Kita turut berduka cita atas meninggalnya Andy. Kita berharap tak ada peristiwa nahas lainnya ketiba bus yang diadakan dari hasil sumbangan tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) itu melaju mengelilingi sejumlah kawasan bersejarah Kota Bandung.
Peristiwa ini memilukan dan membuat kaget, bukan saja keluarga dan teman-teman Andy tapi semua warga Bandung. Terlebih mereka yang sangat ingin merasakan keceriaan di atas Bandros dan belum kesampaian.
Sekadar pengingat, bus ini dikelola dua pihak, Badan Promosi dan Pariwisata Kota Bandung (BPPD) Kota Bandung dan lembaga yang dinamai Mang Dudung (Masyarakat Bandung Ngadukung Bandung).
Pemkot Bandung tak mengelola secara langsung karena pengadaan bus ini berasal dari CSR. Bus mulai beroperasi awal tahun 2014, meskipun rancang bangun bus ini baru disahkan Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan pada September 2015.
Ridwan Kamil yang kala itu baru terpilih menjadi Wali Kota Bandung menggagas bus wisata yang unik untuk menarik wisatawan datang ke Bandung.
Bus ini diharapkan mengurangi kemacetan kota karena wisatawan bisa memarkirkan kendaraan dan memakai Bandros untuk menikmati Bandung. Ridwan meresmikan bus ini 31 Desember 2013, bertepatan dengan malam tahun baru 2014 yang baru ada satu bus.
Pendekatan Ridwan kepada sejumlah perusahaan, menarik mereka untuk turut mendukung pariwisata Bandung. Hampir dua tahun beroperasi, kini sudah ada enam bus Bandros. Targetnya bakal ada 30 bus wisata serupa di Bandung.
Kehadiran bus Bandros disambut gembira masyarakat Bandung dan sekitarnya. Buktinya, tiap hendak melaju, penumpang harus antre mendapat tiket. Bahkan banyak yang kecewa karena tak kebagian tiket.
Maklum, kapasitas bus ini terbatas. Di lantai atas bila dimaksimalkan hanya mampu menampung 30 orang. Di bagian bawah hanya ada enam kursi bundar.
Selain untuk wisata, bus ini pernah digunakan pada event Konferensi Asia Afrika, menjamu tamu penting, dan konvoi kemenangan Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2014 dan Piala Presiden 2015. Selama itu pula, tak pernah terdengar adanya kecelakaan sampai pada peristiwa jatuhnya Andy Setiawan, pada Rabu (28/10).
Semua orang tak pernah menyangka bahwa insiden itu bakal terjadi. Tak menyangka karena prosedur keamanan untuk menaiki bus ini sudah dilakukan. Penumpang di lantai dua dilarang berdiri. Bisa jadi alasannya karena banyak ranting pohon yang menjulur dan kabel melintang ke jalan. Jika bebas berdiri, dikhawatirkan mereka akan celaka, seperti halnya yang menimpa Andy.
Kematian adalah suratan takdir Yang Maha Kuasa. Petugas sudah mengingatkan bahaya berdiri di lantai dua Bandros dan kecelakaan tetap terjadi. Kematian Andy adalah pelajaran penting bagi Pemkot Bandung, pengelola Bandros, dan masyarakat yang hendak menaiki Bandros.
Pemerintah perlu mengevaluasi keamanan operasional Bandros, apakah dari rancang bangun bus, atau keamanan jalan-jalan yang dilewati.