Sorot
Habis Asap Terbitlah Sawit
Warga yang jauh dari tempat terdampak bisa menunjukkan kepeduliannya dengan memberikan donasi. Tak perlu dilihat kemampuan keuangan kita
Penulis: Darajat Arianto | Editor: Machmud Mubarok
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan yang tercatat sejak 1 Juli 2015 hingga 23 Oktober 2015.
BNPB menyebut 10 orang meninggal dunia dan 503.874 jiwa terserang penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melalui pesan yang diterima Tribunnews mengatakan, korban-korban terkena dampak langsung dan tidak langsung akibat asap berasal dari Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Kondisi asap memang sudah sangat mengkhawatirkan. Korban jiwa yang tak berdosa umumnya adalah anak-anak yang kondisinya memang masih rentan.
Kerugian lainnya yang bersifat materi tentu tak sedikit. KompasTV menyebutkan, 25,6 juta orang menderita akibat kabut asap dengan kerugian materil sekitar Rp 20 triliun. Akibat asap di hutan yang tak berhenti juga membuat 408 penerbangan dibatalkan.
Hal yang bikin miris adalah seperti yang disampaikan Sutopo melalui twitternya seperti dikutip Kompas.com. @Sutopo_BNPB mengunggah foto lahan bekas terbakar dan beberapa sawit yang masih hijau.
Foto itu telah di-retweet 1.025 kali dan mendapat label favorit dari 136 akun.
"Lahan bekas kebakaran di Nyaru Menteng Palangkaraya sudah ditanami Kelapa Sawit. Habis bakar terbitlah Sawit," demikian caption foto dari kicauan tersebut.
Jika hal itu benar, sungguh sangat miris cara yang dilakukan pengusaha sawit. Setelah membakar hingga mengakibatkan korban jiwa, dengan entengnya mereka bersiap menanam sawit.
Karena itu, sebagai warga negara Indonesia, kita harus prihatin terhadap bencana kabut asap ini, baik yang sengaja dibakar atau akibat alami.
Meski kita yang tinggal di Jawa tidak terkena dampaknya, rasa prihatin dan kepedulian sosial harus diasah.
Bayangkan jika kita ada di antara puluhan juta penduduk yang terpapar asap yang pekat dan tak kunjung berkesudahan. Tentu sangat tersiksa dengan udara yang kotor dan pekat serta tak lagi bisa melihat sinar matahari.
Untuk itu, salat Istisqa yang dilaksanakan di beberapa daerah merupakan langkah tepat yang dilakukan umat muslim untuk meminta hujan.
Sebagai makhluk lemah, manusia hanya bisa berusaha dan permintaan diturunkannya hujan hanya ditujukan kepada Sang Khalik.
Selama ini, usaha juga terus menerus dilakukan sejak musim kemarau tiba 6 bulan lalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/darajat-profil-besar_20150708_102823.jpg)