Breaking News:

Coffee Break

Ceng Ho

MESKI hanya seorang kasim, Ceng Ho (1371-1433) tercatat sebagai penjelajah besar. Ia memiliki armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ceng Ho
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

MESKI hanya seorang kasim, Ceng Ho (1371-1433) tercatat sebagai penjelajah besar. Ia memiliki armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia. Ia juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa. Selain itu, ia pemimpin yang arif dan bijaksana: dengan armada yang begitu banyak, dia dan anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah di mana pun tempat para armadanya merapat.

Cheng Ho, atau Zheng He, pernah tujuh kali mengunjungi kepulauan di Indonesia. Ia mengunjungi Samudera Pasai, memberikan sebuah lonceng raksasa kepada Sultan Aceh, yang kini dikenal dengan nama "Cakra Donya" dan tersimpan di museum Banda Aceh. Ia juga berlabuh di Muara Jati (Cirebon) dan menghadiahkan beberapa cendera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Ia sempat berkunjung pula di Kerajaan Majapahit pada masa Raja Wikramawardhana.

Kalau kita menyebut Ceng Ho "hanya" seorang kasim, memang begitulah statusnya. Meski berdiam di istana, seorang kasim umumnys hanyalah pelayan, hamba, atau budak. Orang kasim adalah laki-laki yang telah dikebiri. Mereka kehilangan kesuburannya karena buah zakarnya telah dibuang.

Dalam bahasa Inggris, orang kasim disebut eunuch, dari kata dalam bahasa Yunani, eune ("tempat tidur") dan ekhein ("menjaga"). Jadi, kata ini berarti "penjaga tempat tidur". Mereka dikebiri untuk menjadikan mereka pelayan yang aman di istana kerajaan. Setidaknya, kasim tidak dapat bermain-main dengan permaisuri atau selir raja.

Sejarah paling awal tentang pengebirian secara sengaja untuk menghasilkan orang kasim bisa ditelusuri hingga abad ke-21 sebelum Masehi, yakni di kota Lagash, Sumeria (selatan Irak sekarang). Sejak itu, selama ribuan tahun orang kasim melakukan berbagai fungsi di berbagai kebudayaan, seperti pelayan istana atau pelayan rumah tangga yang sejenis, penyanyi laki-laki dengan suara tinggi, petugas-petugas keagamaan khusus, pejabat pemerintah, komandan militer, dan pengawal kaum perempuan atau pelayan di harem.

Kebiri, disebut juga pengebirian atau kastrasi, adalah tindakan bedah dan atau menggunakan bahan kimia dengan tujuan menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina. Pengebirian dapat dilakukan baik pada hewan maupun manusia. Kebiri dengan bedah atau bahan kimia tentu saja lebih aman dibandingkan dengan pemotongan seluruh alat kelamin pria, baik testis maupun sekaligus penis, seperti yang pernah terjadi di zaman purba. Praktik ini sangat berbahaya dan kerap mengakibatkan kematian akibat pendarahan hebat atau infeksi sehingga dalam beberapa kebudayaan, seperti Kekaisaran Bizantium, pengebirian disamakan dengan hukuman mati.

Pertanyaannya, apakah hukuman kebiri akan membuat seseorang menjadi tak berdaya? Pada satu aspek, ya. "Kebiri berdampak pada hilangnya nafsu secara seksual atau libido. Tak hanya itu, dampaknya pun meluas pada kesehatan fisik. Dampak lain, otot berkurang, lemak meningkat. Jadi, gairah hidup berkurang, semangat hidup berkurang," kata seksolog Wimpie Pangkahila.

Namun, pada aspek lain, belum tentu. Menurut catatan, selain Ceng Ho, banyak orang kasim yang berperan penting dalam perjalanan sejarah. Pada abad kelima SM, Daniel memegang jabatan penting di istana Raja Nebukhadnezar. Pada abad keempat SM, Bagoas, yang menjadi kesayangan Alexander Agung, berperan mengubah sikap Alexander terhadap orang-orang Persia dan karenanya juga dalam keputusan kebijakan raja untuk mencoba mengintegrasikan sepenuhnya bangsa-bangsa taklukan ke dalam kerajaannya sebagai warga yang setia. Pada abad kedua SM, Sima Qian adalah orang pertama yang mempraktikkan historiografi modern: mengumpulkan dan menganalisis sumber-sumber primer dan sekunder untuk menulis buku sejarahnya yang monumental tentang kekaisaran Tiongkok. Pada abad pertama SM, Ganymedes adalah penasihat dan jenderal yang sangat andal dari saudara perempuan dan saingan Cleopatra VII, Putri Arsinoe. Dan seterusnya.

Lagi pula, kata Nalini Muhdi, psikiater dari Unair, Surabaya, "Motivasi pelaku kejahatan seksual tak melulu soal seks. Dalam tiap kejahatan seksual, ada faktor agresivitas. Kebiri hanya menekan dorongan seksual pelaku, tapi tak bisa mengatasi agresivitasnya. Tertekannya dorongan seksual bisa meningkatkan agresivitas pelaku sehingga bisa melakukan berbagai tindak kekerasan lain."

Sebagaimana umumnya manusia, orang kasim belum tentu orang baik seperti Ceng Ho. Sporus adalah kasim kesayangan yang kemudian membunuh junjungannya sendiri, Kaisar Nero. Judar Pasha memimpin agresi pasukan Maroko ke Kekaisaran Songhai di Afrika.

Tiap tindakan memang ibarat pisau yang selalu bermata dua. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved