Sorot
Jalan Masih Panjang
MUSIM kemarau sudah sampai di penghujung.
Penulis: Arief Permadi | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
MUSIM kemarau sudah sampai di penghujung. Tanda-tandanya sudah mulai terlihat. Hujan sudah mulai turun meski masih sekali-sekali.
Kecuali di wilayah timur, di Kota Bandung hujan mulai sering. Beberapa di antaranya bahkan sangat lebat dan disertai angin kencang.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, sejumlah titik juga langsung tergenang tak lama setelah hujan turun. Pascahujan, Rabu (7/10/2015) sore, genangan terlihat di kawasan Dago, Cicadas, Jalan Jakarta, Antapani, dan beberapa titik di Jalan Soekarno Hatta.
Genangan juga terlihat di Jalan Cihampelas, Cibeunying dan Jalan Kiaracondong. Di lokasi yang disebut terakhir, genangan bahkan sempat mencapai sekitar setengah meter.
Syukurlah, seperti kedatangannya, genangan ini juga dengan cepat surut.
Namun, jika untuk hujan yang sebentar saja jalanan kota sudah kembali tergenang, bisa kita bayangkan kondisinya saat musim hujan sudah benar-benar tiba.
Pada puncaknya, hujan terkadang bisa turun semalaman. Yang akan terjadi mungkin bukan cuma tergenang, tapi benar-benar banjir.
Kondisi diperparah dengan semakin dangkalnya sungai yang melintasi kota. Lebar sungai juga terus menyempit karena terserobot permukiman warga.
Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung mencatat, 50 persen bantaran sungai di Bandung dalam penguasaan warga. Kondisi terparah berada di Sungai Citemus.
Menurut Kepala Seksi Pemeliharaan Pengairan DBMP Kota Bandung, R Deni Saputra, kepada Tribun di Balai Kota, Jumat (16/10/2015), 65 persen bantaran Sungai Citepus ini sudah menjadi rumah.
Sebagian warga, bahkan menggunakan kirmir sungai sebagai fondasi rumah. Kondisi ini jelas berbahaya karena kirmir-kirmir itu bisa saja jebol suatu saat.
Pada musim hujan bantaran itu menjadi rawan longsor karena pengikisan yang terus menerus terjadi.
Kerawanan semakin tinggi mengingat rata-rata usia kirmir sungai di Kota Bandung sudah tua- tua.
Di beberapa titik bahkan ada juga kirmir yang masih dipertahankan, padahal kirmir itu dibangun pada masa penjajahan Belanda.
Memindahkan penduduk dari lokasi yang sudah puluhan tahun mereka huni tentu bukan sesuatu yang mudah dilakukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/arief-permadi-sorot-kamis-22-oktober-2015_20151022_091638.jpg)