Coffee Break

Patrice Rio

ADA beberapa kemiripan antara Anas Urbaningrum dan Patrice Rio Capella. Keduanya sama-sama masih muda, cepat melambung di dunia politik, tapi...

Patrice Rio
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

ADA beberapa kemiripan antara Anas Urbaningrum dan Patrice Rio Capella. Keduanya sama-sama masih muda, cepat melambung di dunia politik, tapi kemudian terjerembap karena kasus serupa: korupsi. Bedanya, Anas sudah divonis bersalah dan dihukum penjara delapan tahun (diperberat oleh Mahkamah Agung menjadi 14 tahun), sedangkan Rio baru dikenai status tersangka penerima suap oleh KPK.

Baik Anas maupun Rio sama-sama lahir pada 1969. Anas lahir pada 15 Juli, Rio pada 16 April, atau kira-kira dua bulan lebih tua. Di era sekarang, ketika para politikus tua, di atas 60 tahun, masih riuh berebut kuasa, usia 46 tahun masih terbilang muda. Tapi bukan hanya itu. Keduanya sejak muda seakan menapaki jalan karier politik yang lempang.

Mereka sama-sama menjadi aktivis saat mahasiswa. Anas melalui jalur Himpunan Mahasiswa Islam hingga mencapai posisi ketua umum pada 1997, sedangkan Rio melalui Komite Nasional Pemuda Indonesia hingga menjadi wakil sekretaris jenderal pada periode 1999-2002. Anas kemudian bergabung dengan Partai Demokrat dan belakangan, pada 2010, terpilih menjadi ketua umum pada usia 41 tahun. Rio turut mendirikan Partai Amanat Nasional dan sempat menjadi wakil sekjen DPP PAN periode 2010-2015, tapi belakangan bergabung dengan ormas Nasional Demokrat, yang kemudian berubah menjadi Partai Nasdem. Di partai inilah ia menjadi ketua umum pada 2011-2013 (sebelum posisinya diambil alih Surya Paloh). Saat itu, bersama Anas, Rio menjadi salah satu tokoh muda yang mampu mencapai posisi politik tinggi di Indonesia.

Oh, ya, pada 2005, di usia 36 tahun, Rio sempat menjadi calon wakil gubernur Bengkulu berpasangan dengan Kol. Inf. Muslihan sebagai calon gubernurnya. Namun, ketika itu mereka kalah tipis oleh pasangan Agusrin M. Najamudin dan Syamlan di putaran kedua.

Ada satu lagi kemiripan antara Anas dan Rio. Anas pernah ikut tampil sebagai bintang iklan Partai Demokrat dengan jargon "Katakan tidak pada korupsi". Iklan kampanye pada Pemilu 2009 itu jelas berisi ajakan untuk menolak korupsi. Selain Presiden SBY dan Anas, ada sejumlah tokoh lain dalam iklan itu, yakni Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, dan Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas. Uniknya, sebagian besar para bintang iklannya justru terjerat kasus korupsi: Anas, Andi, dan Angie.

Di Partai Nasdem, Rio memproklamasikan sebuah visi perubahan yang terkenal: Restorasi Indonesia. Dikutip dari laman partai itu, restorasi didefinisikan sebagai gerakan memulihkan, mengembalikan, serta memajukan fungsi pemerintahan Indonesia kepada cita-cita Proklamasi 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan berbangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Secara lebih khusus, Restorasi Indonesia yang diusung dan akan terus dilakukan Partai Nasdem mencakup empat kata kerja, sekaligus "kata kunci" perjuangan partai ini, yaitu memperbaiki, mengembalikan, memulihkan, dan mencerahkan. Salah satu poin fakta dalam uraian kata kunci "mengembalikan" berbunyi "mental pejabat negara telah rusak, rasa malu di kalangan pejabat publik telah hilang, terlihat dari banyaknya pejabat yang tidak malu melakukan korupsi." Nah, dalam restorasi terhadap fakta itu dikatakan bahwa "Yang hilang disemai kembali. Rasa malu itu harus disemai kembali: hukuman bagi para koruptor diperberat minimal 10 tahun penjara, tidak boleh ada remisi hukuman bagi koruptor, menjadikan sebuah pulau terluar sebagai penjara khusus bagi para koruptor."

Pada Kamis, 15 Oktober 2015, KPK menetapkan Rio sebagai tersangka. Ia diduga menerima sejumlah uang dalam kaitan dengan penanganan perkara di Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Agung. KPK menjerat Rio dalam kasus dugaan gratifikasi proses penanganan perkara bantuan daerah, tunggakan dana bagi hasil, dan penyertaan modal sejumlah badan usaha milik daerah di Provinsi Sumatra Utara. Kasus ini merupakan pengembangan dari kasus yang menimpa Gubernur Sumatra Utara (nonaktif) Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti.

Proses hukum Rio di KPK memang baru di tahap awal. Banyak pejabat lain di negeri ini yang menolak mundur atau melepaskan jabatan meskipun sudah dikenai status tersangka. Namun, segera setelah ditetapkan sebagai tersangka, Rio langsung menyatakan mundur dari posisi sekretaris jenderal Partai Nasdem sekaligus anggota DPR RI dan mundur pula dari keanggotaan partai itu.

Pengadilanlah yang kelak akan memutuskan apakah Rio terbukti atau tidak melakukan korupsi. Namun, menarik ditunggu apakah komentar Rio mengenai status tersangkanya dalam kaitan dengan jargon Restorasi Indonesia.

Yang jelas, makna restorasi di sini bukanlah salah satu gerbong di kereta api. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved