Sorot
Sungai Citarum
Sungai yang mengaliri 12 wilayah kabupaten/kota di Jabar ini mengalir dari hulunya di Gunung Wayang, selatan Kota Bandung, dan bermuara di laut Jawa.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Dedy Herdiana
WARGA Jawa Barat boleh berbangga hati karena memiliki sungai Citarum yang menjadi bagian denyut nadi perekonomian Indonesia. Apalagi terhampar industri di sungai yang panjangnya 269 kilometer.
Sungai yang mengaliri 12 wilayah kabupaten/kota di Jabar ini mengalir dari hulunya di Gunung Wayang, selatan Kota Bandung, dan bermuara di laut Jawa.
Selain menjadi sumber air irigasi untuk 420.000 hektare sawah, air Citarum juga menjadi sumber air minum untuk masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung.
Dan tentu saja masih banyak manfaat besar lainnya dari keberadaan sungai Citarum ini.
Namun kebanggaan ini seolah hilang ketika musim hujan tiba. Mengapa? Karena Citarum kerap menjadi kambing hitam terendamnya ribuan rumah warga di Kabupaten Bandung dan beberapa daerah lain yang dilaluinya.
Pejabat pemerintah, pengamat sosial, lingkungan, dan masyarakat akan mengatakan, sungai Citarum sudah tak mampu lagi menampung air hujan sehingga air meluber ke permukiman dan jalanan. Benar.
Sebabnya karena sedimentasi dalam setahun bisa mencapai 500 ribu meter kubik. Berkurangnya kedalaman sungai itu akibat abrasi yang terjadi di hulu Citarum karena pohon-pohon di Gunung Wayang dibabat.
Musim hujan belum datang tapi Citarum tetap saja menjadi kambing hitam. Bukan karena banjir, tapi bau busuk yang bersumber dari air sungai yang kini tak lagi cokelat, tapi hitam pekat.
Kondisi Citarum semakin kritis. Selain penggundulan hutan di hulu, masyarakat bertahun-tahun mencemarinya dengan menjadikan Citarum sebagai tempat sampah.
Bayangkan, setiap tahun ada 9.000 meter kubik sampah masuk ke sungai ini. Lalu ada 100 ton per hari tinja manusia dibuang ke sana. Ditambah kotoran hewan ternak milik masyarakat, jumlahnya bisa jadi tak terhitung.
Wajah kian buruk setelah perilaku pengusaha industri juga ikut membuang limbah ke sungai tanpa diposes melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang baik.
Greenpeace Indonesia, lembaga yang konsen pada lingkungan hidup pernah mencatat, di hulu Citarum ada sekitar 500 pabrik dan hanya sekitar 20 persennya yang mengolah limbah sebelum dialirkan ke sungai.
Kondisi sudah berlangsung lama. Bahkan pada 2013, Citarum sempat dinobatkan sebagai sungai paling tercemar di dunia berdasarlan laporan tahunan organisasi lingkungan Green Cross Swiss dan organisasi nirlaba Blacksmith Institute Internasional.
Lembaga ini menyebut, pabrik tekstil di Bandung dan Cimahi sebagai penyumbang pencemaran air Sungai Citarum.
Kini Citarum tak ramah. Bau busuk yang bersumber dari air sungai yang hitam pekat berpotensi besar memunculkan banyak wabah penyakit bagi warga yang tinggal di sekitar Citarum.