Sorot
Catatan dari Piala Presiden
PIALA Presiden jelas bukan model atau formula yang pas.
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
PIALA Presiden mungkin berhasil menjadi oase untuk menghilangkan dahaga para penggila sepak bola di tengah kekeringan yang sedang melanda persepakbolaan di tanah air.
Namun Piala Presiden jelas bukan model atau formula yang pas sebagai penyelenggaraan sebuah turnamen (kompetisi atau apalah namanya) yang baik.
Pasalnya Piala Presiden memiliki banyak borok dan kelemahan yang sama seperti pada penyelenggaraan kompetisi Liga Indonesia misalnya.
Borok itu misalnya, kepemimpinan wasit yang masih memprihatinkan, pemain yang jauh dari sikap profesionalisme dan semangat fair play, fanatisme penonton yang kebablasan, dan sederet catatan negatif lainnya.
Celakanya borok-borok itulah yang terbukti mematikan sepak bola Indonesia.
Bonek FC yang memilih tidak melanjutkan pertandingan melawan Sriwijaya FC pada pertandingan kedua babak perempatfinal Piala Presiden di Stadion Jakabaring, Palembang, Minggu (27/9/2015), menegaskan kenyataan bahwa sepak bola kita sedang sakit parah.
Pilihan Bonek FC memilih walkover (WO), boleh jadi sebagai bentuk protes keras karena merasa dicurangi setelah wasit memberikan hadiah penalti kepada tim tuan rumah.
Namun langkah Bonek FC jelas akan sia-sia karena kenyataannya Sriwijaya FC tetap melenggang ke semifinal.
Makin terkikisnya profesionalisme dan fair play juga tergambar jelas pada tarung Persib dengan Pusamania Borne FC di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu (26/9/2015).
Pertandingan yang mempertemukan dua tim bertabur pemain bintang ini ditandai lebih dari sepuluh kartu kuning dan tiga kartu merah.
Dengan rekor kartu seperti itu, tarung tim Maung Bandung dengan Borneo FC tersebut, jelas bukan pertandingan yang nyaman untuk ditonton.
Ini adalah pertandingan penuh emosi sekaligus keras, bila tidak mau dikatakan sebagai pertandingan yang barbar.
Tanpa berniat meniadakan semangat dan kerja keras pemain dalam memburu kemenangan, pada pertandingan tersebut hampir semua pemain tampil emosional dan menanggalkan profesionalisme dan fair play di luar lapangan hijau.
Maka sukses Persib merebut tiket semifinal Piala Presiden pun diikuti oleh keluhan dari mereka yang selama ini merindukan sebuah pertandingan seru sekaligus berkelas tanpa dibumbui banyak takling keras, adu mulut, dan keributan antarpemain.
Dari kasus Bonek FC yang melakukan walkover di Stadion Jakabaring dan hujan kartu pada pertandingan Persib lawan Borneo FC di Stadion Si Jalak Harupat, jelas sudah bahwa pembenahan sepak bola di tanah air masih jauh panggang dari api.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/deni-ahmad-fajar_20150615_151507.jpg)