Coffe Break

Drona

JIKA ada yang menyebutku dengan nama lain,...

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Hermawan Aksan. 


NAMAKU Drona. Jika ada yang menyebutku dengan nama lain, jelas itu upaya menista nama yang sudah kubangun sejak aku menimba ilmu di padepokan Parasurama.

Dan jika ada yang menulis kisah yang berbeda dengan kisahku yang sesungguhnya, bahwa aku manusia nista dan tercela, jelas itu usaha menghancurkan tidak hanya namaku, tapi juga hidupku.

Entah siapa yang menciptakan seorang kesatria bernama Bambang Kumbayana, apalagi dengan watak yang tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicara, dan pendusta, dengan bentuk anggota badan dan wajah yang sangat buruk pula.

Akan kukejar dia hingga ke ujung dunia.

Aku memang bukan resi yang sempurna dalam jalan darma.

Aku juga bukan manusia yang tertata dalam tutur kata.

Namun masih banyak sisi jalan kebajikan yang kupersembahkan demi umat manusia.

Dan lihatlah senjataku, Brahmastra, yang selalu kupergunakan dalam menegakkan kebajikan dan darma.

Kalau di luar sana beredar kisah tentang pusaka bernama sama, ketahuilah bahwa kisah itu, bahkan pusaka itu, palsu belaka.

Apalagi jika senjata bernama Sengkali atau Cundamanik, pastilah itu bukan senjata milikku.

Inilah Brahmastra, pusaka ciptaan Dewa Brahma yang diberikan langsung Parasurama.

Aku memang bukan kesatria karena aku keturunan seorang brahmana.

Aku anak pendeta sederhana bernama Bharadwaja.

Mungkin terlalu bagus jika dipakai kata sederhana.

Aku menjalani masa kecil dalam hidup yang papa.

Meskipun demikian, aku berhasil menimba ilmu dan pengetahuan kepada Sang Parasurama.

Siapa tidak mengenal salah satu perwujudan Dewa Wisnu ini?

Kureguk semua ilmunya demi menjadi manusia yang mendekati sempurna—tentu saja karena tak satu pun manusia yang dapat mencapai tingkat sempurna.

Setidaknya, aku pernah berguru bersama dengan pangeran dari Kerajaan Panchala bernama Drupada.

Kami menjadi sahabat dekat, begitu dekat hingga melebihi sesama saudara.

Drupada bahkan pernah berjanji untuk memberikan setengah kerajaannya kepadaku jika ia sudah menjadi Raja Panchala.

Aku tidak pernah menagih janji Drupada karena aku sadar bahwa jalanku tetaplah menjadi resi atau brahmana, bukan raja.

Namun, di titik inilah para ahli sastra memutarbalikkan fakta dengan membuat cerita bahwa aku pernah datang untuk menuntut hak separuh Kerajaan Panchala.

Dikisahkan bahwa Drupada menolak tuntutanku, seraya memberikan penjelasan yang panjang kepadaku tentang masalah kenapa ia tidak mau mengakuiku.

"Persahabatan adalah mungkin jika hanya terjadi antara dua orang dengan taraf hidup yang sama," kata Drupada sebagaimana ditulis para ahli sastra.

Dikisahkan pula bahwa Drupada berkata, sebagai anak-anak, adalah hal yang mungkin baginya untuk berteman denganku karena pada masa itu kami sama.

Namun sekarang Drupada menjadi raja, sedangkan aku berada dalam kemiskinan.

Dalam keadaan seperti ini, persahabatan adalah hal yang mustahil.

Dikisahkan pula selanjutnya bahwa aku marah dan merasa dihina, kemudian balik menghina Drupada.

Lalu Mahapatih Gandamana murka sehingga terjadi peperangan yang tidak seimbang.

Aku menjadi bulan-bulanan Gandamana sehingga nyaris sekujur tubuhku rusak.

Dalam versi yang berbeda, diceritakan bahwa aku datang di Kerajaan Panchala tanpa mengindahkan sopan santun ketika Raja Drupada sedang mengadakan pertemuan dengan para menterinya.

Dikisahkan bahwa aku langsung saja masuk ke balairung dan segera menyapa sahabatku dengan nama kecilnya.

Patih Gandamana langsung menyeretku keluar dari istana dan menghajarku habis-habisan. Aku berusaha melawan tapi kalah sakti.

Tanganku dipatahkan, hidungku jadi bengkok, mataku menjadi picak, dan tubuhku bungkuk.

Semua kisah itu tidak benar. Bagaimana bisa Gandamana mengalahkanku, apalagi membulan- bulaniku?

Aku yakin Gandamana tidak ada apa-apanya dibandingkan kesaktian rajanya, Drupada.

Dan bukan berniat sombong jika kukatakan bahwa aku dan Drupada memiliki kesaktian yang setara.

Kami adalah saudara seperguruan dan kami sama-sama mereguk ilmu dari Parasurama.

Dan tubuhku menjadi rusak tidak karuan?

Lihatlah aku. Meskipun tidak setampan ketika masih muda, setidaknya hidungku masih seperti dulu, tanganku masih sehat, mataku masih setajam elang, dan aku masih mampu berjalan tegak.

Aku memang bukan ahli sastra, yang mampu menuliskan kisah para kesatria yang dipercaya manusia di seluruh arcapada.

Jadi, aku tidak bisa menyusun kisah baru untuk menghadapi kisah- kisah sampah yang entah bagaimana diyakini kebenarannya.

Dengan Brahmastra, akan kubuktikan Drona yang sebenarnya.

Tunggu saatnya, aku akan hadir di medan Bharatayudha, melalui kerja yang nyata, bukan dengan kisah-kisah sastra. (*)

Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Minggu (27/9/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline

//

#IlmudanTeknologiVIDEO: FENOMENA ALAM.. ADA PELANGI MULTI WARNA... BACA..http://bit.ly/1j00J27Dengan cepat kemudian menjadi sensasi internet...

Posted by Tribun Jabar Online on Sunday, September 20, 2015
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved