Coffee Break
Sang Play Boy
TAK lama setelah Putri Diana dan Pangeran Charles bercerai pada 1996, Donald Trump membanjiri Diana dengan buket-buket bunga berharga ratusan pounds.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
TAK lama setelah Putri Diana dan Pangeran Charles bercerai pada 1996, Donald Trump membanjiri Diana dengan buket-buket bunga berharga ratusan poundsterling. Trump memang dikabarkan tergila-gila kepada Diana dan sempat menganggap sang putri sebagai "istri yang layak diperebutkan". Padahal, saat itu ia belum lama menikahi mantan ratu kecantikan Marla Maples.
Senangkah Diana menerima banjir bunga dari lelaki yang digilai banyak wanita cantik itu? "Apa yang harus kulakukan? Ia membuatku takut," ucap Diana kepada seorang teman baiknya.
Mungkin itulah sebabnya Trump sangat kehilangan tatkala Diana meninggal pada 1997. Bagi play boy macam Trump, tampaknya cinta yang bertepuk sebelah tangan akan membuat seumur hidup penasaran. "Aku hanya punya satu penyesalan atas wanita—aku tidak punya kesempatan untuk mengajak Lady Diana Spencer kencan. Aku bertemu dengannya dalam beberapa kali kesempatan. Dia begitu menggugah sekelilingnya. Kehadirannya begitu memukau. Dia adalah Putri Sejati, impian tiap orang," ujar Trump dalam bukunya, Trump: The Art of the Comeback.
Trump memang play boy meski bertampang "enggak ganteng-ganteng amat". Julukan play boy memang melekat pada lelaki yang tidak harus ganteng. Ada candaan yang menyebutkan bahwa uang dapat membuat seorang pria kelihatan tampan. Boleh jadi Trump, selain karena uang, memiliki karisma yang membuatnya gampang menaklukkan wanita.
Wanita pertama yang takluk di hadapan Trump bernama Ivana Marie Zelnickova, mantan model dan atlet kelahiran 1949. Trump menikahi Ivana pada 1977 dan mereka dikaruniai tiga anak, yaitu Donald Jr (lahir 1977), Ivanka (1981), dan Eric (1984).
Namun, saat masih menjalin pernikahan dengan Ivana, Trump berselingkuh dengan Miss Georgia Marla Maples. Trump pertama kali kenal dengan Maples pada 1985 saat Maples baru berusia 21 tahun dan Trump sudah 39 tahun. Keduanya bertemu di sebuah turnamen tenis di Atlantic City. Dua tahun kemudian, Trump secara rahasia menjalin hubungan dengan Maples dan mulai menghindari Ivana.
Ivana, yang mengetahui perselingkuhan itu, menumpahkan kemarahannya kepada Maples dan membentaknya untuk menjauhi pria yang telah hidup bersamanya selama 15 tahun itu. Maples menanggapinya dengan ringan. "Saya sangat mencintainya," katanya.
Apakah Maples satu-satunya kekasih Trump saat itu? Terungkap kemudian bahwa sang play boy sempat putus dengan Maples dan menjalin hubungan dengan wanita lain: Carla Bruni. Trump dikabarkan sempat mengencani Bruni karena wanita itu dianggap memiliki segala hal yang dibutuhkan seorang pria kaya. Namun, hubungan mereka hanya bertahan beberapa hari sebelum Trump kembali ke pelukan Maples.
Pada 1992 Trump dan Ivana bercerai. Trump kemudian menikahi Maples pada 1993 dan memiliki satu anak, Tiffany, yang lahir pada tahun itu juga. Namun pernikahan mereka hanya bertahan hingga 1999.
Pada 2004, saat berusia 58 tahun, Trump melamar Melanija Kanvs, seorang supermodel kelas dunia, yang saat itu berusia 34 tahun. Melanija, sarjana arsitektur asal Slovenia yang menguasai empat bahasa, pernah berpose tanpa busana di majalah-majalah mode. Ia memiliki bisnis di bidang perhiasan dan kecantikan yang bisa menjaminnya tetap menjadi wanita paling mewah dan cantik di AS. Mereka menikah pada 2005 dan memiliki satu anak yang lahir pada 2006.
Kabarnya, tim sukses Trump dalam upayanya menuju kursi nomor satu di AS beranggotakan banyak wanita cantik. Salah satu di antaranya Ivanka, anak Trump dari Ivana. Trump kabarnya menurut apa pun kata-kata Ivanka. Bahkan Trump mengatakan, jika Ivanka bukan anaknya, ia mungkin memacarinya.
Beberapa wanita lain yang berada di lingkaran kampanye Trump adalah Sarah Palin, mantan gubernur Alaska; Ann Coulter, komentator konservatif yang mengaku sangat menyukai apa pun yang dilakukan Trump ("Saya tidak peduli jika Donald Trump akan melegalkan aborsi di Gedung Putih setelah kebijakan imigrasi ini," katanya); dan Tana Goertz, salah satu kontestan dalam ajang binaan Trump, The Apprentice.
Apakah Trump bermain mata dengan wanita-wanita lain? Belum ada kabar mengenai hal itu. Namun, kalau saja masyarakat AS masih memegang prinsip kejujuran dalam pernikahan, seperti yang mereka tunjukkan tatkala mengecam skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinsky, peluang Trump untuk menjadi presiden pasti berat.
Lepas dari persoalan itu, Trump boleh saja digilai banyak wanita, tapi apakah ia digilai banyak pria juga? Mungkin perlu penelitian untuk menjawabnya. Namun, setidaknya dua nama ini boleh dicatat sebagai penggemar berat Trump: Setya Novanto dan Fadli Zon. (*)