Sorot

Bisikan Setan

Kita sedang menghabiskan waktu untuk bermain-main menunggu kematian tiba.

Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR
Dicky Fadiar Djuhud, Wartawan Tribun 

SEMUA sisi kehidupan kita sudah palsu. Setidaknya demikian dari kaca mata dan amatan saya. Buktinya? Ada.

Setan bilang kepada saya: "Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan Setan sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan.

Sangat tidak memiliki ketegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai Setan.." Capai sih tidak. Setan pun modern, tentu punya simpanan tenaga semacam power bank. Kalau habis tenaga, tinggal colok saja.

Mungkin, Setan merasa sudah tidak ada lahan untuk diganggu. Setan pun kini mengalami krisis, pengangguran, logika, nalar, dan memang tak ada hati.

Hanya bisa mendengus dari napas yang mengeluarkan bara api. Karena apa yang ada di sekitarnya sudah seperti apa yang diinginkan, malah sebagian menyerupai kesetan-setanan.

Bahkan dengan bangga, sebuah klub sepak bola menyebut dirinya Setan Merah dan kita bangga menjadi pendukung mereka.

Dalam Kitab Suci dari agama yang saya yakini, disebutkan: "Dan ketika dikatakan kepada Malaikat: Bersujudlah kepada Adam, maka bersujudlah mereka, kecuali Iblis, karena sombong dan lalai."

Diam-diam dibisikkan kepada saya oleh Setan: "Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini saya nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turunan Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis.."

Kita sedang meyakini bahwa kita adalah manusia, makhluk sosial, warga negara Indonesia, bagian dari masyarakat dunia, kaum profesional, ulama, anggota parlemen, pejabat, aktivis ornop, golongan intelektual atau apapun.

Tetapi itu semua adalah termin-termin yang sangat materiil, baku dan elementer. Sesungguhnya kita tidak benar-benar mengenali diri kita pada atau sebagai dimensi-dimensi yang lebih substansial.

Kita, pada konteks tertentu, dan itu sangat serius dan merupakan mainstream: mungkin sekali adalah boneka-bonekanya Setan. Kita hanya robot yang diremot oleh kehendak Setan. Kita hanya instrumen dari kemauan-kemauan Setan.

Anda mungkin menganggap saya main-main retorika. Tidak. Ini sungguh-sungguh. Jangan mengandalkan ilmu pengetahuan baku dari sekolah dan universitas, sebab penelitian-penelitian di wilayah itu tidak akan sampai pada hipotesis, identifikasi atau invensi tentang Tuhan, Malaikat, Iblis, Jin danlainnya -yang sesungguhnya merupakan wujud nyata sehari-hari kehidupan kita.

Kita sedang menghabiskan waktu untuk bermain-main menunggu kematian tiba. Mainan kita namanya Negara, Demokrasi, Jatigede, Pilkada, clean governance, pengajian, tausiyah, mau'idhah hasanah, band dan lagu-lagu, tayangan dan sinetron. Semua itu tidak benar-benar kita pahami bahwa bukanlah kita subyek utamanya.

Toh, di belahan bumi sana ada Setan yang punya KTP. Sudah tak mengejutkan, cenderung biasa. Malah jadi semacam pembenaran di tengah miskin keringnya jiwa yang kerontang. Menjadi kebanggaan, mewakili orang tua yang telah kuasa memberinya nama. Pun dijunjung atas nama kesakralan, keagamaan, keleluhuran, keyakinan, kemasalaluan.

Di belahan dunia lain pun demikian, ada nama Setan. Bangga. Tak acuh. Begitu pun nama Tuhan, entah disadari atau tidak sang empunya nama.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Tags
Sorot
Nama
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved