Coffee Break

Penilaian Kwik

SUDAH lama saya mengagumi Kwik Kian Gie, orang yang pasti sudah ngelotok, paham di luar kepala, ihwal kondisi ekonomi negeri ini.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan

SUDAH lama saya mengagumi Kwik Kian Gie, orang yang pasti sudah ngelotok, paham di luar kepala, ihwal kondisi ekonomi negeri ini. Saya selalu mengikuti analisis-analisisnya yang setajam silet di media massa. Ketika Kwik menjadi Menteri Koordinator Ekonomi (1999-2000), kemudian Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua Bappenas (2001-2004), saya berharap besar kondisi ekonomi negeri ini akan membaik setelah terpuruk diguncang krisis 1998.

Apakah ekonomi negeri ini makin membaik setelah itu, pastilah pengamat ekonomi yang bisa menjawabnya dengan tepat. Dalam hal pemahaman mengenai ilmu ekonomi, da saya mah apa atuh. Hanya saja, pendapat Kwik sendiri, di sebuah stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu, menyiratkan bahwa kondisi ekonomi bangsa ini belum juga menggembirakan.

Tatkala dipancing reporter televisi itu dengan perumpamaan lampu hijau, lampu kuning, dan lampu merah, Kwik mengatakan bahwa saat ini kita bukan hanya berada di lampu merah lagi, tetapi sudah "mengalami penderitaan yang luar biasa".

Bagi saya, ungkapan Kwik ini terdengar ekstrem, berbeda dengan kata-kata yang dipakai pengamat lain yang umumnya sebatas memakai kata "krisis". Sayangnya, saya tidak sempat mengikuti penjelasan Kwik mengenai apa yang dia maksudkan "mengalami penderitaan yang luar biasa".

Penilaian bahwa negeri kita sedang mengalami krisis bukan hal baru. Sejak gejolak moneter pada 1997-1998 sampai saat ini, negeri kita selalu disebut dalam keadaan krisis. Sejumlah kriteria kerap disebutkan untuk memberikan penegasan: melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS, naiknya harga bahan bakar minyak (yang selalu diikuti naiknya harga-harga berbagai komoditas), turunnya ekspor, dan lain-lain.

Pertanyaannya, benarkah kita sedang "mengalami penderitaan yang luar biasa" seperti kata Kwik? Bukannya saya hendak membantah bahwa rakyat Indonesia sedang mengalami krisis. Saya hanya ingin membandingkan penilaian Kwik dengan kehidupan kasatmata sehari-hari masyarakat negeri ini.

Hampir tiga belas tahun lalu saya menulis kolom dengan judul "Tak Ada Krisis di Tahun Baru". Saya memulainya dengan pertanyaan sinis "Siapa bilang negeri kita sedang dilanda krisis?" Padahal, waktu itu, "negeri ini telah lima tahun digempur krisis terus-menerus sehingga ekonomi kita ambruk dan sulit bangkit lagi."

Di plaza-plaza, mal-mal, dan supermal, tulis saya waktu itu, tak ada krisis. "Yang ada adalah kemakmuran. Wajah-wajah yang penuh senyum dan tawa riang. Berbusana gemerlap karya desainer-desainer utama yang sering secara sengaja memperlihatkan bagian-bagian tertentu badan, berhias permata bertatahkan intan-jamrut-dan-berlian. Bersepatu mengilat merek Gina, Charles Jourdan, atau setidaknya produk Italia lainnya. Berarloji Piazza, Rado, atau Rolex berlapis emas. Menyemburkan harum Etienne Aigner, Nina Ricci, atau Estee Lauder. Menenteng Nokia 9210i, Siemens CL50, atau setidaknya Ericsson T68.

... Mereka keluar-masuk toko dan body shop dengan rona yang berbunga-bunga. Bercanda dengan tawa renyah sambil menikmati orange juice dan chicken crispy di California atau Kentucky.... Jalan raya di Indonesia adalah show room terpanjang di dunia. Dari Kijang, Hyundai, Feroza, Blazer, Mercedes, hingga Lamborghini bukanlah pemandangan yang aneh."

Itu tahun 2002, ketika negara kita dipimpin Megawati. Nah, tinggal ganti saja merek-merek Nokia 9210i, Siemens CL50, atau Ericsson T68 dengan ponsel keluaran terbaru tahun ini, maka ilustrasi tiga belas tahun lalu itu tampaknya masih dapat menggambarkan situasi sekarang.

Kemarin siang, saya menonton berita di televisi tentang Kompas Travel Fair 2015 di Jakarta Convention Center, Senayan. Layar televisi kemudian memperlihatkan padatnya pengunjung pameran yang berlangsung hingga 30 Agustus ini, yang menawarkan berbagai promo tiket, tujuan wisata dalam dan luar negeri, hingga hotel.

Angka lain yang akurat bisa dilihat dari terus meningkatnya pendaftar haji dari tahun ke tahun. Menurut kabar terakhir, jika tahun ini Anda mendaftar naik haji melalui ONH biasa, daftar tunggunya tidak kurang dari sembilan belas tahun. Jadi, jika sekarang Anda berusia 40 tahun, baru pada usia 59 tahun Anda berangkat naik haji.

Meriahnya plaza-plaza, mal-mal, dan supermal, riuhnya jalan raya dengan banyak mobil baru, membeludaknya pameran wisata ke luar negeri, dan makin panjangnya antrean naik haji hanyalah beberapa contoh fenomena yang, di mata saya, bertabrakan dengan penilaian krisis negeri ini, apalagi dengan pendapat Kwik "mengalami penderitaan yang luar biasa".

Namun, di sisi lain, saya tentu tidak dapat mengatakan negeri ini sedang gemah ripah loh jinawi. Di sebuah negara makmur, mata uangnya pasti sekokoh batu karang dan daya beli rakyatnya setinggi awan.

Menurut Anda, apakah Kwik benar? (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved