Cerpen Teguh Affandi
Kursus Menulis
MULA-mula kujawab dengan menggeleng. Malu. Karena aku belum bisa menulis tema sosial kesukaannya.
"Sudah ada perkembangan?"
Aku mengiyakan. Bagaimanapun kejamnya JA mengomentari, selalu ada pelajaran baru yang diberikannya. Benar kata pepatah, dari kerasnya batang tebu tersimpan sari gula manis. "JA selalu mengatakan menulis cerita harus ikut merasakan. Kalau ingin cerita orang melarat, harus pernah merasakan kelaparan. Sebulan ini aku absen ketemu JA. Aku berjanji akan menemuinya dengan cerita paling fenomenal."
"Seperti semadi, kemudian turun gunung?" MD tertawa. Bila tertawa keras, matanya hampir tidak terlihat.
"Mungkin besok aku akan bertemu dengan JA."
"Lalu, apa yang kamu tulis dalam cerita pendekmu?" tanya MD.
Aku menghela napas.
"Judul cerita pendekku 'Calon Penulis Berhak Bahagia'."
MD membelalakkan mata. Jelas sekali dia dibakar rasa penasaran.
"Tentang apa?"
"Calon penulis! Dia sedang berguru kepada penulis senior, kondang, dan disegani. Tapi sang mentor begitu kejam. Mentor itu begitu ringan tangan, melempar apa saja kepada si calon penulis. Cerita si calon penulis buruk dan tidak memenuhi ekspektasi mentor. Berkali-kali si calon penulis menulis, sebanyak itu pula kepalanya harus rela ditimpuk benda apa saja. Hingga kekesalan itu memuncak dan berjanji akan menulis paling bagus."
Aku berhenti sejenak mengatur napas.
"Lalu calon pengarang itu memutuskan untuk mengisahkan seorang mentor menulis kejam dan mati dibunuh oleh anak didiknya."
MD agak kebingungan. "Apa yang kamu tulis itu?"
"Cerita."
MD tergeragap. Kesadarannya mendadak mencuat seperti kecambah kecapi menyesak di sela-sela tembok.
"Apa JA baik-baik saja?" tanya MD, kemudian gegas lari terburu-buru menuju rumah JA.
***
Catatan:
*) Diolah dari kalimat Terence Fletcher dalam film Wiplash