Coffee Break
Rupiah
DI sebuah grup di WhatsApp, kemarin, seorang teman menulis anekdot begini: "Presiden segera memberikan tanda penghargaan kepada dirut Bank Mandiri...
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
DI sebuah grup di WhatsApp, kemarin, seorang teman menulis anekdot begini: "Presiden segera memberikan tanda penghargaan kepada dirut Bank Mandiri karena capaian kurs dolar Amerika Serikat hari ini sama persis dengan call center Bank Mandiri 14000."
Membaca pernyataan itu, Anda mungkin tertawa, atau setidaknya tersenyum, bercampur dengan rasa masam, atau malah pahit. Anekdot ini, seperti lukisan karikatur, memang mengandung sindiran dan olok-olok meskipun disampaikan dalam bentuk kisah singkat yang lucu. Mungkin juga tersirat rasa frustrasi atau putus asa, tidak tahu lagi apa yang harus kita lakukan menyikapi nilai uang kita yang terus merosot terhadap dolar AS.
Beberapa hari lalu beredar meme yang menggambarkan ucapan rasa syukur karena "satu dolar Amerika sudah di bawah Rp 10.000." Pada meme itu ada foto tumpukan dua lembar uang, yakni selembar uang 1 dolar AS berada di bawah selembar uang Rp 10.000. Jadi, tentu saja bukan nilai kursnya, melainkan 1 dolar AS diletakkan di bawah Rp 10.000.
Meme ini juga menimbulkan efek lucu, mengandung sindiran dan olok-olok, karena dulu, ketika Jokowi terpilih menjadi presiden, banyak yang memprediksi bahwa nilai kurs dolar bisa di bawah Rp 10.000. Harapan seperti itu mengemuka karena Jokowi dianggap memiliki pengaruh signifikan terhadap pasar lantaran mendapat dukungan yang luar biasa dari rakyat.
Banyak lagi meme yang berkaitan dengan melemahnya rupiah. Salah satunya gambar lembaran uang seratus ribu rupiah dengan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta sama-sama menutupi wajah dengan kedua telapak tangan mereka. Ada lagi meme yang melukiskan Presiden Jokowi sedang tertawa berhadapan dengan seorang wanita polisi yang beberapa waktu lalu terkenal dengan kata-katanya "di sini kadang aku merasa sedih". Di bagian atas terdapat tulisan "dolar tembus angka 13.000" dan di bawahnya tertulis "Kok situ gak sedih-sedih?"
Dari beberapa contoh itu tersirat kekecewaan rakyat terhadap melemahnya rupiah yang terus- menerus, mulai ketika dolar menembus angka 13.000 rupiah dan belakangan menyentuh angka 14.000 rupiah, lebih khusus kekecewaan terhadap (pemerintahan) Jokowi. Mereka menganggap loyonya rupiah terjadi akibat banyak kebijakan Jokowi yang keliru.
Sebagian orang pun mengaitkan terpuruknya rupiah ini dengan berbagai prediksi menjelang pemilihan presiden pada 2014. Saat itu dolar berada di kisaran antara 11.000 dan 12.000 rupiah. Banyak analis yang memprediksi rupiah akan menembus hingga di bawah 10.000 rupiah jika Jokowi menjadi presiden, tapi sebaliknya akan menembus melewati angka 13.000 rupiah jika Prabowo menjadi presiden. Prediksi inilah yang kemudian dijadikan semacam "serangan balik" oleh para pendukung Prabowo bahwa ternyata Jokowilah yang menyebabkan rupiah terpuruk hingga menembus angka 13.000 rupiah.
Dengan kurs terakhir yang sempat menyentuh angka 14.000, makin kuat anggapan bahwa Jokowi telah gagal memperbaiki ekonomi Indonesia. Kalau rupiah merosot, apa pun bakal ikut merosot: terutama daya beli. Sebab, harga macam-macam komoditas menjadi tinggi. Lebih runyam lagi, harga tinggi dan barang langka. Daging sapi, lalu daging ayam, dan entah apa lagi kemudian.
Pengetahuan saya mengenai ilmu ekonomi hampir nol. Saya tidak pernah tahu mengapa nilai rupiah terhadap dolar selalu turun. Tidak hanya belakangan, tapi sejak era ketika saya baru memahami arti kata kurs. Saat itu satu dolar AS berada di kisaran angka 400-an rupiah. Nilai rupiah kemudian selalu merosot, tidak hanya karena dolar yang menguat, tapi juga lantaran kebijakan devaluasi.
Belakangan saya hanya punya pemikiran sederhana bahwa dolar adalah mata uang paling kuat di dunia, sesuai dengan posisi Amerika Serikat sebagai negara adidaya. Logikanya, sebagai mata uang terkuat, dolar (atau otoritas yang memiliki kekuasaan atas mata uang ini) dapat melakukan apa saja dalam kaitan dengan mata uang negara-negara lain di dunia. Sebaliknya, rupiah, sebagai salah satu mata uang yang lemah, nyaris tidak dapat melakukan sesuatu yang berarti untuk memperkuat diri.
Data yang dirilis Reuters pun menyebutkan bahwa kurs mata uang penting di dunia, termasuk euro, yuan, rupee, yen, won, dolar Singapura, baht, ringgit, dolar Taiwan, peso, dan dolar Brunei, sebagaimana rupiah, turun terhadap dolar selama kurun 1 Januari sampai kemarin. Apakah dengan demikian pemerintahan negara-negara itu dapat dianggap gagal memperbaiki ekonomi mereka?
Para ahli bilang pelemahan rupiah dipicu faktor eksternal. Faktor eksternal, kata analis valuta asing Lindawati Susanto, lebih dominan ketimbang faktor fundamental perekonomian dalam negeri.
Wallahualam.
Toh, apa pun yang terjadi pada rupiah, seperti kata Bang Rhoma, "Tiada orang yang tak suka, pada yang bernama rupiah, semua orang mencarinya, di mana rupiah berada...." (*)