Coffee Break
Rachma
Anak-anak Bung Karno memang memiliki nama-nama yang indah dan bermakna dalam. Sebut saja dua kakak dan dua adik Rachmawati...
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
KATA pramana bisa bermakna waspada, bijaksana, atau memperoleh pengetahuan yang benar. Mungkin harapan seperti itulah yang muncul ketika Bung Karno mendapat karunia anak ketiga dari istrinya Fatmawati, pada 27 September 1950. Bayi perempuan itu diberi nama Diah Pramana Rachmawati Soekarnoputri.
Anak-anak Bung Karno memang memiliki nama-nama yang indah dan bermakna dalam. Sebut saja dua kakak dan dua adik Rachmawati: Muhammad Guntur Soekarnoputra, Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri, Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri, dan Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra.
Saya mengagumi Bung Karno dan pernah berharap anak-anaknya dapat mewarisi kepemimpinan dan kedalaman ilmu sang Proklamator. Sayangnya, tidak demikian. Dulu saya bermimpi menyaksikan Guntur, yang memiliki wajah paling mirip dengan sang ayah, menjadi penerus untuk memimpin negeri ini. Namun, entah mengapa ia terkesan apatis terhadap dunia politik bangsanya. Yang kemudian melaju justru Megawati. Sayang, meskipun sempat menduduki kursi presiden, Mega dinilai masih jauh dari pencapaian bapaknya. Rachma, Sukma, dan Guruh malah masih di tataran bawah dibandingkan dengan Mega.
Perkara lain yang mengecewakan, setidaknya bagi saya, adalah kelima anak Bung Karno itu, alih- alih bersatu mengikuti jejak ajaran ayah mereka, malah lebih kerap berselisih jalan. Pada Pemilu 2004, misalnya, tiga putri sang proklamator tampil dengan partai sendiri-sendiri. Megawati dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Rachmawati melalui Partai Pelopor (PP), dan Sukmawati dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenis.
Berbeda pendapat adalah rahmat dan berbeda perahu bukanlah tabu. Namun jika kerap terjadi perseteruan di antara mereka, kita patut kecewa.
Khususnya Rachma, ia kerap secara terbuka mengkritik keras Mega, bahkan dianggap cenderung membenci kakaknya itu, tidak hanya ketika Mega menjadi presiden, tapi hingga sekarang. Pada acara haul Bung Karno, Juni lalu, Rachma menilai Mega sedikitnya memiliki lima dosa besar: Pertama, di zaman Mega berkuasa, UUD 1945 diamandemen dan menjadi berkarakter kapatalisitik liberal. Kedua, saat pemerintahan Mega pula, terjadi skandal megakorupsi BLBI dengan kerugian negara Rp 600-an triliun. Ketiga, sewaktu jadi ketua MPR, Taufiq Kiemas memproklamasikan empat pilar, padahal tak ada istilah Pancasila salah satu pilar negara, tetapi Pancasila adalah dasar negara. Keempat, Mega menggunakan simbol-simbol Soekarno, tapi ketika Soekarno dicabut hak politiknya, karena alirannya dianggap komunisme, Mega sebagai putrinya diam saja. Kelima, Mega salah memilih orang untuk menjadi presiden. Jokowi dianggap Rachma berseberangan dengan Bung Karno.
Saya bukan pengagum dan bukan pendukung Mega, tapi kritik pedas Rachma terhadap kakaknya secara terbuka rasanya gimanaaa gitu. Baiklah, baiklah, mungkin Rachma punya alasan kuat mengapa selalu berseberangan sikap dengan Mega. Rakyat banyak pun tampaknya tak terlampau peduli. Akan tetapi, rencana Rachma memberikan Star of Soekarno Award kepada Presiden Korea Utara, Kim Jong-un, rasanya sudah keterlaluan.
Ini alasan Rachma memberikan penghargaan kepada presiden termuda di dunia (32 tahun) itu: Kim Jong-un secara konsisten tetap melawan imperialisme yang sejalan dengan pemikiran Soekarno, yaitu antineokolonialisme-imperialisme.
Masa, sih, Mbak Rachma tidak tahu sepak terjang Kim Jong-un? Ia menghukum mati pamannya sendiri, Menteri Pertahanan Korea Utara, Hyon Yong-chol, hanya karena ketiduran dalam sebuah acara kenegaraan. Hukumannya, ditembak dengan rudal antitank dari jarak dekat. Ia juga menghukum pamannya yang lain, Jang Sung-taek, karena tuduhan korupsi, dengan cara melemparnya ke kandang berisi belasan ekor anjing ganas yang lapar. Jong-un pernah pula menghukum mati kontraktor, arsitek, serta ratusan orang lain yang dianggap terlibat dalam kebakaran 23 bangunan toko di Pyongyang.
Masih banyak korban lain kemarahan Jong-un. Mantan pacarnya, Hyon Song-wol, dipenjara karena kedapatan menulis pidato dalam sebuah pertemuan partai. Beberapa teman istrinya dikirim ke kamp tahanan karena ketahuan membuat film porno, sebuah tindakan yang dikhawatirkan bisa mencemarkan masa lalu istrinya yang mantan penyanyi bar itu.
Barangkali Rachma melihat sisi hebat perilaku Kim Jong-un yang tak dapat kita lihat. Tapi, ah, mestinya Rachma bersikap pramana, waspada, bijaksana, dan memiliki pengetahuan yang benar sebelum mempermalukan diri sendiri dan bahkan negeri ini, terutama karena memakai nama Soekarno dalam penghargaannya. (*)