Sorot

Siaga Kekeringan

CUACA terasa panas kering dan menyengat pada siang hari.

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Machmud Mubarok, Wartawan Tribun. 

MUSIM kemarau kali ini memang berbeda dengan musim sebelumnya. Tahun lalu, hujan masih turun di sela-sela kemarau, seolah tak ada bedanya dengan musim hujan.

Tapi tahun ini, hujan seolah menjauh. Tak ada hujan yang membasahi bumi.

Cuaca terasa panas kering dan menyengat pada siang hari. Di malam hari pun, terasa gerah, membuat tidur tak lelap karena tubuh kuyup dengan keringat.

Secara keilmuan, kemarau tahun ini berbeda karena ada penyimpangan iklim akibat gangguan El Nino, sehingga sebagian besar wilayah mengalami kekeringan dari biasanya.

Secara harfiah, El Nino berarti suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik sekitar equator (equatorial pacific) khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar pantai Peru).

Penyimpangan ini akhirnya berdampak penyimpangan kondisi laut hingga terjadi penyimpangan iklim.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung memprediksikan hujan tidak akan muncul setidaknya hingga akhir September. Artinya, kita masih harus bersabar hingga satu bulan ke depan untuk menikmati curahan air dari langit.

Sulit air memang membuat susah hidup. Di daerah Sindangbarang, kekeringan membuat warga harus berjalan kaki sejauh 8 km ke dalam hutan jati. Ya karena hanya di hutan itulah terdapat kolam air jernih yang airnya tak pernah habis.

Warga yang tinggal dekat dengan sungai mungkin masih untung. Walau sedikit, air masih bisa dijumpai. Berbeda dengan warga yang jauh dari sumber-sumber air. Perjuangan mereka untuk mendapat air kehidupan jauh lebih berat.

Tengok pula kekeringan yang menimpa lahan-lahan persawahan di seantero Jawa Barat. Puluhan ribu hektare sawah mengering, ratusan ribu hektare lainnya siap menyusul. Akhirnya yang terjadi adalah gagal panen, karena padi tak berisi alias puso.

Jika gagal panen yang terjadi, tentu urusannya dengan ketersediaan pangan. Kalau stok pangan kurang, bisa muncul kelaparan. Dari kelaparan, merambat ke persoalan sosial, terjadi kriminalitas, dan sebagainya.

Itulah yang membuat Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan siaga bencana kekeringan. Tujuan tentu sebagai ancang-ancang mengatasi dan membantu kemungkinan munculnya bencana akibat kekeringan ini.

Tak hanya membantu menyediakan pompa air untuk menyedot air dari sungai ke sawah, sejumlah pemerintah daerah pun menggelar salat istisqa, salat meminta hujan. Bahkan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengaku akan terus menggelar salat istisqa sampai hujan kembali turun.

Di balik semua itu, sesungguhnya ada nilai spiritual yang harus selalu kita lakukan setiap saat, yaitu bersyukur. Ketika musim hujan, kita sering mendumel karena hujan selalu turun nyaris tiap hari.

Sangat jarang orang mengucapkan kata alhamdulillah ketika hujan turun. Begitu pula ketika kemarau tiba, orang lebih banyak membicarakan kesulitannya mencari air ketimbang manfaat lain dari musim kering.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved