Coffee Break

Kakaren Sampah

Iman pun menulis di postingan itu "B 17 BX Kijang Inova ini, Kamis 23 Juli, sampai empat kali membuang sampah dari jendela ke Lembang, memalukan!"

Kakaren Sampah
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SENIMAN Iman Soleh memposting di akun Facebook-nya sebuah foto mobil hitam yang dipotret dari belakang. Iman pun menulis di postingan itu "B 17 BX Kijang Inova ini, Kamis 23 Juli, sampai empat kali membuang sampah dari jendela ke Lembang, memalukan!" Sampai siang hari kemarin postingan itu mendapat 147 like, 376 share, dan puluhan komentar.

Mobil itu mungkin saja berisi pemudik yang sedang kembali ke Jakarta. Atau warga Ibu Kota yang sedang bertamasya di Lembang atau melewati Lembang. Sayangnya, Iman tidak memposting foto ketika penumpang di mobil itu sedang membuang sampah. Mungkin ia tidak sempat menangkap momen itu. Kalau saja bisa, foto itu akan jauh lebih kuat. Meskipun demikian, saya berharap pemilik, pengemudi, atau penumpang mobil itu akan melihat mobilnya diposting orang dan menjadi bahan cemoohan. Saya berharap ada efek rasa malu terhadap si pembuang sampah—kalau masih punya kemaluan, eh, rasa malu.

Dalam perjalanan dari Bumiayu ke Bandung, Jumat lalu, saya menyaksikan pemandangan yang berbeda dari perjalanan rutin saya dua minggu sekali. Hampir di sepanjang tepi ruas jalan besar, terutama yang dilalui para pemudik Lebaran, di mana-mana sampah bertebaran. Sampah-sampah itu bertumpuk terutama di tempat istirahat para pemudik: di sekitar pom bensin, di warung- warung dadakan, dan di rest area jalan tol. Ah, lebih tepat hampir tidak ada ruas jalan yang bersih dari sampah. Dari pemandangan itu kita dengan mudah membayangkan sampah-sampah tersebut dibuang begitu saja oleh para pengendara, baik ketika mudik ke kampung halaman maupun ketika balik lagi ke pengembaraan. Kita tidak tahu apakah itu bentuk ketidakpedulian karena sudah terbiasa ataukah mereka membuangnya kareana tidak tersedia tempat sampah yang memadai.

Di sungai-sungai, terutama yang melewati tengah kota, tak perlu dikatakan lagi. Di Cirebon, Jatiwangi, Kadipaten, dan seterusnya, permukaan sungai bukanlah air, melainkan tumpukan sampah. Saya yakin ruas-ruas jalan lain di sepanjang Pulau Jawa bernasib sama. Maka saya membayangkan jalanan dan sungai di Pulau Jawa adalah tempat sampah terpanjang di dunia.

Saya menyadari begitu banyaknya sampah selama di perjalanan itu sebelum melihat postingan Iman Soleh. Jadi, postingan itu memperkuat rasa sakit spontan saya melihat begitu banyak sampah dan begitu ringan orang membuang sampah sembarangan. Saya beberapa kali melihat penumpang mobil pribadi yang membuang sampah di jalan raya kota dan momen seperti itu memang menyakitkan. Sayang saya tidak pernah dapat menangkap kejadian itu melalui kamera.

Tentu saja saya bukanlah sufi dalam urusan sampah. Saya belum dapat membuang sampah secara semestinya, semisal memisahkan sampah organik dan anorganik atau memisahkan sampah yang dapat didaur ulang dan yang tidak. Saya juga kadang memilih membakar sampah. Namun, jika urusannya dengan membuang sampah di tempat umum, saya—dan pasti juga banyak orang lain—masih punya rasa malu. Bahkan bungkus permen pun biasanya saya masukkan ke saku baju atau celana sebelum saya menemukan tempat sampah.

Entah mengapa, tiba-tiba saya teringat kata kakarén. Kakarén—berasal dari kata kakarian, yang berarti sisa-sisa—biasanya diterapkan pada segala macam makanan sisa, terutama sisa hajatan dan Lebaran. Pada saat hajatan dan Lebaran biasanya segala makanan ada dan berlimpah. Khusus saat Lebaran, mungkin semacam "balas dendam" setelah sebulan menjalani puasa Ramadan. Lebaran di negeri ini adalah pesta makanan. Lalu, beberapa hari setelah Lebaran, umumnya tinggal sisa-sisa. Misalnya kacang goreng tinggal seperempat stoples, emping tinggal beberapa keping, atau opor hanya menyisakan kaki ayam. Kakarén itu dapat juga dibawa ketika kembali ke kota, untuk dihabiskan sendiri atau dibagikan ke tetangga.

Jadi, tumpukan sampah di sepanjang jalan itu bisa juga termasuk kakarén Lebaran, yang ditinggalkan para pemudik. Mereka mungkin saja tidak peduli telah meninggalkan begitu banyak kakarén berupa sampah. Itu bukan urusan gue. Lagi pula, sudah biasa terjadi sebuah pesta, tempat wisata, dan keramaian macam apa pun menyisakan banyak sampah. Kemarin saja sebuah media menulis: hanya di Taman Wisata Alam Tangkubanparahu selama tiga hari, Jumat (17/7) hingga Minggu (19/7), truk sampah mengangkut sekitar 48 ton sampah. Bisa dibayangkan berapa ribu—atau juta—ton sampah yang dihasilkan warga negeri ini di berbagai tempat wisata, di tepi- tepi jalan, di sungai-sungai, dan di mana pun, pada saat Lebaran.

Kakaren sampah mungkin hanya satu masalah. Masih banyak kakaren persoalan yang kita hadapi pasca-Lebaran. Kehidupan ekonomi banyak orang boleh jadi kembali ke titik nadir karena mereka memang mencari nafkah untuk dihabiskan di saat Lebaran—menunjukkan diri kepada warga kampung bahwa di kota mereka sukses.

Ah, itu cerita lama. Yang pasti, kehidupan akan berlangsung kembali seperti biasa: rutinitas kerja, kemacetan lalu lintas, hiruk-pikuk politik, kriminalitas, dan sebagainya.

Itu memang kakarén persoalan yang abadi. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved