Cerpen Mashdar Zainal

Di Halaman Masjid

PEREMPUAN tua itu duduk di bawah pohon sawo, di halaman masjid. Ia selalu datang setiap kali tiba wakthu salat zuhur dan asar.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Di Halaman Masjid 

"Dan membersihkan halaman sesekali," tambahku.

"Sepertinya kita harus mengusir perempuan itu supaya tidak meresahkan jemaah," yang lain mengusulkan pula. "Bukankah bisa saja, ia bermaksud mencuri sandal jemaah atau bahkan membawa lari kotak amal."

"Itu namanya berburuk sangka," ketua takmir mengingatkan.

"Jadi, bagaimana baiknya?"

"Selama ia tidak mengganggu, nyata-nyata mengganggu jemaah, menurutku tidak masalah," ketua takmir bersuara, penuh kebijakan.

"Ia sudah datang ke masjid, bukankah seharusnya ia ikut salat berjemaah?"

"Itu urusan dia dengan Tuhan, bukan urusan kita," tandas ketua takmir.

"Sebenarnya, saya juga merasa kurang nyaman ketika orang-orang melaksakan salat ia malah sibuk merapikan sandal," seorang jamaah mengungkapkan kegelisahannya. "Beberapa hari lalu, waktu saya ajak ke masjid, anak saya sempat bertanya, kenapa nenek-nenek itu tidak ikut salat dan malah merapikan sandal, dan saya tak tahu harus menjawab apa."

Semua terdiam.

"Saya akan coba bicara dengan perempuan itu lagi, besok," kata saya tiba-tiba, seperti ada yang menuntun. Mendadak pula tebersit ide ke dalam kepala saya untuk membawakannya sebuah hadiah. Hadiah yang mungkin dapat menggerakkan hatinya untuk ikut salat bersama kami.

Dan begitulah, esoknya, selepas salat asar, saya menemuinya di tempat biasa, di bawah pohon sawo kesukaannya. Di tangan saya, sebuah mukena baru siap kuhadiahkan untuknya.

"Apa kabar, Nek, sehat?" kata saya begitu sampai di hadapannya.

Seperti sebelumnya, perempuan tua itu menyambut saya dengan hangat. "Syukur, meski sudah tak muda lagi, saya masih bisa merapikan sandal-sandal itu dan sesekali membersihkan halaman ini," balasnya santai.

"Tapi apa yang Nenek harapkan dengan merapikan sandal-sandal itu dan membersihkan halaman ini?" pertanyaan yang tak saya rencanakan itu tiba-tiba muncul.

"Saya tidak mengharapkan apa pun. Saya hanya mengharapkan ketenangan dan kebahagiaan bagi diri saya. Dan melakukan kedua hal tersebut, menata sandal dan membersihkan daun-daun, cukup membuat saya tenang dan bahagia. Itu saja."

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved