Sorot
Mari Dag-dig-dug Bersama-sama
HARI ini, 21 Mei atau bertepatan dengan 9 hari lagi deadline yang diberikan FIFA kepada Menpora (29 Mei) untuk mencabut sanksi pembekuan PSSI.
Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
HARI ini, 21 Mei atau bertepatan dengan 9 hari lagi deadline yang diberikan FIFA kepada Menpora (29 Mei) untuk mencabut sanksi pembekuan PSSI.
Semua yang terlibat di dalamnya, Menpora-PSSI-KOI-KONI-Timnas-klub-pemain sudah pasti dag-dig-dug menunggu detik-detik jatuhnya sanksi.
PSSI dalam posisi tawar tinggi saat ini. Berada di pihak yang benar, PSSI bersikukuh kepengurusan hasil KLB Surabaya adalah kepengurusan yang sah yang harus diakui pemerintah. Jika sanksi turun, PSSI hanya bisa menyalahkan pemerintah karena keras kepala tak kunjung mencabut pembekuan.
KOI dan KONI jadi ikut-ikutan dag-dig-dug. Pasalnya, jika sanksi suspend dijatuhkan FIFA maka Indonesia tak bisa mengirimkan tim sepakbolanya ke SEA Games Singapura yang akan dimulai pada 29 Mei 2015. Bukan itu saja, jika suspend turun, maka cabor sepak bola tak bisa dipertandingkan di Asian Games Jakarta 2018.
Dipastikan karut-marut ini akan mempengaruhi timnas sepakbola SEA Games Indonesia yang tengah melakukan persiapan. Tim yang diarsiteki Aji Santoso ini dihadapkan pada situasi sulit karena bisa saja persiapan yang sudah dijalankan ini akan sia-sia jika FIFA tetap men-suspend Indonesia dari keanggotaannya. Secara psikologis para pemain timnas U-23 ini, sudah dipastikan terganggu.
Persib dan Persipura, termasuk suporternya, ikut dag-dig-dug. Babak 16 besar AFC Cup akan digelar pada 26-27 Mei. Jika keduanya menang dan lolos perempatfinal, sudah dipastikan keduanya otomatis didiskualifikasi karena pertandingan selanjutnya digelar setelah FIFA menjatuhkan sanksi suspend.
Pemain Liga Indonesia pun dalam situasi yang serba sulit. Gaji sudah tak lagi mereka terima.
Masih untung ada klub yang masih berbaik hati menggaji pemain meski hanya 25 persen dari nilai kontrak yang disepakati.
Klub pun kini dibikin bingung setelah kompetisi pramusim yang dimotori PT Liga Indonesia akhirnya batal terlaksana. Padahal, pembagian grup dan jadwal pertandingan sudah disusun rapi mulai 26 Mei.
Gara-garanya proses administrasi dipersulit BOPI yang merupakan kepanjangan tangan Kemenpora yang mengharuskan turnamen tersebut berada di bawah naungan Tim Transisi. PT Liga berkilah bahwa Tim Transisi bukanlah induk sepak bola di bawah FIFA.
Bagaimana dengan Tim Transisi bentukan Menpora? Mereka sudah bekerja setelah SK Menpora keluar Senin (18/5), meski kekuatan tim sedikit berkurang setelah beberapa orang "kuatnya" mundur dari tim, seperti Ridwan Kamil, FX Rudiyatmo, Velix Wanggai, Darmin Nasution dan Farid Husain.
Ketua Tim Transisi, Bibit Samad Riyanto, menegaskan, dirinya bersama 11 anggota tersisa siap menjalankan fungsi dan tugas PSSI yang telah dibekukan. Langkah awal yaitu menggulirkan kompetisi pramusim bertajuk Piala Kemerdekaan. Turnamen ini akan diikuti klub domestik dan juga klub luar.
Dengan percaya diri, Tim Transisi mulai membuka pendaftaran, tanpa memikirkan secara matang siapa perangkat pertandingannya dan apa ada klub yang mau bertanding di turnamen ini apalagi sanksi FIFA sudah menunggu, serta operator turnamen pun belum terbentuk sama sekali.
Mengenai kemungkinan sanksi FIFA jatuh, Bibit bersama Tim Transisi akan mendatangi FIFA sebelum Kongres FIFA digelar pada 28-29 Mei, untuk menjelaskan perihal kisruh sepak bola nasional.
Mereka pun akan menjelaskan alasan kenapa pemerintah mengambil alih PSSI.
Apakah langkah strategis dari Tim Transisi berhasil melobi FIFA hingga sanksi tak jatuh?