Sorot
Jujur dalam Kebencanaan
LONGSOR Pangalengan adalah peristiwa kesekian kali setelah sejumlah bencana serupa di Jawa Barat.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
BERITA duka datang dari Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Rabu (5/5/2015).
Empat orang dinyatakan tewas dalam musibah longsor di kampung itu. Sementara delapan orang mengalami luka-luka dan 5 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Penyesalan masih bergelayut dalam benak Asriyanti, warga setempat. Pada hari kejadian ia tak bisa membangunkan suaminya, Lukman, yang tertidur pulas.
Usaha penyelamatan tak terpikirkan olehnya. Dalam suasana panik, ia berusaha menyelamatkan diri beserta anaknya melalui pintu belakang rumah.
Rumah yang puluhan tahun mereka tinggali dalam beberapa menit telah rata dengan tanah tertimbun material longsor. Lukman pun ikut tertimbun.
Tim evakuasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung langsung menuju lokasi kejadian. Lukman belum meninggal.
Namun, ia mengalami luka berat dengan kondisi patah tulang di punggung, kaki, dan tangan.
Perih yang dialami Asriyanti adalah satu dari puluhan keluarga yang tertimpa longsor Kampung Cibitung.
Mereka kini mengungsi dan penuh harap bisa hidup lebih nyaman tanpa rasa takut terjadi bencana lagi.
Longsor Cibitung yang juga mengakibatkan ledakan pipa panas bumi milik PT Star Energy, rupanya sudah ada tanda-tandanya seminggu sebelum kejadian.
Warga setempat pun sempat mengungsi. Hanya saja, ada pihak yang meyakinkan bahwa retakan tanah itu tak akan menimbulkan bencana besar.
Maka warga pun kembali ke rumah.
"Katanya retakan tanah dekat pipa itu sudah aman. Memang lagi dibetulin juga. Karena sudah ada jaminan kita berani kembali ke rumah," kata Ain, warga setempat.
Padahal wilayah Pangalengan masuk zona rentan longsor karena sering terjadi pergerakan tanah.
Mengutip penyataan Kepala Badan Geologi, Dr Surono, dalam sebuah wawancara, pemerintah harus jujur mengatakan kondisi yang sebenarnya kepada masyarakat.