Coffee Break

Bola Tidak Bundar

SIAPA bilang bola itu bundar? Yang benar bola itu bulat. Itu juga kalau bolanya benar.

Bola Tidak Bundar
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SIAPA bilang bola itu bundar? Yang benar bola itu bulat. Itu juga kalau bolanya benar. Di lapangan hijau, bola memang bulat, dengan tekanan udara yang sudah tertentu. Namun, di luar lapangan, bola bisa berubah menjadi macam-macam bentuk, bisa lonjong, bisa benjol-benjol, bisa kempis, bisa seperti apa pun, tergantung siapa yang sedang memegangnya.

Begitulah, setidaknya, gambaran saya mengenai sepak bola negeri ini—sebuah potret menyedihkan yang tak juga berujung.

Ketika sepak bola negara-negara lain bergerak maju berkejaran meraih prestasi, sepak bola negeri kita terus saja jalan di tempat, bahkan mungkin berjalan mundur, dan ribet dengan konflik di antara kita sendiri. Yang terbaru, pecah perseteruan antara Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), yang didukung pemerintah (Kemenpora) dan PT Liga Indonesia, lembaga yang mengelola kompetisi Liga Super Indonesia di bawah PSSI.

Apa yang terbayang di kepala Anda mendengar nama Irak? Tak keliru kalau kita membayangkan Irak adalah sebuah negara yang hancur lebur, terutama sejak digempur tentara Amerika Serikat dan sekutunya lebih dari sepuluh tahun lalu, dalam sebuah perang yang sama sekali tidak seimbang. Namun, di tengah puing-puing kehancuran itu Irak masih mampu mengibarkan benderanya dengan menjadi juara Piala Asia 2007. Mereka mampu mempertahankan sukses tahun-tahun sebelumnya, antara lain juara Piala Bangsa-Bangsa Arab (1964, 1966, 1985, 1988), medali emas Asian Games (1982), dan juara Piala Negara-Negara Teluk (1979, 1984, 1988).

Jika Anda penggemar film perang yang melibatkan Amerika, sebut saja A Yank in Viet-Nam (produksi 1964), The Green Berets (1968), Apocalypse Now (1979), Missing In Action (1984), Platoon (1986), hingga Long Tan (2011)—sudah pernah dibuat tidak kurang dari 80 judul film berlatar perang di Vietnam—Anda pasti akan menyaksikan betapa hancurnya negara Vietnam akibat perang 18 tahun yang sesungguhnya dipicu keserakahan negara besar Amerika dan sekutunya melawan blok komunis di bawah Uni Soviet.

Namun dari reruntuhan akibat perang hampir dua dasawarsa itu, pelan tapi pasti, olahraga Vietnam, termasuk sepak bola, merayap maju dan kini selalu berada di depan Indonesia. Di SEA Games, jika berlangsung bukan di Indonesia, terutama selama 10 tahun terakhir, posisi negeri kita selalu di bawah Vietnam. Sepak bola Vietnam saat ini memiliki peringkat FIFA yang jauh di atas Indonesia. Vietnam juga pernah menjuarai Piala AFF, tahun 2008, sedangkan belum sekali pun tim Merah Putih sukses di ajang ini.

Jepang sekarang menjadi salah satu raksasa di Asia. Tapi tahukah Anda, ketika hendak memulai kompetisi profesionalnya, J-League, pada 1990-an para perintisnya melakukan studi banding ke Indonesia? Tidak salah. Saat itu mereka menganggap sistem kompetisi di Indonesia, Liga Sepak Bola Utama (Galatama), patut diterapkan di sana. Jangan lupa, salah satu pemain legendaris kita, Ricky Yacob, pernah bermain di klub Matsushita, Jepang.

Sayang, kemudian Galatama hancur, antara lain karena dualisme pembinaan sepak bola negeri ini, yakni Galatama dan Perserikatan, dan kini tinggal sejarah.

Beberapa waktu lalu, terjadi dualisme, disertai konflik yang panas, justru di kursi puncak PSSI. Dalam sejarah PSSI, baru terjadi pada saat yang sama terdapat dua ketua umum. Dualisme kepemimpinan ini memunculkan dua kompetisi yang masing-masing mengklaim sah: Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia, yang pada gilirannya memecah sejumlah klub menjadi lebih dari satu: Arema, Persebaya, Persija, dan beberapa lagi. Nah, dualisme klub inilah salah satu penyebab terjadinya konflik antara BOPI dan PT Liga.

Tampaknya kita lebih suka berantem daripada bersatu. Di lapangan hijau para pemain berkelahi. Di luar lapangan suporter baku hantam. Di level kepemimpinan orang-orang terbelah menjadi dua kubu. Tidak hanya di stadion dan di luar stadion, di gedung megah DPR para wakil rakyat saling pukul, minimal saling memaki. Anggota parlemen daerah dan gubernur bermusuhan. KPK dan Polri saling menjatuhkan.

Kita makin kehilangan kemampuan untuk mawas diri. (Hermawan Aksan)

Naskah sorot ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Minggu (12/4/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved