Jumat, 29 Mei 2026

Coffee Break

Siluman

KITA punya banyak sekali sebutan untuk makhluk halus. Sebut saja misalnya (menurut abjad huruf awal) balung, begu, belis, cengkedi, danyang, ...

Tayang:
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan

KITA punya banyak sekali sebutan untuk makhluk halus. Sebut saja misalnya (menurut abjad huruf awal) balung, begu, belis, cengkedi, danyang, datuk, dedemit, demon, gedembai, hantu, iblis, ifrit, jembalang, jin, kemamang, langsuir, lelembut, mambang, memedi, momok, orang bunian, orang halus, pejajaran, pelesit, penanggalan, penjaga, penunggu, puaka, roh jahat, serindai, setan, siluman, sundal bolong, dan tuyul. Kalau ada, Anda dapat menambahkan sebutan lain.

Mungkin menarik menelisik apa perbedaan jenis-jenis makhluk halus itu. Tapi pasti akan terlalu panjang untuk kolom pendek di sini. Lagi pula, tulisan ini hanya hendak menyinggung satu di antaranya: siluman.

KBBI memerikan dua makna bagi kata siluman. Pertama, sebagai kata benda, "makhluk halus yang sering menampakkan diri sebagai manusia atau binatang". Kedua, sebagai kata sifat, "tersembunyi, tidak kelihatan".

Sebagai kata benda, berupa makhluk, siluman konon tinggal dalam komunitas dan mendiami suatu tempat, melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari layaknya manusia biasa, dan mengenal peradaban. Siluman dapat berasal dari manusia biasa yang kemudian meninggalkan alam kasar, bisa juga memang sudah merupakan makhluk halus sejak awal. Pertemuan antara manusia dan siluman acapkali menjadi bagian dari cerita-cerita misteri yang digemari.

Salah satu mitos yang paling terkenal, terutama di Jawa, adalah cerita tentang Ratu Kidul. Banyak yang percaya bahwa sampai sekarang Ratu Kidul masih ada dan menguasai laut selatan. Ia diyakini masih sering hadir, bahkan berhubungan, dengan Sultan Yogya, Hamengkubuwono.

Di tatar Sunda, salah satu kisah yang melibatkan siluman adalah mitologi tentang Sangkuriang. Ketika mendapat tugas dari Dayang Sumbi untuk membuat perahu besar dan membangun danau dalam semalam, Sangkuriang mendapat bantuan dari pasukan siluman pimpinan Guriang Tujuh. Mereka membendung Citarum untuk membangun danau dan menebang kayu-kayu besar untuk membuat perahu. Kalau saja Dayang Sumbi tidak cerdik, Sangkuriang pastilah dapat menyelesaikan tugasnya.

Di Cina, satu di antara cerita yang terkenal adalah kisah Siluman Ular Putih, sebuah legenda tentang siluman ular putih bernama Bai Suzhen yang jatuh cinta kepada seorang pelajar bernama Xu Xian. Mereka bertemu di Jembatan Duan saat hujan turun dan Xu Xian meminjamkan payungnya kepada Bai Su Zhen. Keduanya saling jatuh cinta dan menikah. Namun, pada saat Festival Peh Cun, Bai Suzhen tidak sengaja meminum arak yang membuatnya berubah kembali menjadi ular putih raksasa.

Sebagai kata sifat, kata siluman sering dipakai misalnya pada pesawat siluman (bahasa Inggris: stealth aircraft), yakni pesawat yang dirancang untuk menyerap dan membelokkan radar menggunakan teknologi tertentu, yang membuat pesawat itu sulit dideteksi. Pada umumnya tujuannya adalah melancarkan serangan selagi pesawat itu masih berada di luar deteksi musuh.

Di laut juga ada kapal siluman (stealth ship), yaitu kapal yang juga tidak tertangkap radar. Kalaupun tertangkap, biasanya citra yang ditampilkan pada layar radar mirip kapal nelayan atau objek yang tidak membahayakan.

Namun kata sifat siluman yang sedang naik popularitasnya belakangan ini dipakai mengikuti kata dana. Dari KBBI, ada penjelasan mengenai contoh kata sifat siluman, yakni biaya siluman, yang artinya "biaya yang sulit dipertanggungjawabkan (seperti uang suap dsb)". Dari contoh ini kita bisa menjelaskan dana siluman sebagai "dana yang sulit dipertanggungjawabkan".

Popularitas istilah dana siluman naik ketika Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama melaporkan APBD DKI yang dianggapnya mengandung kejanggalan karena banyak proyek yang diselipkan di dalamnya yang diduga dilakukan oleh DPRD DKI. Nilainya fantastis: belasan triliun rupiah! Tindakan Gubernur Ahok melaporkan APBD itu menimbulkan perseteruan yang seru antara Ahok dan sejumlah anggota DPRD DKI.

KBBI sudah lama menyebut biaya siluman. Artinya, istilah ini sudah lama ada di masyarakat. Dengan demikian, biaya atau dana yang sulit dipertanggungjawabkan sudah lama terjadi di negeri ini. Sejak kapan? Ahli sejarah pasti dapat menjawabnya.

Siapa yang gemar membuat dana siluman? Ah, mereka manusia biasa, bukan siluman. Hanya saja, jangan-jangan manusia yang gemar membuat dana siluman lebih sakti daripada siluman sesungguhnya. Buktinya, mereka sulit ditemukan dan tampaknya makin berkembang biak bagai jamur di musim hujan. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved