Coffee Break

Brutus

Julius Caesar tak menyangka keponakannya itu bersekutu dengan sejumlah anggota Senat Roma untuk membunuhnya.

Brutus
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Brutus
"Et tu Brute?" Julius Caesar, penguasa Roma, memandang tak percaya sang keponakan. Kau juga, Brutus? Julius Caesar tak menyangka keponakannya itu, yang juga teman dekat dan rekan seperjuangan, yang ia anggap sebagai anaknya sendiri, bersekutu dengan sejumlah anggota Senat Roma untuk membunuhnya.

Dikisahkan dalam banyak literatur, semua itu bermula ketika Brutus, bersama senator yang lain, merasa tidak puas melihat perkembangan situasi Republik Roma di bawah kekuasaan Julius Caesar. Sang kaisar dianggap telah berubah menjadi diktator dengan menerbitkan sejumlah undang-undang yang mengukuhkan kedudukan dan kekuasaannya. Brutus juga telah dihasut tentang kemungkinan Julius Caesar ditahbiskan menjadi Raja Roma dan kembalinya sistem "monarki absolut" di Republik Roma. Dia memercayai cerita dan gosip tentang Caesar walaupun sebulan sebelumnya Caesar justru menolak menerima diadem (lambang monarki kuno) dari Marcus Antonius, ahli politik dan jenderal Roma serta orang kepercayaan Caesar.

Sekumpulan senator yang menentang kepemimpinan Julius Caesar menjemput sang kaisar ke suatu forum majelis perundingan kerajaan, untuk dipaksa membaca petisi palsu yang ditulis para senator itu. Petisi itu meminta Julius Caesar mengembalikan mandat kekuasaannya kepada Senat. Ketika mengetahui akal bulus dan siasat para senator pengkhianat itu, Marcus Antonius mencoba menghalangi sang kaisar di tangga forum untuk mengabaikan tuntutan para senator pembelot. Namun, para senator itu berhasil menghalangi Caesar ketika hendak melewati Teater Pompey dan menggiringnya ke sudut ruangan.

Saat Julius Caesar membaca dokumen petisi palsu di atas mimbar, salah seorang senator, Publius Servilius Casca, menarik lengan sang kaisar, lalu menikam lehernya dengan sebilah belati. Tindakan Casca itu kemudian diikuti oleh sekitar 23 senator lainnya. Sang kaisar mencoba menghindar dan meloloskan diri dari percobaan pembunuhan. Namun sayang, ia terempas dan jatuh. Dia tersandung jatuh berlumuran darah, tanpa daya, karena tikaman belati bertubi-tubi ke sekujur tubuh kekarnya. Dan dia pun ambruk ke lantai ruang majelis perundingan kerajaan yang tak jauh dari singgasana Republik Roma. Satu di antara senator yang menikamkan belatinya adalah Brutus.

Dalam dramanya Julius Caesar, Shakespeare melukiskan apologi Brutus di hadapan rakyat Roma sebagai berikut: "Jika di tengah-tengah kalian ada sahabat Caesar, padanya aku berkata bahwa cintaku kepada Caesar tak kurang daripada cintanya. Dan kalau sahabat itu membalas, mengapa Brutus menentang Caesar, inilah jawabku: bukan karena tak cinta kepada Caesar, melainkan karena cinta kepada Roma. Apakah kalian lebih suka Caesar hidup, sedangkan kalian semua mati sebagai budak, ataukah Caesar mati hingga kalian semua dapat hidup merdeka? Karena Caesar sayang kepadaku, aku menangis untuknya; karena dia beruntung, aku gembira; karena dia berani, ia kuhormati. Tapi karena dia gila kekuasaan, dia kubunuh...."

Judas Iskariot mungkin tak kalah dari Brutus tingkat pengkhianatannya. Judas mengkhianati Yesus untuk bekerja sama dengan pihak yang berkuasa, Roma. Sang murid itu mengkhianati Yesus demi sejumlah uang: ia mengatur tanda istimewa untuk memberitahukan identitas Yesus kepada yang berkuasa.

Tapi, sejarah mencatat Brutus sebagai salah seorang pengkhianat terbesar sepanjang masa, terutama jika pengkhianatan itu terjadi di seputar istana.

Di negeri ini Harmoko pernah diibaratkan Brutus. Pada era Orde Baru, belasan tahun Harmoko tak ubahnya pejabat kesayangan Presiden Soeharto. Pada 1998 Harmoko menjadi salah satu yang mengusulkan agar Soeharto kembali menjadi presiden, dengan alasan rakyat masih menghendaki. Sebagai Ketua MPR, Harmoko berhasil mengendalikan Sidang Umum MPR untuk memperpanjang masa kepresidenan Soeharto.

Namun kemudian demonstrasi besar-besaran mahasiswa dan masyarakat mendesak Soeharto turun takhta. Harmoko berbalik arah, mengeluarkan keterangan pers dan meminta Soeharto mundur: "Pimpinan Dewan, baik ketua maupun wakil-wakil ketua, mengharapkan demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri."

Apakah hari-hari ini ada Brutus juga di Istana Presiden RI? (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved