Coffee Break Hermawan Aksan

Pergantian Tahun

SEJUMLAH undangan untuk menghadiri acara malam tahun baru muncul di media sosial, baik secara langsung kepada saya maupun tidak langsung.

Pergantian Tahun
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SEJUMLAH undangan untuk menghadiri acara malam tahun baru muncul di media sosial, baik secara langsung kepada saya maupun tidak langsung kepada siapa saja. Di Kebun Seni, di area parkir Kebun Binatang Bandung, ada acara Seni Malam Tahun Baru 2015 bertema "Mari Bersalaman", mulai Rabu sore. Di sana akan ada baca puisi, teater, musik, dan pameran seni rupa. Akan hadir para seniman Kota Bandung. Pertemuan dengan teman-teman seniman selalu penuh keakraban dan pasti meletupkan banyak inspirasi untuk berkarya.

Seorang teman di Jakarta mengajak bermalam tahun baru nongkrong bareng di Monas. Acaranya: melihat kembang api. Yang mau ikut, kata teman saya itu, langsung datang di TKP, yaitu di Pizza Hut Jakarta Theater, pukul 9 malam. Teman saya ini seorang penulis dan pasti akan banyak penulis yang berkumpul di sana. Berkumpul dengan sesama penulis selalu memicu inspirasi untuk menulis karya yang baru.

Setiap orang pasti punya rencana ke mana menghabiskan malam tahun baru, momen yang terjadi hanya sekali dalam setahun. Setiap tempat wisata mengadakan acara yang diharapkan menarik banyak pengunjung. Hotel-hotel dan pusat-pusat perbelanjaan menyiapkan program khusus. Seribu satu pilihan menanti Anda.

Di mana Anda akan menghabiskan malam pergantian tahun?

Saya tidak akan ke mana-mana. Sudah bertahun-tahun—likuran tahun—saya memilih di rumah saja di malam tahun baru. Kalau waktunya bertepatan dengan kerja kantor, maklumlah seorang kuli di sebuah harian, saya akan menghabiskan malam di tempat kerja, lalu pulang setelah pekerjaan selesai. Mungkin saya masih sempat menyaksikan langit yang berhias kembang api dan mendengar terompet yang merepet-repet. Tapi saya akan langsung pulang ke rumah, tidak mampir dulu di mana pun.

Saya pernah pergi ke pusat keramaian malam tahun baru, likuran tahun lalu, sekadar untuk memenuhi rasa ingin tahu. Tapi saya tidak bisa menikmati kegembiraan di tengah puluhan ribu orang yang tampak begitu bersemangat menyulut kembang api, meniup terompet, berteriak-teriak, dan entah apa lagi. Dalam hati saya bertanya-tanya apa yang membuat mereka begitu senang.

Sekarang musim hujan. (Tentu saja setiap akhir Desember dan awal Januari adalah puncak musim hujan.) Peluang terjadi hujan pada malam tahun baru tetap besar. Setidaknya, tersisa gerimis setelah hujan besar siang dan sore harinya. Hujan sedikit saja akan menyebabkan banyak tempat terendam banjir cileuncang di dalam kota. Banjir cileuncang saja akan membuat kemacetan lalu lintas bahkan pada hari biasa. Di hari luar biasa, termasuk malam tahun baru, kemacetan akan jauh lebih parah. Apa yang menarik dari terjebak kemacetan berjam-jam di malam yang gerimis—apalagi hujan? Mengapa orang-orang senang berpesta, bahkan ketika hujan membuat sekujur tubuh mereka basah kuyup?

Demikianlah, saya tidak bisa membayangkan kegembiraan macam apa yang bisa dinikmati dari situasi terimpit di kepadatan manusia, di tengah hujan atau gerimis, dan dalam keadaan sulit mencari tempat parkir kendaraan. Dan semua itu kita hadapi setelah kita merogoh kocek lebih dalam daripada hari-hari biasa. Saya lebih suka tinggal di rumah, mungkin menonton televisi kalau ada acara yang bermutu. Jika tidak, saya lebih suka tidur dan membiarkan waktu terus melaju tanpa saya ketahui bahwa kalender lama sudah harus berganti dengan yang baru.

Kadang saya merenung, memeriksa kembali buku catatan saya mengenai apa yang telah saya lakukan selama setahun ke belakang. Tentu saja saya tidak melakukan semacam semadi atau mesu diri seperti para pertapa atau resi. Saya hanya becermin, melihat daki-daki yang masih menempel di sekujur tubuh. Kita memang selalu membersihkan diri setiap hari, tapi selalu saja masih tersisa daki lama dan kemudian menempel pula daki yang baru. Bukan tidak mungkin daki yang baru lebih tebal daripada daki yang lama. Kita mesti lebih sering, dan lebih intens, membersihkan diri.

Pasti akan saya temukan pula utang resolusi awal tahun lalu yang belum dapat saya lunasi. Apa saja: menulis novel, mengaji kitab suci, membuat taman kecil di depan rumah, dan seterusnya. Sedapat mungkin saya akan mencoba melunasi utang resolusi itu seraya membuat resolusi-resolusi baru.

Namun, apa pun yang kita lakukan, apakah ikut berpesta atau menyendiri, kita pasti berharap di tahun mendatang segalanya akan lebih baik. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved