Sorot

Negeri di Atas Air

BANJIR di titik terendah cekungan Bandung tersebut, bukanlah cerita baru.

Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

SEORANG lelaki berlari gontai mendekati sebuah rumah. Meski mentari siang itu menyengat hingga membakar kulit, si lelaki tak memerdulikannya. Dia terus berlari menuju rumah sederhana di negeri seberang.

Tepat di gerbang masuk negeri seberang tersebut, langkah lari si lelaki terhenti. Sejenak dia membungkuk sembari menghela napas panjang. Bukan segelas air putih segar yang menyambut kedatangannya kala itu, namun sambutan mata tajam dari penduduk negeri tersebut yang justru membuat rasa dahaganya bertambah.

Penduduk di negeri seberang tersebut, bertanya-tanya ada apa gerangan yang membuat si lelaki tersebut tergopoh-gopoh mendatangi negeri mereka. Apakah si lelaki tersebut membawa kabar gembira atau justru kabar akan terjadinya lagi peperangan? Semua pertanyaan itu seolah terpancar dari sorot mata mereka kepada si lelaki tersebut.

Belum selesai napasnya terengah-engah, si lelaki tersebut kembali berdiri dari bungkuknya. Dia kemudian mendekati seorang penduduk yang tadi terlihat memecingkan mata dan bertanya di manakah rumah Rasulullah. Dengan penuh senyum, lelaki tersebut diantar ke kediaman Baginda Rasul.

Setelah dipersilakan masuk, si lelaki tersebut kemudian duduk bersila di hadapan Rasul. Dengan wajah bercahaya dan tutur kata lembut, Rasul memersilakan si lelaki tersebut mengutarakan maksud dan tujuan menemuinya.

"Wahai Rasulullah, binatang ternak telah rusak (mati) dan jalan telah terputus (tertutup pasir gurun), maka berdoalah kepada Allah," ujar si lelaki tersebut menggambarkan situasi negerinya yang mengalami kekeringan yang cukup panjang hingga membuat penduduk mereka tersiksa.

Mendengar keluhan tersebut, Rasul kemudian berdoa kepada Allah dan tak begitu lama negeri tempat bermukim si lelaki tersebut diguyur hujan dari hari Jumat sampai ke hari Jumat berikutnya.

Jumat berikutnya, si lelaki tersebut kembali menemui Rasul dengan tergopoh-gopoh. "Wahai Rasulullah, rumah-rumah telah hancur, jalan-jalan telah terputus serta binatang-binatang telah rusak," ujar si lelaki menggambarkan keadaan banjir yang melanda negerinya saat ini.

Rasulullah kemudian berdoa: "ALLAHUMMA ZHUHUURAL JIBAALI WAL AAKAAMI WA BUTHUUNAL AUDIYATI WA MANAABITAS SYAJAR" (Ya Allah, lindungilah permukaan gunung-gunung, bukit-bukit, dasar-dasar lembah dan pepohonan)." Maka banjir air tersebut lepas dari Madinah sebagaimana baju yang terlepas dari pemakainya.

Sepenggal cerita tersebut dipetik penulis dari sari Hadits Riwayat Bukhari 15:6 dan Muslim 9:2, yang menggambarkan situasi banjir yang pernah terjadi saat zaman Rasul dulu. Tak berbeda jauh dari situasi banjir yang terjadi di kawasan Bandung Selatan saat ini ketika Sungai Citarum meluap. Tepat sepekan, banjir menjadi sahabat warga di sana di penghujung tahun ini.

Berbagai solusi coba diterapkan pemerintah untuk mengatasi banjir tersebut. Mulai dari pengerukan, penghijauan di wilayah hulu, pembuatan danau buatan di beberapa titik genangan, pemangkasan curug Jompong di Margaasih, pembuatan terowongan besar di sepanjang pinggiran sungai, hingga pembuatan kanal banjir, tapi semuanya itu tak kunjung terealisasi. Banjir tetap datang ketika hujan terus menerus menguyur cekungan Bandung.

Banjir di titik terendah cekungan Bandung tersebut, bukanlah cerita baru. Banjir memang sudah ada di kawasan tersebut sebelum rumah-rumah, tempat usaha dan perkantoran berdiri di sana seperti saat ini.

Sejak zaman kolonial, banjir sudah terjadi di kawasan Selatan ini. Terbukti pada 1810, Bupati Bandung saat itu, R.A Wiranatakusuma II, memindahkan Ibu Kota Bandung dari daerah Krapyak (Dayeuh Kolot) ke daerah Dalem Kaum yang sekarang jadi pusat Kota Bandung.

Kemudian pada tahun 1986, relokasi besar-besaran pun pernah dilakukan. Saat itu, pusat pemerintahan yang sedianya akan ditempatkan di Baleendah, terpaksa dipindahkan ke Soreang, padahal di sana sudah dibangun sarana prasarana penunjang, termasuk gedung DPRD yang sangat megah. Lagi-lagi penyebabnya karena datangnya banjir besar.  

Sekarang pemerintah berjanji lagi bahwa dalam lima tahun ke depan akan meminimalisir dampak banjir di kawasan tersebut. Artinya warga harus berteman lagi dengan banjir hingga lima tahun ke depan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved